Pemerintah Siap Produksi Massal Pesawat R-80

Industri Penerbangan

Kamis, 16/04/2015

NERACA

Jakarta - Pemerintah siap mendukung produksi pesawat lokal R-80 karya B.J Habibie. Pasalnya, pesawat perintis model ini dinilai paling cocok untuk kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan.

Menteri Perindustrian Saleh Husein mengatakan pemerintah segera mengundang perusahaan pemroduksi R-80, Regio Aviasi Industri, untuk membahas apa yang bisa dilakukan pemerintah. “Kita akan mensupport supaya terwujud,” ujarnya di Jakarta, Rabu (15/4).

Saleh menilai Indonesia sangat membutuhkan pesawat R-80. Indonesia, lanjutnya, membutuhkan pesawat tersebut dalam jumlah besar untuk menghubungkan seluruh Indonesia. “Kita punya pulau-pulau terutama Indonesia Timur dibutuhkan alat transportasi, apalagi yang kapasitas 80 penumpang (perintis). Menurut enginer yang datang pada kami, itu tipe yang dianggap cukup mutakhir,” tuturnya.

Seperti diketahui, Presiden RI ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie berharap Presiden Joko Widodo bisa memberikan dukungan untuk produksi pesawat ini. Habibie menargetkan, R80 bisa mulai beroperasi pada 2019 jika pemerintah memberikan bantuan. “Kami sudah lakukan studi kelayakan selama dua tahun di Amerika Serikat. Jawabannya ini. Ini yang paling tepat untuk Indonesia,” ujar Habibie.

Habibie mengklaim pesawat ini mampu bersaing dengan Boeing 777 dan cocok digunakan untuk tipe bandara khas Indonesia yang berbentuk kepulauan. Selain itu, R-80 lebih hemat bahan bakar dan perawatannya terbilang mudah.

Produk pesawat dalam negeri, the Regioprope atau R-80, yang diandalkan untuk penerbangan antarkota dan pulau, pemasarannya cukup dari dalam negeri sudah bisa menutup biaya produksi atau break event point (BEP).

Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) Ilham Akbar Habibie, selaku produsen pesawat R-80, menyatakan pesawat yang dirancang mantan Presiden BJ Habibie dan dirinya didedikasikan untuk penerbangan jarak pendek.

Karakter pesawat ini dapat dikendalikan secara elektronik (fly by wire), perbandingan antara angin yang dingin dihasilkan dari udara di body pesawat dengan angin yang dikeluarkan pada engine di belakang pesawat lebih tinggi (by pass ratio).

Dibandingkan Airbus dan Boeing, bypass ratio 12, sementara R-80 bypass ratio mencapai 40, makanya semakin tinggi terbang semakin cepat dan makin efisien bahan bakar. Adapun kapasitas penumpang sekitar 80 orang.

Karakter pesawat baling-baling tersebut, menurut Ilham, sangat cocok dengan kawasan maritime atau kepulauan di Indonesia dan cocok juga untuk penerbangan jarak pendek seperti penerbangan Yogyakarta-Semarang, Surabaya-Banyuwangi. Kemudian, pesawat demikian hanya memerluklan landasan pendek.

Menurut dia respon para pengusaha industri penerbangan dalam negeri sangat respek dengan produk R-80. Mereka sangat paham dengan kebutuhan pesawat untuk penerbangan jarak pendek dan biaya operasional yang murah, serta bahan bakar efisien, sesuai dengan karakter tarif rendah penumpang jarak dekat. “Dengan demikian, Saya bisa menjamin untuk mendapat BEP pesawat R-80, cukup dengan menjual pesawat di dalam negeri,” kata dia.

Dia berada di Yogyakart menjadi pembicara kunci dalam seminar Teknoin 2014 di Fakultas Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII). Putra mantan presiden BJ Habibie tersebut menyampaikan sejumlah perusahaan penerbangan telah menekan kesepakatan atau letter of inten (LOI) untuk pemesanan R-80, antara lain NAM Air (anak perusahaan penerbangan Sriwijaya Air), Trigana Air, Kalstar,dan sejumlah perusahaan penerbangan lainnya. “Mereka telah memesan 160 pesawat,” kata dia. R-80 diproduksi di PT Dirgantara Indonesia Bandung, diperkirakan terbang perdana 2018 dan proses sertifikasi kelaikan udara 2019. Adapun perawatan, menurut Ilham, ditempatkan di Batam.