Investor Masih Wait And See Beli Obligasi

Selasa, 14/04/2015

NERACA

Manado - Pengamat Ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Dr Joubert Maramis mengatakan, investor di Indonesia masih "wait and see" atau menunggu dan melihat kondisi untuk membeli maupun melepas obligasi karena ekspektasi suku bunga dan inflasi yang meningkat tajam,”Permasalahan saat ini adalah pasar atau investor masih "wait and see" untuk membeli atau melepas obligasi negara atau SUN karena adanya kecendrungan suku bunga dimasa depan yg diekspektasikan meningkat karena saat ini inflasi nasional dan daerah ada kecendrungan meningkat tajam," kata Joubert, di Manado, Senin (13/4).

SUN dan obligasi pemerintah adalah instrumen obligasi investasi jangka menengah dan jangka panjang serta low risk. Biasanya investasi riskless jangka panjang ini tidak terlalu dipengaruhi oleh volalitas pasar modal jangka pendek. Karakteristiknya memang berbeda dengan saham yang relatif volality, satu-satunya yang mempengaruhi kupon rate adalah suku bunga atau SBI.

Hal ini, katanya, dapat dilihat dari mulai merangkak naiknya harga barang dan jasa dipasar belakangan ini. Beberapa tarif dasar mulai naik. Nah, Joubert mengatakan kalau inflasi naik, maka suku bunga akan naik, maka ada dua kemungkinan bagi investor di SUN dan obligasi negara akan bertindak yaitu pertama dalam jangka pendek akan melepas portofolio SUN dan obligasi karena tidak menguntungkan lagi karena kupon rate lebih rendah dari SBI,”Ini bisa picu jatuhnya nilai obligasi negara dibawah atau nilai nominalnya," jelasnya.

Kedua, katanya, jika ekapektasi investor bahwa fluktuasi ini hanya jangka pendek dan stabil dimasa depan maka ia akan terus menahan obligasi dan SUN. Sebaliknya, Direktur Indonesia Bond Pricing Index (IBPA), Wahyu Trenggono pernah bilang, sampai dengan semester pertama tahun ini, likuiditas pasar surat utang atau obligasi baik itu pemerintah maupun korporasi di dalam negeri masih cukup positif menyusul ketersedian produk yang relatik baik,”Likuiditas pasar surat utang dalam negeri diyakini masih cukup positif,”ujarnya.

Menurutnya, pasar surat utang akan banyak di serap pasar, meski sepanjang tahun ini terjadi penurunan imbal hasil khususnya untuk obligasi pemerintah yang tercermin dari turunnya IndoBeXG-total return secara 'year to date' (ytd) di akhir bulan Maret ke level 5,72%.

Namun dia menambahkan, masih ada harapan di pasar ke depannya. Menurutnya, penurunan imbal hasil obligasi masih dinilai wajar karena ekspektasi kenaikan inflasi di dalam negeri menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Di sisi lain, lanjut dia, faktor depresiasi rupiah juga turut mengakibatkan penurunan likuiditas. Ketidakpastian sentimen mengenai kenaikan suku bunga AS (Fed fund rate) menjadi salah satu rupiah terdepresiasi sehingga membuat aksi "wait and see" investor,”Aksi investor itu terlihat dari menurunnya penawaran dari lelang SBN beberapa waktu lalu meski masih mencatatkan 'oversubscribed'," katanya. (ant/bani)