Antam Percepat Jadwal Rights Issue

Targetkan di Semester Pertama

Senin, 13/04/2015

NERACA

Jakarta - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam menargetkan proses penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue selesai pada semester I tahun ini,”Belum tahu kapan right issue, tunggu Penyertaan Modal Negara (PMN) cair. Rights issue harus tahun ini karena itu APBNP di agendakan tahun ini. Kita usahakan di semester I selesai proses di pemerintah,”kata Corporate Secretary PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, Tri Hartono di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan bahwa aksi korporasi tersebut dilakukan seiring dengan pemberian PMN ke perseroan sebesar Rp3,5 triliun dan Peraturan Pemerintah (PP) mengenai PMN. PMN akan diberikan dengan menyerap saham baru yang diterbitkan Antam.

Penyerapan dari negara, dia menjelaskan, masih lebih besar dari yang ditawarkan kepada public,”Tahun ini jika sudah keluar dana PMN, dari negara menyerap sebesar 65% sebesar Rp3,5 triliun, dan sisanya 35% ditawarkan ke publik atau Rp1,8 triliun," jelas Tri.

Sementara total dana yang dibutuhkan perseroan pada tahun ini sebesar Rp5,3 triliun, termasuk dari PMN. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai proyek feronikel di Halmahera Timur senilai US$ 1,6-US$ 1,7 miliar dan proyek anode slime senilai US$ 40 juta.

Kata Tri, pemerintah memastikan tidak akan melakukan privatisasi terhadap Antam. Hal ini menjawab tudingan politisi senior dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang menyebutkan ada empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan diprivatisasi, diantaranya Antam.

Dia mengungkapkan, hingga saat ini jumlah kepemilikan modal dari negara masih sebesar 65%. Menurutnya, perserpsi yang menyebutkan Antam diprivatisasi adalah keliru. Berdasarkan kepemilikan negara yang masih lebih besar daripada swasta,”Itu sepertinya salah privatisasi, hanya dapat Penyertaan Modal Negara. Kepemilikan pemerintah tetap 65%. Istilahnya kita tidak diprivatisasi,”ungkapnya.

Lanjut Tri, tidak ada kepemilikan saham yang akan dilepas kepada pihak lain termasuk asing. Adapun porsi publik saat ini sebesar 35%,”Tidak ada dilepas ke asing, 35% milik publik, ya. Sisanya masih tetap mayoritas pemerintah. Publik bisa domestik, bisa luar (asing), yang jelas penyertaan modal terbesar dari negara tahun ini," jelas Tri.

Selain itu, perseroan juga menyebutkan, total biaya eksplorasi preliminary di Maret 2015 mencapai Rp644,4 juta. Eksplorasi ini berfokus pada komoditas emas dan nikel. Adapun aktivitas kegiatan eksplorasi emas perseroan dilakukan di prospek Cimahpar-Pasir Jawa, prospek gunung Dahu, dan prospek Cimanganten yang ke semuanya berlokasi di wilayah Pongkor, Jawa Barat.

Saat ini, kegiatan eksplorasi nikel Antam di lakukan di Pomala, Sulawesi Tenggara. Kemudian kegiatan eksplorasi emas Antam di ketiga prospek tersebut yakni melakukan kegiatan pemboran, logging bor, percontohan, pemetaan geologi, dan pengukuran profil bor dan lintasan. Sementara itu, lanjut dia, untuk eksplorasi nikel yang dilakukan di daerah Pomalaa, meliputi pemetaan geologi detail, percontohan core, logging core, pengukuran grid, pemboran single dan triple, serta preparasi. (bani)