Dana Kelola VS Likuiditas Reksa Dana Indeks

Senin, 13/04/2015

Yoel Tanzil

Research and Business Development Manager

PT. PG Asset Management

Bagi para pelaku pasar modal, likuiditas menjadi salah satu pertimbangan dalam pemilihan instrument investasi baik itu investasi di saham, obligasi, maupun di reksa dana. Dalam hal ini penulis mencoba memberikan sedikit pencerahan akan hal pentingnya likuiditas dalam berinvestasi di pasar modal khususnya reksa dana.

Sebelum membahas lebih dalam mengenai likuiditas, penulis mencoba menjelaskan kembali pengertian akan reksa dana itu sendiri, menurut undang-undang pasar modal UU No. 8 Tahun 1995, pengertian reksa dana adalah “Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.” , dari pengertian tersebut maka Manajer Investasi berusaha untuk memaksimalkan kinerja dari portofolionya agar imbal hasil investasi dapat dinikmati oleh para investornya.

Selain mengejar imbal hasil (return), Manajer Investasi juga harus memperhatikan resiko portofolio investasinya. Salah satu resiko yang dihadapi oleh Manajer Investasi adalah likuiditas dari portofolio investasinya. Hal ini dikarenakan untuk mengatasi ketersediaan dana yang dibutuhkan jika ada nasabah yang ingin mencairkan dananya, khususnya dana yang ingin dicairkan berjumlah besar. Untuk mengatasi hal ini maka Manajer Investasi akan memilih saham-saham yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. Dalam menentukan saham-saham yang memiliki likuiditas tinggi dapat dilihat dari kapitalisasi pasar (market capitalization).

Penulis mencoba menjelaskan mengenai Asset Under Management (AUM) atau besarnya jumlah dana nasabah yang dikelola oleh Manajer Investasi. Masyarakat menilai bahwa Manajer Investasi yang memiliki nilai AUM yang kecil memiliki resiko likuiditas, secara umum masyarakat beranggapan bahwa Manajer Investasi yang mempunyai AUM yang rendah akan mengalami kesulitan dalam proses pencairan dananya. Hal ini tidak absolute benar, seharusnya calon investor harus melihat terlebih dahulu isi portofolio saham-saham dari Manajer Investasi tersebut jika mayoritas portofolio tersebut adalah saham-saham yang memiliki nilai kapitalisasi pasar yang besar maka hal ini tidak perlu dikuatirkan. Manajer Investasi yang memiliki saham-saham yang likuid, otomatis tidak akan menghadapi kendala likuiditas dikarenakan ketika Manajer Investasi ketika menjual sebagian sahamnya maka akan mudah terjual di pasar.

Saat ini sudah banyak Manajer Investasi menerbitkan reksa dana dalam bentuk reksa dana indeks saham (index fund), hal ini juga bertujuan untuk menjawab kebutuhan reksa dana yang memiliki likuiditas yang tinggi. Reksa Dana adalah reksa dana saham yang berisikan saham-saham dari sebuah indeks yang ada di Bursa Efek Indonesia, seperti indeks LQ 45, Bisnis 27, IDX 30 dan lain-lain yang dijadikan acuan (benchmark).

Boleh diperhatikan tingkat likuiditas sebuah reksa dana indeks sama dengan total nilai kapitalisasi pasar dari saham-saham yang tergabung dalam indeks tersebut. Pada umumnya nilai kapitalisasi pasar dari indeks acuan mempunyai nilai yang besar. Hal ini sangat membantu bagi Manajer Investasi dalam rangka mengurangi resiko tingkat likuiditas. Dengan demikian nasabah tidak perlu kuatir jika berinvestasi pada reksa dana indeks.

Dengan ulasan diatas, penulis ingin menyampaikan bahwa salah satu kelebihan dari reksa dana indeks adalah reksa dana indeks memiliki tingkat likuiditas yang tinggi sehingga investor tidak perlu lagi kuatir lagi mengenai jumlah AUM pada sebuah reksa dana indeks.