Terapi Tepat Dapat Mengurangi Kekambuhan Epilepsi

Walaupun epilepsi sudah dikenal sejak lama, namun hingga kini masih banyak masalah yang melekat pada penyakit ini. Salah satu masalah epilepsi adalah stigma terhadap Orang Dengan Epilepsi (ODE) dan mispersepsi terhadap penyakit kronis ini. Epilepsi dapat diobati dan dikendalikan sehingga ODE dapat hidup normal.

NERACA

dr. Fitri Octaviana Sumantri, SpS(K),M.Pd.Ked, Neurolog dari RSCM menjelaskan, seringkali penyebab epilepsi sulit ditentukan, oleh karena itu diagnosa harus ditegakkan dengan hati-hati setelah melalui anamnesis yang rinci. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan epilepsi antara lain adalah gangguan perkembangan otak yang dapat terjadi sebelum lahir (dalam kandungan).

Oleh karena itu antenatal care seperti gizi pada masa kehamilan sangat penting untuk diperhatikan. Di samping itu, perlu diperhatikan keadaan pada saat persalinan maupun setelah lahir. Keadaan-keadaan lain juga harus diperhatikan, misalnya trauma kepala (injury), perdarahan, tumor, infeksi otak atau infeksi selaput otak, faktor genetik serta gangguan metabolisme.

Epilepsi dibagi menjadi dua bagian berdasarkan jenis serangannya, yaitu epilepsi umum (kesadaran terganggu) dan epilepsi parsial. Jenis serangan yang termasuk dalam epilepsi umum adalah petit mal (Absence) dimana pasien tampak hilang kesadaran sesaat (bengong), lama biasanya hanya beberapa detik saja, grand mal (tonik klonik) berupa kejang kelojotan seluruh tubuh yang kadang disertai mulut berbusa, tonik yaitu serangan berupa kejang/kaku seluruh tubuh, atonik yaitu serangan berupa tiba- tiba jatuh seolah-olah tidak ada tahanan dan mioklonik, berupa kontraksi dari salah satu atau beberapa otot tertentu.

“Epilepsi bukan penyakit menular. Berbeda dengan yang muncul pada masa kanak-kanak, jenis ini cenderung menetap dan memerlukan pengobatan seumur hidup. Bangkitan pertama pada pasien dewasa harus dievaluasi lebih lanjut. Karena bangkitan yang baru terjadi 1 kali belum tentu didiagnosis sebagai epilepsi. Oleh karena itu perlu dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang seperti EEG, pencitraan otak (MRI kepala) serta pemeriksaan laboratorium,” kata dr. Fitri di Jakarta.

Agar ODE dapat memiliki kualitas hidup yang baik, dr. Fitri mengatakan, bangkitan epilepsi harus dapat terkontrol. Jika terjadi kekambuhan, maka harus dicari dengan teliti faktor pemicunya yang berbeda pada masing-masing ODE. Misalnya, pada perempuan yang berkaitan dengan perkembangan fisiologis sekundernya, yaitu pada masa pubertas, menstruasi (epilepsi katamenial), pada masa kehamilan, persalinan, menyusui, menopause, masa penggunaan kontrasepsi serta masa terapi sulih hormon. Di samping itu, harus dilihat apakah pasien patuh terhadap pengobatan karena hal ini menjadi sangat penting guna mengontrol serangan epilepsi.

Sementara itu, Neurolog Anak RSCM, DR. Dr. Irawan Mangunatmadja, SpA(K) mengatakan, manifestasi klinis epilepsi pada anak dapat bersifat aktif seperti kaku seluruh tubuh, ekstremitas bergerak-gerak ritmik beraturan atau anak tampak mengecap-ngecapkan mulutnya.

Serangan dapat pula bersifat negatif seperti anak tiba-tiba lemas seluruh tubuh atau aktifitas anak tiba-tiba berhenti kemudian anak tampak bengong. Jadi bila ada gerakan anak yang tidak seperti biasanya dan berulang maka kita harus curiga bahwa anak mengalami serangan epilepsi.

Serangan dapat berupa epilepsi fokal apabila serangan mengenai satu sisi badan, kepala atau mata berpaling ke satu arah. Serangan pada epilepsi umum berupa gerakan seluruh tubuh sisi kiri-kanan seperti kaku, klojotan atau lemas. Jadi tidak benar bahwa anak yang mengalami serangan epilepsi mulutnya harus berbusa. Apalagi ada anggapan bahwa air liur pasien epilepsi dapat menularkan penyakit epilepsi.

Related posts