Indosat Siapkan Belanja Modal Rp 7,5 Triliun

Danai Modernisasi BTS

Kamis, 09/04/2015

NERACA

Jakarta – Perusahaan telekomunikasi, PT Indosat Tbk (ISAT) menganggarkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp6,5 triliun-Rp7,5 triliun di tahun ini,”Range capex kita di tahun ini mencapai Rp6,5 triliun-Rp7,5 triliun," kata Presiden Direktur ISAT, Alexander Rusli di Jakarta, Rabu (8/4).

Menurut Alex, dana capex perseroan di tahun ini berasal dari kas internal perseroan. Dengan porsi sebesar 80% akan digunakan untuk modernisasi Base Transceiver Station (BTS),”Itu akan terjadi penambahan, karena masalah kapasitas dan densitas (kepadatan) itu terlepas ada LTE 4G atau tidak. Ini bagian natural 80% dana capex untuk itu," kata dia.

Modernisasi BTS itu dalam memperkuat sinyal, karena penggunaan telepon genggam sampai saat ini semakin banyak. Sehingga BTS yang dibutuhkan semakin banyak. Sisa dana capex sebesar 20%, lanjut dia, perseroan akan gunakan dalam keperluan modal kerja. "Sinyal kami masih gunakan seputar 2G dan 3G. Kedepan akan ada perluas jaringan, bakal menambah BTS,”ujarnya.

Kemudian ditengah depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, perseroan berupaya menekan eksposur penguatan dollar Amerika Serikat (AS) dan beban bunga akibat utang, terutama utang obligasi. Emiten halo-halo ini berencana melakukan pembayaran kembali utang (refinancing) atas surat utang berdenominasi dollar AS.

Utang obligasi yang dimaksud adalah Guarateed Notes yang jatuh tempo pada 2020, yang diterbitkan anak usaha perseroan, Indosat Palapa Company B.V (IPBV). Total nilai pokok surat itu sebesar US$ 650 juta dan bunga 7,37% per tahun. Bunga ini wajib dibayar setiap enam bulan. Pada notes ini melekat beberapa opsi pembelian kembali (buyback).

Diantaranya, jika buyback dilakukan sebelum 29 Juli 2015, perseroan bisa menarik kembali sebagian dari nilai pokok notes. Harga buyback setara dengan 100% nilai pokok notes ditambah premium tertentu. Jika pembelian kembali dilakukan setelah 29 Juli 2015, perusahaan bisa menarik seluruh atau sebagian pokok notes setiap saat dan sewaktu-waktu di harga tertentu.

Opsi lain, lanjut Alex, perseroan bisa buyback setiap saat pada harga setara dengan 100% nilai pokok ditambah bunga dan jumlah tambahan yang belum dan masih harus dibayar sampai dengan tanggal buyback. Opsi ini dilakukan jika terdapat perubahan tertentu yang mempengaruhi potongan pajak di Indonesia dan Belanda. Perseroan juga harus memberikan pengumuman minimal 30 hari atau lebih dari 60 hari jika ingin melakukan buyback dengan opsi tersebut.

Kata Alexander Rusli, pihaknya berencana melakukan refinancing notes tersebut di akhir tahun. Yang jelas, lanjut dia, strategi untuk menekan beban bunga adalah mengganti utang obligasi itu dengan pinjaman bergulir (revolving loan). Setelah itu, revolving loan ditutup dengan utang obligasi lagi dengan jangka yang lebih panjang. (bani)