Kemenperin Harap Industri Otomotif Berorientasi Pasar Dunia

Tingkatkan Kinerja Ekspor Lewat Kualitas

Kamis, 09/04/2015

NERACA

Jakarta - Direktur Alat Transportasi Darat, Ditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Soerjono mengatakan industri otomotif di Indonesia diharapkan membuat produk berorientasi global dengan standar emisi Euro 4 maupun Euro 5 dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja ekspor.

“Dengan produk yang sudah memiliki standar emisi Euro 4 maupun Euro 5, produsen bisa merambah pasar ekspor ke berbagai penjuru dunia. Kami harap, Isuzu bisa membuat produk ramah lingkungan dan mempunyai standar yang tinggi,” katanya kepada Neraca, Rabu (8/4).

Lebih lanjut Soerjono mengatakan dengan penjualan mobil yang mencapai 1,2 juta unit per tahun, menurut Soerjono, sebaiknya ekspor bisa separuhnya. Namun, mobil yang diproduksi harus sesuai dengan kualitas yang baik. “Minimal ekspor mobil 50% dari penjualan di pasar nasional, atau menyentuh 600.000 unit. Kinerja ekspor mobil akan menurun jika tidak membuat mobil yang sesuai dengan permintaan pasar global,” paparnya.

Soerjono memperkirakan, pada tahun depan kinerja ekspor akan menurun jika tidak membuka pasar baru dan membuat produk dengan standar keamanan yang memadai. “Produsen harus mencari pasar baru karena ekspor ke Timur Tengah tahun depan diperkirakan turun. Produk yang dihasilkan dari dalam negeri untuk dipasar global, konsumsi bahan bakarnya masih tinggi,” ujarnya.

Soerjono menaambahkan, harus dipikirkan kendaraan ramah lingkungan dan hemat bahan bakar serta mempunyai alternatif bahan bakar agar permintaan di pasar global semakin besar.

Sebelumnya Soerjono mengatakan memasuki 2015, Kemenperin ber siap memfokuskan kebijakan dan dukungan bagi produksi kendaraan rendah emisi. Menurutnya, Indonesia sebagai pasar yang cukup besar harus ditopang dengan jajaran produk andalan ramah lingkungan. “Kami akan mulai fokus kepada kebijakan LEV (low emission vehicle),” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran produksi kendaraan rendah emisi saat ini memang masih tersendat. Dibandingkan dengan Thailand, di sana produksi kendaraan yang rendah emisi telah dibesut berbagai produsen otomotif, Indonesia masih tertinggal.

Di sisi lain, Soerjono menargetkan realisasi program pemassalan kendaraan rendah emisi seperti hibrida dan electric vehicle (EV) pada 2025. Akan tetapi, dia tak menyangkal jika program tersebut dapat terwujud lebih dini sebagaimana terjadi pada program low cost green car (LCGC).

Menurutnya, realisasi itu dapat dipercepat, khususnya mobil hibrida diberikan insentif agar mampu memperbesar pasar. Asalkan, ujar Soerjono, pelaku industri dapat memindahkan produksinya di Indonesia.

“Hingga saat ini mobil hibrida diimpor, Thailand telah jadi basis produksi mobil ramah lingkungan tersebut,” ujarnya. Dia memaparkan jika merujuk peta jalan industri kendaraan yang dicetuskan Kemenperin, pemberian insentif serta sokongan bagi produk mobil hibrida ditarget terealisasi pada 2020-2025. Sedangkan sejak 2013, Kemenperin telah merealisasikan program LCGC yang seharusnya baru terwujud pada tahun depan.

“Artinya kita dapat mempercepat program jika memang terdapat permintaan pa sar yang signifikan,” tambahnya. Sementara itu, pada 2020 berdasarkan, lem baga riset global Fourin memperhitungkan penjualan produk otomotif di level Asean mencapai 5,5 juta unit per tahun.

Saat ini, Asean menyerap sekitar 4,2% da ri total penjualan otomotif dunia, atau se kitar 3.549.506 unit. Pangsa Asean pada 2013 inipun tak berbeda jauh dari tahun sebelumnya. Pada 2012, saat penjualan otomotif dunia mencapai 82,18 juta unit, negara-negara Asean menyerap sekitar 3,47 juta unit.

Lembaga itupun meyakini pasar Asean, khususnya Indonesia, kelak berperan dalam memassalkan produk otomotif teknologi ramah lingkungan. Sedangkan saat ini, berdasarkan data yang dirilis Fourin, penjualan unit mobil teknologi ramah ling kungan seperti hybrid electric vehicle (HEV) dan Electric Vehicle (EV) di level Asean hanya mencapai 0,6-0,9% per tahun dari total penjualan level Asean.