Mencari Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan Masyarakat

Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Kamis, 09/04/2015

Hingga sekarang ini orang masih percaya terhadap lembaga pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh swasta. Lembaga pendidikan dianggap mampu mengantarkan para siswa menjadi semakin berkarakter, memiliki kekayaan ilmu, dan memiliki ketrampilan yang diperlukan di tengah masyarakat. Anggapan itu sebenarnya tidak salah, sebab pada kenyataannya, setelah lulus dari lembaga pendidikan, kedewasaan mereka meningkat.

Namun demikian, perlu diakui, tidak semua berhasil. Mereka sudah lulus ujian, tetapi apa yang diharapkan oleh orang tua maupun oleh gurunya sendiri belum bisa dicapai. Setelah lulus, mereka masih belum mampu hidup mandiri, kurang dewasa, dan dalam berbagai hal masih belum menunjukkan kecakapannya. Sekalipun sudah lulus sekolah menengah atas dan bahkan sarjana strata satu, belum sepenuhnya berhasil menunjukkan kelebihan sebagaimana yang diinginkan.

Kenyataan sebagaimana digambarkan tersebut, menjadikan sementara orang berkomentar bahwa kualitas hasil pendidikan telah menurun dibandingkan dengan lulusan sekolah pada zaman dahulu. Pada zaman dahulu, sekedar lulusan SMA, SGA, atau SMEA saja, mereka sudah kelihatan cakap. Lulusan sekolah menengah pada zaman dahulu ketika diserahi tugas-tugas di rumahnya masing-masing sudah kelihatan cakap.

Keadaan tersebut berbalik dari saat sekarang ini. Lulusan SMA, SMK atau sejenis yang tidak meneruskan ke perguruan tinggi dan kemudian melamar pekerjaan, hanya bisa diterima pada pekerjaan yang berupah rendah, seperti menjadi security, cleaning servies, dan sejenisnya. Padahal jenis pekerjaan itu sebenarnya tidak memerlukan penguasaan ilmu tingkat atas. Namun oleh karena terpaksa, mereka menerima pekerjaan itu. Umpama ada pilihan lain, yakni pekerjaan yang gajinya lebih besar, tentu mereka akan menerima pekerjaan yang bergaji besar.

Para lulusan sekolah atau bahkan perguruan tinggi tersebut sebenarnya telah menampuh dan dinyatakan lulus berbagai pelajaran, seperti biologi, fisika, kimia, sosiologi, ekonomi, bahasa dan seterusnya sebagaimana pada kurikulum yang dikembangkan di masing-masing sekolah yang bersangkutan. Mereka juga telah diuji, dan juga dinyatakan lulus. Namun, hal yang menjadi pertanyaan adalah mengapa lulusan dimaksud masih disebut kurang memiliki kemampuan yang memuaskan.

Mengamati kenyataan tersebut, maka timbul pertanyaan tentang apa yang salah dari pendidikan kita selama ini. Pada setiap tahun pejabat kementerian pendidikan selalu membicarakan tentang buku teks, ujian nasional, kurikulum, peningkatan kualitas guru, dan seterusnya. Sementara itu, para lulusan lembaga pendidikan, sekedar mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sendiri saja ternyata belum mampu. Lulusan sekolah menengah dan bahkan sarjana strata satu masih menganggur.

Melihat gambaran tersebut, maka seolah-olah antara yang dipelajari bertahun-tahun di sekolah dengan apa yang secara nyata dihadapi di tengah-tengah kehidupan masyarakat ternyata tidak menyambung. Mereka lulus biologi, fisika, kimia, ekonomi, dan lain-lain dengan nilai amat tinggi, tetapi ternyata mereka belum mampu lulus dalam menghadapi persoalan di masyarakat. Sekedar mencari rizki untuk dirinya sendiri saja, ternyata masih ada yang belum berhasil.

Persoalan tersebut sebenarnya adalah sederhana saja, tetapi sesungguhnya adalah merupakan sesuatu yang tidaik mudah dipecahkan oleh banyak orang, tidak terkecuali oleh pemerintah. Banyak angka-angka yang menunjukkan tentang jumlah pengangguran terpelajar dan bahkan sarjana yang pada setiap tahun selalu meningkat jumlahnya. Padahal pengangguran selalu terkait dengan persoalan social lain yang tidak mudah dipecahkan, sehingga sebenarnya hal itu tidak boleh terjadi.

Mungkin ada sesuatu yang perlu diluruskan kembali, yaitu bahwa sebenarnya pelajaran biologi, fisika, kimia, matematika, sosiologi, ekonomi dan lain-lain adalah untuk membentuk perilaku. Atas dasar berbagai jenis pengetahuan yang dimiliki dan dikembangkan di sekolah itu diharapkan, para siswa dan juga sarjana, selain menjadi kaya pengetahuan juga berperilaku produktif untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Pekerjaan itu tidak harus berupa menjadi buruh, atau bekerja kepada orang lain, tetapi atas kekayaan kreatifitasnya, mampu menciptakan pekerjaan sendiri.

Jenis pekerjaan dimaksud bisa berupa pengembangan apa saja yang sudah dilakukan sebelumnya oleh orang tua atau masyarakat di mana mereka bertempat tinggal. Di Sidoarja misalnya, selain dikenal sebagai penghasil tambak, perdagangan, juga kerajinan tas yang amat terkenal. Umpama saja anak-anak muda Sidoarjo, sejak usia sekolah dasar sudah dilatih bekerja sebagai pengrajin tas, maka kelak tatkala lulus SMP, atau SMA dan apalagi sarjana akan mampu mengembangkan industri tas dengan kualitas yang lebih baik. Bukan sebaliknya, justru anak Sidoarjo misalnya, mereka tidak mengerti tentang membuat tas dan apalagi mempercayai bahwa usaha kerajinan tas adalah termasuk usaha yang menjanjikan.

Demikian pula anak-anak nelayan, petani, pengrajin, pedagang, peternak, dan lain-lain sebenarnya memiliki pengetahuan dasar dan kemampuan untuk mengembangkan berbagai jenis pekerjaan di mana mereka bertempat tinggal. Anak petani seharusnya sudah mencintai usaha pertanian, anak nelayan harus mencintai usaha menangkap dan mengelola usaha perikanan, dan seterusnya. Dan, sama sekali bukan sebaliknya, yaitu anak-anak petani malah tidak menyukai bertani, anak nelayan tidak menyukai pergi ke laut, anak peternak tidak mengenal sapi, kambing dan ayam, dan seterusnya.

Jika sebagaimana digambarkan tersebut keadaannya, maka hingga kapan pun, persoalan ketenaga kerjaan tidak akan terselesaikan dan bahkan bangsa ini akan tetap tenggelam menjadi buruh dan atau miskin yang tidak berkesudahan. Oleh karena itu, pendidikan harus diadaptasikan dengan kebutuhan dan tantangan lingkungannya masing-masing, sehingga orientasi penyeragaman harus segera ditinggalkan jauh-jauh, agar pendidikan tidak selalu irrelevan dengan kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. (uin-malang.ac.id)