Presiden Targetkan IHSG Tembus 6.000

Kepercayaan Investor Tinggi

Rabu, 08/04/2015

NERACA

Jakarta – Melesatnya laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga menembus rekor tertingginya di level 5.523 disambut positif pelaku pasar, kondisi ini rupanya juga menjadi perhatian serius bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyambangi pasar modal.

Pencapaian indeks BEI, menuai harapan besar dari Presiden Jokowi dan mengharapkan target indeks BEI bisa tembus ke level 6.000 di penghujung tahun 2015, “Kalau bisa di atas 6.000 akan sangat baik. Tapi tadi saya tanya ke Pak Ito, bagaimana pak, kelihatannya bisa, Insya Allah bisa," ujar Jokowi di Jakarta, Selasa (7/4).

Menurut presiden, tren positif indeks BEI menunjukkan kepercayaan investor terhadap Indonesia baik,”IHSG menyentuh rekor tertinggi disepanjang sejarah, itu menunjukkan kepercayaan investasi di Indonesia sangat baik sekaligus menunjukkan ekonomi Indonesia ke depan akan positif," ujar Jokowi.

Tercatat IHSG BEI pada Selasa ditutup naik 43,25 poin atau 0,79% menjadi 5.523,29. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 8,21 poin (0,86%) ke level 962,02. Level indeks BEI itu merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah, sebelumnya indeks BEI tertinggi di posisi 5.518 poin pada 30 Maret 2015 lalu.

Presiden menambahkan pemerintah akan melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi lagi ke depannya. Pasalnya, dengan ekonomi Indonesia yang positif, maka akan memberikan persepsi yang baik bagi investor.

Kedatangan Presiden RI ke gedung BEI ditemani Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil dan disambut Direktur Utama BEI Ito Warsito dan segenap jajaran direksi PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Ito Warsito mengatakan, industri pasar modal memiliki kinerja positif sejalan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang kondusif sehingga menarik minat bagi investor asing ke pasar saham domestik,”Kalau Indonesia ingin menjadi ekonomi yang terbesar di Asean maka pemerintah juga harus mendorong industri pasar modal menjadi besar," tuturnya.

Dia mengemukakan, saat ini perusahaan tercatat di BEI sebanyak 507 emiten. Namun, baru sebanyak 20 BUMN yang baru mencatatkan sahamnya di BEI. Diharapkan pemerintah dapat mendorong BUMN untuk melepas sebagian sahamnya ke publik sehingga dapat meningkatkan nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia.

Meski hanya 20 BUMN, namun nilai kapitalisasinya sebanyak 25% dari total nilai keseluruhan. Tercatat, per 7 April 2015, nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia sebesar Rp5.584,981 triliun. Nilai kapitalisasi pasar modal merupakan harga keseluruhan dari sebuah saham perusahaan yang tercatat di BEI. Menutup perdagangan Selasa sore, transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 478,751 miliar di seluruh pasar. (bani)