Nusa Konstruksi Alami Rugi Kurs Rp 3,69 Miliar

Laba Bersih Tergerus 7,6%

Rabu, 08/04/2015

NERACA

Jakarta - PT Nusa Konstruksi Enjinering Tbk (DGIK) membukukan pendapatan sepanjang 2014 sebesar Rp2,03 triliun atau tumbuh 40%. Di mana pada periode sebelumnya mencatatkan pendapatan sebesar Rp1,45 triliun,”Pendapatan dari proyek Kerja Sama Operasi (KSO) juga mengalami kenaikan yang signifikan di 2014, mencapai Rp173 miliar atau naik 84% (YoY),”kata Direktur Utama DGIK, Sutiono Teguh, dalam siaran persnya di Jakarta Selasa (7/4).

Pendapatan perseroan didukung dari perolehan pertumbuhan laba yang diraih perseroan. Laba kotor DGIK tumbuh 31,5% menjadi Rp244 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp186 miliar. Selain itu, laba bersih DGIK yang didistribusikan ke entitas induk di 2014 turun 7,6% menjadi Rp61 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp66 miliar. Penyebabnya, beban emiten konstruksi ini, baik pinjaman maupun beban pajak penghasilan membengkak dibanding tahun sebelumnya.

Akibatnya laba per saham atau earning per share (EPS) DGIK turun menjadi Rp 11,06 dari 2013 sebesar Rp 11,97. Disebutkan beban pinjaman meningkat menjadi Rp 26,2 miliar dari sebelumnya Rp 20,3 miliar dan rugi selisih kurs sebesar Rp 3,69 miliar dari sebelumnya masih tercatat untung Rp 20,88 miliar. Alhasil, beban bersih lain-lain tercatat Rp 23,75 miliar.

Untuk beban pajak penghasilan meningkat tajam menjadi Rp 60,95 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp 44,23 miliar. Tercatat total aset DGIK per akhir Desember 2014 menurun menjadi Rp 2,045 triliun dibanding periode yang sam tahun sebelumnya yakni Rp 2,1 triliun. Jumlah liabilitas perseroan menurun dari Rp 1,04 triliun menjadi Rp 940,3 miliar.

Perseroan juga mengungkapkan, laba proyek KSO berkontribusi sebesar Rp18,5 miliar naik 2.851% dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar Rp636 juta. Marjin bruto (Tanpa laba KSO) turun 7,0 bps menjadi 12% yang disebabkan kenaikan pada beban subkontraktor dan beban material.

Kemudian, laba usaha DGIK di 2014 tumbuh 80,9% menjadi Rp145,8 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp80,6 miliar. Marjin laba operasi naik dari 5,5% di 2013 menjadi 7,2% di 2014. Disebutkan, manajemen mampu mengendalikan beban usaha perusahaan di 2014 dengan tingkat kenaikan sebesar 10,4%.

Tahun lalu, kata Sutiono, perseroan mampu tumbuh sangat baik bahkan di atas pertumbuhan rata-rata industri, meskipun tantangan bagi sektor konstruksi sangat besar di tahun tersebut, seperti momen Pemilu, kenaikan suku bunga, dan inflasi yang tinggi. Namun demikian, laba asosiasi turun dari Rp13,9 miliar di 2013 menjadi Rp1,4 miliar di 2014.

Perseroan juga telah menandatangani perjanjian komitmen dengan Armstrong Asset Management (AAM) untuk mengembangkan dan mengoperasikan pembangkit listrik mini hydro 50 Mega Watt (MW) di Indonesia. Nilai komitmen ini mencapai US$ 22,5 juta. Rencananya, pembangunan proyek mini hydro 50 MW ini akan berlokasi di Jawa dan diharapkan dapat mulai beroperasi pada kuartal kedua tahun 2016. (bani)