KKP akan Bangun Tempat Pelelangan Rumput Laut di Sumba Timur

Rabu, 08/04/2015

NERACA

Sumba Timur - Harga menjadi unsur terpenting dalam sebuah komoditas yang dijual. Ketika harga jatuh maka si penjual yang merugi namun pembeli merasa untung, begitu juga sebaliknya. Namun untuk menciptakan suasana yang menguntungkan antara penjual dan pembeli, maka lelang bisa menjadi salah satu jalan keluarnya. Hal itulah yang nantinya akan diterapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada komoditas rumput laut.

Dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berencana untuk membangun tempat pelelangan rumput laut. Hal itu setelah mendengarkan aspirasi dari para pembudidaya rumput laut yang hasil budidayanya dibeli oleh salah satu pabrik dengan harga terlalu murah sehingga tidak menguntungkan para pembudidaya rumput laut.

"Nanti akan saya usulkan agar di daerah ini dibangun semacam Tempat Pelelangan Ikan (TPI) namun khusus untuk rumput laut saja. Kalau ada tempat pelelangan maka nantinya pabrik bisa beli, dan pedagang lain bisa beli. Dengan begitu maka akan ada persetujuan harga dari pembudidaya maupun pembelinya. Dan tempat pelelangannya juga tidak perlu besar-besar namun bisa dijadikan tempat lelang khusus untuk rumput laut," ungkap Susi di Sumba Timur, Senin (6/4).

Dalam dialog antara pembudidaya dengan para pejabat daerah serta jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan, sempat terjadi protes yang dilakukan oleh pembudidaya karena hasil rumput lautnya dibeli dengan harga yang murah. Pembudidaya rumput laut yang ada di Desa Tanamanang, Kecamatan Pahungalodu Kabupaten Sumba Timur , Nusa Tenggara Timur mengeluhkan harga rumput laut ditingkat petani dihargai dengan rendah. Padahal, tak jauh dari lokasi pembudidaya terdapat pabrik pengolahan rumput laut.

Salah satu pembudidaya rumput laut yang sudah memulai usaha ini sejak 2006 ini mengatakan bahwa harga rumput laut sekarang tidak sesuai dengan harga kebutuhan pokok sehari hari. "Sekarang ini harga rumput laut dibanderol Rp9.000 per kilogram. Padahal pada 2006 lalu, rumput laut dari petani dihargai Rp18.000 per kilogram," ungkap Martin kepada Neraca.

Menurut dia, dengan harga segitu maka tak sebanding dengan dana yang dikeluarkan oleh para pembudidaya, terlebih dengan beberapa harga bahan pokok mengalami kenaikan. "Sekarang inikan sudah ada pabrik yang letaknya tidak jauh akan tetapi kenapa harganya jadi murah. Apalagi sekarang ini dolar sedang menguat seharusnya dihargai tinggi," keluhnya.

Diakui oleh Ketua Pembudidaya Hamparan Hanggaroru Dominggus, harga sebesar Rp9.000 per kilogram sudah berlangsung sejak satu bulan lalu. Menurut dia, pada Februari lalu, harga sempat menyentuh angka Rp12.500 per kilogram. "Ya memang saat ini harganya jatuh. Kita pun mengetahuinya dari zona dua (pengepul), jadi harga turun atau naik itu dikasih tau dari zona dua," ucap Dominggus.

Ia juga mengatakan semua permintaan pabrik dapat dipenuhi oleh pembudidaya maka sudah semestinya harganya juga cukup tinggi. "Pabrik meminta agar rumput lautnya bersih, kita dari pembudidaya telah memenuhi persyaratannya. Karena kalau tidak, kita pun bingung mau jual kemana," cetusnya.

Sekedar informasi, pada tahun 2010 produksi rumput laut basah di Kecamatan Pahungalodu, Sumba Timur sebagai kawasan utama minapolitan hanya mencapai 439,9 ton. Kemudian meningkat tajam menjadi 1.560,4 ton di tahun 2014 atau mengalami kenaikan rata-rata 40 persen per tahun. Potensi lahan budidaya rumput laut di Kabupaten Sumba Timur sangat luas, yakni mencapai 15.069,4 ha. Selain itu cuaca di daerah ini juga mendukung untuk budidaya rumput laut, sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan daerah.

Tak hanya soal harga rumput laut, Ketua Kelompok Pembudidaya Rumput Laut Octavianus meminta agar pemerintah daerah dan juga pemerintah pusat lebih memperhatikan infrastruktur yang ada di daerahnya. Menurut dia, para pembudidaya membutuhkan sarana seperti sumur bor air bersih, kamar mandi dan juga jalan sebagai jalur distribusi.

“Salah satu agar rumput laut dari pembudidaya diterima oleh pabrik adalah kebersihannya. Jika rumput lautnya tidak bersih maka pabrik tidak mau menerima. Maka dari itu, kita membutuhkan air bersih sebagai upaya kita memberikan produk yang berkualitas,” pungkasnya.