Kisah Dilematis Kehidupan Joko Anwar

Melancholy is a Movement

Sabtu, 11/04/2015

Keinginan yang tak selaras dengan keadaan. Sepertinya hal itu sudah banyak dijumpai dalam kehidupan ini. Dan hal-hal seperti itu juga menimpa insan perfilman, contohnya sutradara. FilmMelancholy is a Movementmerangkumnya dengan unik.

Joko Anwar, seorang sutradara yang sedang menjadi highlights karena karya-karyanya yang cemerlang. Namun roda tak selalu berada di atas. Tepatnya setelah seorang rekannya meninggal, karir Joko tiba-tiba meredup. Tak ada tawaran proyek film yang menghampirinya.

Lambat laun, hal ini membuat Joko stres. Ditambah lagi, jatuh tempo sewa kantornya sudah tiba, dan ia sudah menunggak beberapa minggu. Gaji beberapa karyawan pun sudah harus dibayarkan. Joko semakin pusing.

Dan bagai pucuk dicinta ulampun tiba. Seorang produser film yang sudah lama ingin bekerjasama dengan Joko Anwar datang dan menawarkan untuk menggarap proyek film. Tetapi yang tak disangka, proyek film tersebut adalah film religi, yang mana sangat jauh berbeda dengan imej film-film Joko sebelumnya.

Tanpa banyak pertimbangan, Joko pun mengambil tawaran film itu. Ia juga mengajak temannya yang sedang sepi job, Ario Bayu, untuk bermain di film tersebut. Tetapi konflik tak selesai sampai disitu. Dengan Joko menerima film religi tersebut, ia justru dihadapkan dengan pilihan hidup yang sulit, sejauh mana ia bisa pertahankan cita-citanya dengan kemungkinan-kemungkinan kehidupan yang sepertinya punya kehendak sendiri.

Sebuah pesta sutradara! Mungkin itu yang bisa dikatakan saat Anda menyaksikan filmMelancholy is a Movement. Bagaimana tidak, pemeran utama film ini saja diperankan oleh sutradara, dan beberapa sutradara lain pun ikut terlibat sebagai pemain, seperti sutradaraBelenggu(2013), Upi, dan sutradaraMantan Terindah(2014), Farishad Latjuba.

Tetapi dengan banyak terlibatnya sutradara di film ini, bukan berarti mereka aji mumpung. Lebih tepatnya, para sutradara ini 'digandeng' demi keperluan cerita. Dan bagi Anda yang menyukai soft-art film, mungkinMelancholy is a Movementadalah film yang cocok disaksikan.

Dengan konten drama, Richard Oh menggarap film ini menggunakan caranya sendiri. Sekilas, alur ceritanya berkesan agak dragging, namun hal itu tidak membosankan karena setiap adegan yang dihadirkan seperti memiliki makna tertentu, dan itu konsisten selama kurang lebih 90 menit durasi pemutarannya.

Bagi Anda yang sudah 'mengenal' sosok Joko Anwar, aksinya di film ini sangat jauh berbeda dari kesehariannya. Pasalnya, imej asli Joko yang ramah dan mingle, menjadi sangat pasif dan muram untukMelancholy is a Movement. Dan itu menjadi sisi komedi bagi orang-orang tertentu.