Bakrie Telcom Bukukan Rugi Rp 2,87 Triliun

Kinerja Keuangan 2014

Selasa, 07/04/2015

NERACA

Jakarta – Bisnis telekomunikasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus tergerus dengan pesaingnya seiring dengan ketatnya persaingan industri telekomunikasi saat ini. Alhasil, sepanjang 2014, perseroan mengalami kerugian sebesar Rp2,87 triliun, atau naik 8,71% dari posisi rugi sebesar Rp2,64 triliun di akhir 2013. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (6/4).

Perseroan juga membukukan pendapatan usaha menjadi Rp1,17 triliun di tahun lalu, atau turun dari posisi sebesar Rp2,07 triliun di akhir 2013. Beban usaha naik menjadi Rp2,12 triliun, atau naik dari posisi beban usaha sebesar Rp2,06 triliun di akhir 2013. Rugi usaha yang diderita perseroan menjadi Rp947,55 miliar di 2014, dari posisi laba usaha sebesar Rp3,61 miliar di 2013.

Beban lain-lain perseroan menjadi Rp1,31 triliun di 2014, atau turun dari posisi sebesar Rp2,98 triliun di 2013. Rugi sebelum pajak menjadi Rp2,26 triliun di 2014, atau turun dari posisi rugi sebesar Rp2,98 triliun di akhir 2013. Beban pajak menimpa perseroan menjadi Rp611,15 miliar di 2014, dari manfaat pajak sebesar Rp339,05 milar di 2013. Adapun posisi aset perseroan menjadi Rp7,58 triliun di 2014, atau turun dari posisi aset sebesar Rp9,12 triliun di akhir 2013.

Belum lama ini, perseroan menargetkan mampu melunasi utang dengan skema obligasi wajib konversi (mandatory convertible bond-A/MCB-A) pada kuartal II-2015. Tiga kreditor perseroan, yakni Huawei Tech Investment Co Ltd, PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) dan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) berpeluang mengantongi saham Bakrie Telecom pada saat pelaksanaan konversi.

Direktur Utama Bakrie Telecom Jastiro Abi pernah bilang, perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) terlebih dahulu untuk meminta izin konversi utang dengan MCB. Namun, target RUPSLB molor dari perkiraan semula, yakni awal 2015,”RUPSLB pada Maret ini rasanya tidak mungkin, karena pengumuman harus satu bulan sebelum RUPSLB digelar. Kami ingin secepatnya, mungkin pada kuartal II. Intinya pada semester I-2015 ini,” kata Jastiro.

Jastiro menegaskan, jika pemegang saham merestui, para kreditor dapat langsung mengonversi utang dengan MCB. Saat ini, Bakrie Telecom memiliki utang sebesar US$ 145 juta kepada Huawei. Sedangkan utang kepada Solusi Tunas dan Protelindo masing-masing sebesar Rp 1 triliun. Adapun Protelindo adalah anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Melalui skema MCB, Huawei berpeluang mengantongi 9% saham Bakrie Telecom. Sedangkan Solusi Tunas dan Protelindo masing-masing bisa memiliki 5% saham pada operator telekomunikasi berbasis code division multiple access (CDMA) dengan merek dagang Esia tersebut. Sebelumnya, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah mengesahkan proposal perdamaian (homologasi) yang diajukan Bakrie Telecom dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada 8 Desember 2012. (bani)