Sentul City Gagal Panen Bisnis Properti

Pendapatan Anjlok 26%

Senin, 06/04/2015

NERACA

Jakarta – Perusahaan properti, PT Sentul City Tbk (BKSL) sepanjang tahun 2014 mencatat penyusutan pendapatan sebesar 26% dari sebelumnya Rp961,98 miliar menjadi Rp712,47 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Investor Relation PT Sentul City Tbk, Fransetya Hutabarat mengatakan, penyebab penurunan ini karena tidak adanya block sales atau penjualan tanah dalam jumlah besar pada 2014 dan tidak dibukukannya pendapatan dari JungleLand yang telah dijual oleh perseroan kepada Bakrieland.

Sebagai catatan, perseroan membukukan block sales sebesar Rp216,16 miliar pada 2013. Akan tetapi, jika dilihat dari setiap sektor pendapatan perseroan maka sektor pendapatan properti secara retail (tanpa block sales) tumbuh 15,21%,”Pertumbuhan ini disebabkan oleh delivery produk properti yang meningkat dan juga pengakuan pendapatan atas progress pembangunan Sentul Tower Apartment dan Alana AhPoong Condotel,”ujarnya.

Sementara itu, profitability margin perseoran berhasil membukukan kenaikan laba usaha sebesar 163,76% dari semula Rp68,82 miliar pada 2013 menjadi Rp180,98 miliar di 2014. Dia mengungkapkan, hal itu karena pada 2013, perseroan membukukan keuntungan atas akuisisi tambahan 15% saham PT Bukit Jonggol Asri. "Pembukuan keuntungan ini merupakan one off transaction yang tidak berulang dan bukan merupakan hasil dari performa operasional inti perseroan,”katanya.

Sementara laba bersih perseroan turun dari sebelumnya Rp605,15 miliar menjadi Rp40,79 miliar pada 2014. Tahun ini, perseroan menargetkan penjualan sebesar Rp 1,94 triliun. Maka untuk memenuhi target marketing sales tersebut, perseroan meluncurkan 14 produk properti baru. Disebutkan, produk baru yang akan diluncurkan terdiri dari rumah tapak (landed house), ruko maupun gedung bertingkat (highrise).

Jumlah unit yang akan diluncukan mencapai 2.313 unit yang terdiri dari landed 52% dan highrise 48%. Emiten properti ini juga akan memperluas distribusi chanel ke luar Jabodetabek dengan mengembangkan hotel di Lombok. Untuk proyek hotel dengan 300 kamar ini, BKSL telah mengucurkan investasi Rp 250 miliar. Perseroan mengklaim, banyak investor yang tertarik bekerjasama dalam pengembangan ini.

Tahun ini, perseroan juga menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar Rp 750 miliar. Dana tersebut akan mengalir untuk membiayai sejumlah proyek, seperti pembangunan super blok dan hotel. Disebutkan, anggaran belanja modal BKSL tahun 2015 lebih besar 25% dari anggaran tahun lalu yang senilai Rp 600 miliar.

Direktur Utama BKSL Andrian Budi Utama pernah bilang, dirinya optimistis permintaan properti tahun 2015 akan lebih baik dari tahun ini. Maklum, pemerintah bakal mempercepat pengembangan infrastruktur. Mulai awal tahun ini, BKSL akan merealisasikan pengembangan super blok di Sentul City. Masih di Sentul City, BKSL berencana mengembangkan Central Business District (CBD). "Kami juga berencana meluncurkan tahap tiga dari proyek Green Mountain di Sentul dan proyek lain yang belum bisa kami informasikan," kata Andrian. (bani)