Upaya WIKA Beton Jaga Pangsa Pasar 42,7%

Tawarkan Jasa Tiang Pancang

Kamis, 02/04/2015

NERACA

Jakarta – Ketatnya bisnis beton pracetak seiring dengan banyaknya pemain baru, menjadi tantangan tersendiri bagi PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) untuk menjaga pertumbuhan bisnis tersebut kedepannya menjadi lebih baik lagi. Tahun ini, perseroan yang merupakan anak usaha WIKA berencana menjaga pangsa pasar (market share) di angka 42,7%, dengan melakukan pemasaran dari jasa pemancangan.

Direktur WTON, Hadian Pramudita mengatakan, selain melakukan eksisting produk yang sudah ada, perseroan juga meningkatkan jasa pemasangan tiang pancang,”Dulu kita hanya supply precast saja, sekarang kita mulai menawarkan jasa pemancangan juga,”ujarnya di Jakarta, Rabu (1/4).

Selain itu, perseroan terus berupaya memasarkan produknya ke daerah yang belum terjangkau. Saat ini, perseroan telah menambah varian produknya, seperti inner boring. Produk tersebut merupakan teknologi baru yang ada di Indonesia, yang menawarkan keunggulan, seperti tidak menghasilkan getaran yang dapat mengganggu lingkungan sekitar, dan pada akhirnya mempercepat dalam pengerjaan.

Tahun ini, WIKA Beton menargetkan laba bersih sebesar Rp360 miliar, atau meningkat sekitar 11,8% dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya senilai Rp322 miliar,”Target itu diharapkan tercapai seiring dengan akan maraknya proyek infrastruktur milik pemerintah pada tahun ini," kata Direktur Utama WIKA Beton Tbk, Wilfred Imanuel A. Singkali.

Disamping itu, perseroan juga mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp550 miliar untuk menuntaskan pembangunan pabrik. Direktur Keuangan WTON Entus Asnawi Mukhson menjelaskan, jumlah capex sebesar Rp550 miliar tersebut, setengahnya untuk menyelesaikan pembangunan pabrik di Lampung Selatan. Sementara sisa capex akan digunakan untuk melengkapi kebutuhan-kebutuhan pabrik yang pembangunannya belum rampung sepenuhnya.

Disebutkan, dana capex berasal dari kas internal yang diperoleh melalui hasil penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) ditambah hasil penerbitan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) dan sisa laba bersih 2014.

Tercatat hingga Maret 2015, WIKA Beton sudah mengantongi kontrak baru senilai Rp550 miliar. Disebutkan, nilai kontrak baru hingga Maret ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Kata Entus, lebih rendahnya nilai kontrak baru perseroan dalam tiga bulan ini karena masih belum pastinya proyek-proyek yang diperoleh dari pemerintah,”Ini karena proyek yang didanai dari APBN dan APBD sebagian belum bergerak, sehingga membuat nilai kontrak baru kami lebih kecil,”ungkapnya.

Dia menjelaskan, dengan masih tertundanya proyek-proyek yang berasal dari pemerintah membuat kontrak baru yang dikumpulkan perseroan hingga Maret ini sebagian besar berasal dari proyek milik perusahaan swasta,”Kebanyakan kontrak kami dapatkan dari swasta. Tapi kami yakin, proyek infrastruktur milik pemerintah tetap akan berjalan," jelas Entus.

Pada tahun lalu, penjualan perseroan tercatat sebesar Rp3,27 triliun. Namun nilai kontrak baru yang diperoleh perseroan hingga akhir tahun lalu sebesar Rp4,2 triliun, sehingga nilai kontrak yang di carry over perseroan ke tahun ini sebesar Rp1 triliun. (bani)