Mitos Yang Salah Tentang Kuliah Di Luar Negri

NERACA

Disaat pendidikan tinggi lintas negara tengah menjadi tren pelajar Indonesia, beberapa mitos yang berkonotasi negatif tentang kuliah di luar negri kerap mematahkan semangat orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di luar negeri.

"Banyak orang tua yang merasa khawatir dengan era Masyarakat Ekonomi ASEAN yang semakin dekat dan ingin memastikan anak mereka mendapat pendidikan terbaik. Sayangnya mereka tidak memiliki informasi yang cukup, sehingga menganggap kuliah di luar negeri adalah mahal, merepotkan dan berisiko tinggi," kata Manajer Pemasaran dan Humas UnisadhuGuna International Education, Aimee Sukesna

Berikut adalah enam kekhawatiran orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di luar negeri.

Mahal

Kuliah di luar negeri dapat ditempuh dengan mengikuti program pathway yang memungkinkan menekan biaya pendidikan hingga 60%. Dengan program tersebut, peserta menempuh kuliah satu-dua tahun di dalam negeri lalu tahun berikutnya di universitas luar yang telah menjalin kerja sama. Selain kuliah, peserta program pathway juga mendapat pemantapan untuk sekolah di luar negeri.

“Di tahun-tahun awal, banyak mahasiswa yang sulit beradaptasi saat kuliah di luar negeri. Pathway program menjamin mereka siap belajar dan langsung menyerap ilmu di sana,” kata Aimee.

Administrasi dan biaya rumah sakit merepotkan

Menurut Aimee, banyak negara yang menyediakan fasilitas kesehatan yang mudah diakses oleh mahasiswa asing. Dia mencontohkan di Australia, mahasiswa asing wajib mempunyai asuransi kesehatan yang disebut Overseas Students Health Cover (OSHC).

Untuk itu, Aimee menyarankan orang tua untuk mengenali pilihan asuransi yang ada di negara tujuan. Hal yang tidak kalah penting adalah membuka rekening bank di negara tersebut agar ketika terjadi keadaan darurat, mahasiswa memiliki akses untuk mendapatkan uang tunai.

Sulit memantau perkembangan anak

Aplikasi mengobrol melalui video seperti Skype memudahkan orang tua untuk berkomunikasi langsung. Jadwalkan komunikasi dengan anak agar dapat mengetahui perkembangannya.

Keamanan

Kebanyakan kampus di luar negeri memiliki sistem keamanan yang baik untuk melindungi peserta program.

"Tetapi keamanan anak Anda bukan hanya tanggung jawab kampus saja. Orang tua dan anak juga memiliki peran penting untuk meminimalisasi potensi kejahatan," kata Aimee.

Orang tua, misalnya, harus rajin mencari informasi tentang keamanan di lingkungan sekitar kampus dan tempat tinggal anak dengan memantau website kampus atau koran lokal.

Sulit mengurus tempat tinggal

Selain tinggal di asrama internasional yang ditawarkan kampus, ada juga opsi homestay (tinggal di rumah warga dengan asal negara yang sama), students lodge (akomodasi di luar kampus yang tersedia untuk mahasiswa internasional) atau apartemen khusus mahasiswa sekitar kampus.Saat mengisi formulir aplikasi universitas, sudah ada pilihan akomodasi sehingga mahasiswa dapat merencanakannya sejak awal.

“Biasanya kami sarankan untuk 1 semester pertama agar tinggal di akomodasi yang disediakan oleh kampus atau homestay, lalu di semester kedua dapat mencari tempat tinggal sendiri di apartemen maupun rumah bersama teman,” ungkap dia.

Visa sulit

"Jika semua persyaratan dilengkapi maka semestinya tidak ada masalah," kata Aimee.

Persyaratan yang perlu dilengkapi antara lain bukti penerimaan dari kampus tujuan, paspor, kartu keluarga dan bukti keuangan cukup.

Related posts