Harga Bahan Baku Industri Makanan dan Minuman Melonjak - Dampak Pelemahan Rupiah

NERACA

Jakarta - Harga produk makanan dan minuman (mamin) diperkirakan meningkat hingga 15% akibat biaya produksi terus meningkat seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). “Kenaikan produk mamin ini tentu akan membebani masyarakat. Namun, industri mamin tertekan dengan melonjaknya harga bahan baku,” kata Direktur Industri Minuman dan Tembakau, Kementerian Perindustrian, Faiz Ahmad, di Jakarta, Senin (23/3).

Industri mamin dalam negeri, menurut Faiz, masih tergantung pada bahan baku impor, sebesar 70%. Tren pelemahan rupiah membuat biaya produksi melonjak tajam. “Pelemahan rupiah membuat biaya produksi meningkat hingga 10%, bahkan hal tersebut juga berimplikasi pada biaya distribusi yang diprediksi meningkat hingga 5%,” paparnya.

Faiz menilai, biasanya menjelang puasa harga mamin naik, tapi dengan rupiah yang melemah ini harganya akan naik lebih mahal lagi. “Kami yakin ini akan berat, naiknya mendekati puasa. Konsumen akan membeli mesipun harganya tinggi,” ujarnya.

Disisi lain, Pertumbuhan ekspor dan investasi makanan dan minuman (mamin) pada kuartal I-2015 diperkirakan melambat dibanding tahun sebelumnya. Ekspor mamin diprediksi hanya tumbuh 4-5 persen menjadi US$ 1,31 miliar (setara Rp 17,24 triliun) pada kuartal I-2015, dibanding periode sama tahun lalu sebesar 9 persen.

“Berkurangnya permintaan global dan kondisi di dalam negeri yang relatif tidak stabil, turut berdampak pada ekspor,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman.

Adhi mengungkapkan, perlambatan ekonomi yang terjadi di pasar global, terutama Eropa, membuat permintaan produk mamin asal Indonesia juga mengalami penurunan. Sementara suku bunga di dalam negeri yang tinggi, membuat pelaku usaha sulit mengembangkan bisnisnya.

Selain ekspor, perlambatan juga diperkirakan terjadi pada investasi yang hanya tumbuh 7 persen. Padahal kuartal I tahun lalu, pertumbuhan investasinya mencapai 10 persen. “Penurunan pertumbuhan investasi, itu lebih karena kondisi perekonomian di negara-negara maju. Akibatnya, ada kecenderungan menahan konsumsi,” ujarnya.

Kenaikan Harga

Beban industri makanan dan minuman (mamin) makin berat di tahun ini. Kenaikkan harga berbagai komponen bahan baku yang ramai terjadi saat ini macam bawang merah dan bawang putih akhir-akhir ini menyusul kenaikkan upah buruh dan energi yang harus mereka tanggung.

Padahal dengan kenaikkan upah buruh dan energi sejak awal ini saja, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman bilang ada beberapa pelaku industri mamin yang menahan kenaikkan harga. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari turunnya permintaan di pasar. Meski langkah ini dipastikan akan mengurangi margin keuntungan perusahaan. “Masih ada yang mengorbankan margin menahan kenaikkan harga karena takut terjadi distorsi pasar,” kata Adhi di Jakarta, akhir pekan lalu.

Namun dengan makin naikknya beban industri akibat ketidakstabilan harga bahan baku, ia memprediksi semua produsen mamin akan menaikkan harga pada bulan depan. Menurut Adhi, langkah mengorbankan margin sudah tidak bisa ditolelir dengan ketidakstabilan harga bahan baku ini. Dengan terus menurunkan margin maka industri ini berpotensi sakit. “Sehingga di April saya rasa sudah naik semua hingga' 10%,” ujarnya.

Di industri mamin sendiri, margin keuntungan para produsen disebut bervariasi mulai dari 5% hingga 12%. Saat ini saja, Adhi melanjutkan kenaikkan harga mamin sudah terjadi di tingkat retail sekira 5% hingga 10%. Beberapa produk mamin yang sudah naik harga diantaranya adalah produk turunan terigu dan jus buah.

Tumbuh Stagnan

Adhi memperkirakan pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) di 2013 akan stagnan seperti tahun ini yaitu sebesar 8%. “Dugaan kami pertumbuhannya di 2015 masih seperti tahun ini sebesar 8% karena kami pesimistis pemerintah mampu menjaga stabilitas politik yang mempengaruhi produksi pengusaha,” kata dia.

Dia mengatakan situasi di dalam negeri tahun 2015 akan sama yaitu banyak agenda politis yang dijalankan pemerintah. Hal itu, kata dia, yang menyebabkan kebijakan yang diambil cenderung populis tanpa memperhatikan kepentingan pengusaha. “Angka moderatnya 8% di tahun depan, karena kami tidak percaya pemerintah bisa menjaga stabilitas politik dan keamanan,” ujamya.

Menurut dia, pertumbuhan industri dalam negeri khususnya mamin dipengaruhi stabilitas keamanan dan jaminan stabilitas keputusan terkait industri. Dia menilai 2015 tidak ada jaminan keamanan dari pemerintah sehingga mengganggu proses produksi. “Karena tahun depan apabila dilihat dari tahun 2012 akan lebih banyak diramaikan dengan peristiwa politik” katanya. Hal itu menurut dia akan berujung pada pengerahan massa dan menjauhkan terhadap hubungan industrial yang ideal.

“Demo buruh pasti melibatkan tenaga kerja dan menyebabkan terjadinya stagnasi produksi atau bahkan penghentian produksi. Apalagi di tahun 2013 tensi politiknya akan lebih tinggi,” katanya.

Ekspor Melemah

Selain itu menurut dia, kenaikan harga pangan dan melemahnya ekspor juga berperan dalam menekan pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman. Dia mengatakan kompetitor dari negara lain yang produknya lebih murah terus berproduksi dan melebarkan pangsa pasarnya ke Indonesia.

“Artinya akan banyak produk murah yang masuk ke pasar dalam negeri dengan kualitas bersaing. Produk impor tidak mengalami kenaikan biaya produksi sedangkan dalam negeri kebalikannya,” ujarnya.

Dia mengatakan, kenaikan upah yang melebihi 20% juga menjadi faktor penekan pertumbuhan industri. Dia menilai kenaikkan upah sebesar 10-15% masih layak tetapi jika lebih dari 20% akan mengganggu daya saing.

Sementara itu, Kementerian Industri optimistis industri makanan, minuman, dan tembakau mampu tumbuh 9,25% pada tahun ini dan 9,43% pada 2015. Dari sisi investasi, penanaman modal dalam negeri (PMDN) di industri makanan selama priode Januari-September tergolong tinggi, yakni mencapai Rp7,7 triliun atau tumbuh 24,3% dibandingkan dengan periode yang 2015.

Related posts