OJK Targetkan Kejar Bursa Efek Malaysia - Pendalaman Pasar Modal

NERACA

Jakarta - Berkembang pesatnya industri pasar modal dalam negeri, menuai banyak prestasi. Selain menjadi masuk jajaran 10 besar bursa saham terbaik di dunia sepanjang 2014, pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat menempati posisi kelima dibanding bursa-bursa kawasan regional dan dunia.

Bahkan kedepan, Otoritas Jasa Keuangan menyakini Bursa Efek Indonesia kedepan bisa mengalahkan bursa efek di kawasan regional, seperti Malaysia dan Singapura. Oleh karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang giat melakukan sosialisasi pasar modal sebagai instrumen pembiayaan. Pasalnya, selama ini pembiayaan pasar modal masih dinilai sangat minim.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad menjelaskan, OJK saat ini sedang berambisi untuk mengalahkan Malaysia untuk melakukan pendalaman pasar modal. "Kita sekarang kejar-kejaran sama Malaysia, untuk jadi nomor 2 di ASEAN kalau Singapura jauh. Tugas kami mendorong. sosialisasi kami perbanyak investor, IPO surat utang. Masalahnya belum banyak yang paham. Kalau mendengar pasar modal yang rumit, ruwet, padahal mudah. Itu mesti disosialisasikan," katanya di Jakarta, kemarin.

Muliaman mengaku optimis target tersebut bakal tercapai. Bukan tanpa alasan, pihaknya meyakini ada kecenderungan pembiayaan yang selama ini ke perbankan bergeser ke pasar maodal karena terbatasnya modal dari bank,”Ada kecenderungan pembiayaan bank ke pasar modal, karena terutama limitasi yang dimiliki bank. Kami memperkuat pasar modal. Kami punya agenda tidak hanya SDM, tapi membangun kepercayaan, enforcement, IT," paparnya.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Ito Warsito mengungkapkan, blok ekonomi ASEAN berpotensi menghasilkan PDB sekitar US$ 7 triliun di tahun 2030 mendatang. Diperkirakan dalam beberapa dekade ke depan, blok ekonomi ASEAN akan mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi tersebut karena beberapa faktor pendukung yakni demografi penduduk muda, pasokan tenaga kerja yang terampil, upah pekerja yang kompetitif, serta posisi geografis yang strategis.

Meski demikian, untuk mencapai target tersebut blok ekonomi ASEAN membutuhkan modal berskala besar. Salah satunya adalah kebutuhan minimum belanja infrastruktur untuk 2015 sampai dengan 2030 yang diperkirakan jumlahnya mencapai US$ 7 triliun. Maka, dia mengatakan pasar modal mesti digenjot untuk memenuhi belanja infrastruktur tersebut. "Disinilah pasar modal berperan sebagai sumber pendanaan untuk pembiayaan faktor-faktor pendukung percepatan pertumbuhan ekonomi ASEAN,”ujar Ito.

Selain itu, Ito juga pernah bilang, terkait tiga bursa ASEAN yang sudah sepakat yakni bursa Thailand, Singapura dan Malaysia, maka ketentuan disclosure di Indonesia dinilai lebih baik dibandingkan negara lain. Untuk itu, negara ASEAN sebaiknya menggikuti Indonesia,”Karena Indonesia memiliki stadar yang tinggi. Tapi, itu perlu negosiasi. Di negara masing-masing juga memerlukan perubahan peraturan. Perubahan-perubahan itu bukan hanya Indonesia, tapi juga di negara ASEAN lain,” ujarnya. (bani)

Related posts