Kalangan Industri Harus Mengedukasi Masyarakat - Terkait Masalah Gizi

NERACA

Pihak industri bidang pangan memandang pemberian edukasi pada masyarakat soal gizi bisa menjadi satu hal penting untuk memperbaiki gizi anak di Indonesia yang berdampak pada pertumbuhan generasi yang semakin berkualitas.

"Intinya edukasi gizi. Masalah gizi bukan hanya melulu tidak punya uang, tetapi tidak punya pengetahuan. Edukasi gizi melalui channel media dan media sosial," ujar Head of Corporate Affairs Sarihusada, Arif Mujahidin.

Arif mengatakan, pemberian edukasi ini bisa dilakukan melalui berbagai cara, seperti diskusi rutin bersama pakar-pakar nutrisi dari dalam dan luar negeri misalnya, lalu menyebarkan informasi yang didapat melalui media dan media sosial ke masyarakat luas.

Di samping itu, bisa juga bekerja sama dengan pihak institusi pendidikan melakukan pelatihan soal gizi pada kader-kader posyandu dan PKK.

"Di swasta, yang bukan pembuat kebijakan, kita hanya bisa melakukan hal yang sesuai dengan kompetensi kita, misalnya, kita punya link ke salah satu produsen makanan dari luar negeri, mereka punya riset bagus, kemudian diadaptasi di Indonesia, supaya relevan dihadirkan juga pakar lokal, sehingga pas untuk anak Indonesia," kata dia.

"Kemudian, ke masyarakat kita langsung bertemu. Lalu, di IPB, kita kerjasama melatih kader-kader posyandu, ibu PKK, hadir juga ibu Lurah, Camat. Jadi ada yang langsung datang ke masyarakat, melalui LSM, media, universitas," tambah dia.

Menurut Arif, hal penting yang diharapkan dalam pemberian edukasi gizi ini ialah terjadinya perubahan pada sikap dan perilaku masyarakat.

"Memang bukan kontribusi langsung, tetapi harus dilakukan terus menerus. Karena intinya yang penting perubahan sikap dan perilaku," kata Arif.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS, mengungkapkan, masalah gizi di Indonesia hingga kini masih memprihatinkan.

Hal ini terbukti dari jumlah balita stunting (bertubuh pendek) akibat kekurangan gizi yang tinggi, yakni mencapai 37,2 persen atau 8,8 juta pada 2013 lalu.

"Pemenuhan gizi seimbang terutama bagi calon ibu, ibu hamil, ibu menyusui dan balita terus diperlukan. Terutama difokuskan pada zat gizi yang masih defisiensi seperti protein, asam lemak esensial, zat besi, kalsium, yodium, zink, vitamin A dan D, serta asam folat," pungkas Hardinsyah.

BERITA TERKAIT

Komisi IX: BPOM Harus Optimalkan Fungsi Ketahanan Masyarakat

Komisi IX: BPOM Harus Optimalkan Fungsi Ketahanan Masyarakat NERACA Jakarta - Mengawasi ribuan produk obat, kosmetik dan makanan yang beredar…

Hikmahanto: Hindari Eforia di Masyarakat - KESEPAKATAN PEMERINTAH RI DAN FREEPORT

Jakarta-Guru Besar Hukum Internasional UI Prof Dr. Hikmahanto Juwana mengatakan, penandatanganan Head of Agreement (HoA) antara pemerintah RI dan Freeport…

Mengurangi Masalah Sampah Pendakian di Gunung Rinjani

Sebagai salah satu kawasan geopark dunia, Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki daya tarik bagi siapapun yang…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Kekurangan Vitamin D Bisa Bikin Tubuh Jadi Obesitas

Kekurangan vitamin D ternyata tak hanya berdampak bagi tulang atau gigi. Penelitian terbaru juga menemukan hubungan kekurangan vitamin D dengan…

Ini Alasan Kenapa Makan Cokelat Bikin Orang Bahagia

Di sore hari yang memusingkan, segelas cokelat panas bisa membantu melepaskan segala kepenatan yang mengganggu pikiran. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa…

Menguak Mitos Seks Populer

Tiap orang tumbuh dalam budaya yang mengajarkan hal-hal berbeda mengenai seksualitas. Selain belajar tentang seks dari lingkungan dan keluarga, banyak…