Solidnya Penjualan Indofood Kerek Laba Bersih - Raup Laba Rp 3,89 Triliun

NERACA

Jakarta – Masih besarnya tingkat konsumsi masyarakat, memberikan dampak signifikan bagi terhadap kinerja keuangan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebagai produsen mie instan. Pasalnya, sepanjang tahun 2014 lalu, perseroan berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp3,89 triliun, melesat 55,2% dibanding 2013 sebesar Rp2,5 triliun.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood, Anthoni Salim mengatakan, meningkatkan laba bersih perusahaan didukung susutnya beban keuangan akibat rugi selisih kurs dari kegiatan pendanaan yang lebih rendah.

Kemudian capaian laba bersih tersebut juga didukung penjualan bersih konsolidasi yang mengalami peningkatan sebesar 14,3% menjadi Rp63,59 triliun dari tahun 2013 senilai Rp55,62 triliun. Kelompok usaha strategis produk konsumen berberek (CBP) menjadi kontributor terbesar tarhadap penjualan konsolidasi perusahaan sebesar 47%, diikuti grup Bogasari 25%, agribisnis 20% dan distribusi 8%.

Grup CBP mencatat pertumbuhan sebesar 20,9% dari total penjualan didorong naiknya harga jual rata-rata. Sedangkan penjualan grup Bogasari meningkat 6,7% karena naiknya harga jual rata-rata dan volume.

Adapun grup agribisnis membukukan kenaikan penjualan sebesar 10,4%, yang didukung meningkatnya harga jual rata-rata produk sawit serta minyak dan lemak nabati. Grup distribusi mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 12,9% karena meningkatnya penjualan grup CBP.

Sementara pada tahun ini, Anthoni optimistis kinerja perseroan akan membaik dengan terus memperkuat dan memperluas kegiatan usaha di dalam negeri dan mengindentifikasikan berbagai peluang di kawasan regional maupun internasional. Selain itu, juga mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Tumbuhnya kinerja keuangan Indofood di 2014, rupanya di ikuti pula anak usahanya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang membukukan kenaikan penjualan bersih konsolidasi sebesar 19,6% menjadi Rp30,02 triliun dibanding tahun sebelumnya senilai Rp25,009 triliun,”Perusahaan berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba sebesar dua digit di tengah kondisi perekonomian dalam negeri dan industri fast moving consumer goods yang sulit," kata Anthoni Salim.

Sementara itu, naiknya penjualan terutama didorong kenaikan harga jual rata-rata. Adapun divisi terbesar perseroan adalah mi instan, yang mengontibusi hingga 65% terhadap penjualan bersih konsolidasi, diikuti divisi dairy sebesar 18%, makanan ringan 7% dan minuman 6%.

Sedangkan penyedap makanan serta nutrisi dan makanan khusus, masih-masing menyumbang 2% terhadap penjualan bersih konsolidasi perusahaan. Meningkatnya penjualan tersebut mendorong naiknya laba bersih sebesar 17% menjadi Rp2,6 triliun dari tahun sebelumnya senilai Rp2,23 triliun.

Dengan hasil tersebut, Anthoni menegaskan, perusahaan akan terus berupaya mempercepat pertumbuhan secara organik dan mengindentifikasikan berbagai peluang usaha baru,”Kami yakin dengan tujuan dan arahan strategis yang jelas, kemampuan berkembang dan menyesuaikan diri dengan kondisi pasar secara dinamis dan kedisiplinan, kami dapat menangkap peluang yang ada dan mempertahankan kepemimpinan di pasar," tutur dia.(bani)

Related posts