Dulu Buntung, Kini Garuda Mulai Untung

NERACA

Jakarta – Lambat tapi pasti, kinerja keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mulai kembali pulih dari beban rugi tahun lalu sebesar Rp 4,65 triliun. Pulihnya kinerja keuangan perseroan seiring dengan perolehan laba di bulan Februari 2015.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia, Ari Askhara Danadiputra mengatakan, perseroan pada Januari 2015 masih membukukan rugi sebesar US$ 2,8 juta atau setara Rp36,4 miliar (kurs Rp13.000/US$). Namun jumlah itu menurun signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 73,7 juta,”Sedangkan pada bulan Februari 2015, Garuda telah berhasil membukukan keuntungan sebesar US$ 1,2 juta atau sebesar Rp15,6 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mengalami kerugian sebesar US$ 77,4 juta," kata Ari di Jakarta, kemarin.

Selain itu, kata Ari, perseroan tahun ini tengah menjajaki untuk mengajukan pinjaman bank sebesar Rp2,3 triliun dari PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) atau BII Maybank,”Pinjaman ini terdiri dari US$ 100 juta atau setara Rp1,3 triliun dengan kurs Rp13.000/US$ dan pinjaman rupiah Rp1 triliun, sehingga totalnya Rp2,3 triliun,”ungkapnya.

Dia menjelaskan, pinjaman ini mempunyai tingkat suku bunga pinjaman sebesar 3% untuk valuta asing (valas) dan 7,8% untuk pinjaman rupiah. Rencananya, dana pinjaman tersebut digunakan untuk pelunasan utang dolar yang jatuh tempo Juni sebesar US$ 350 juta.

Utang jatuh tempo yang akan dilunasi tersebut antara lain kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Permata Tbk. Sementara, dana dalam bentuk rupiah akan dipakai maskapai penerbangan pelat merah itu untuk membeli avtur ke PT Pertamina (Persero).

Sebenarnya, kata dia, Garuda berencana menerbitkan sukuk global senilai US$ 500 juta pada Mei. Namun, lantaran tidak ingin menambah bunga utang, perusahaan memilih berutang jangka pendek untuk melunasi utang jatuh tempo tersebut,”Ini untuk biaya talangan dalam melunasi utang dari pada menunggu sukuk yang akan diterbitkan pada pertengahan Mei 2015, karena kita tunggu laporan keuangan kuartal I/2015," ujarnya.

Dia mengatakan, perusahaan tidak berencana menambah utang ke depan, meskipun ada ruang pinjaman. Hal ini setelah EBITDA perusahaan meningkat dengan adanya bantuan pemerintah untuk investasi pembiayaan ke China. Sebelumnya, maskapai berpelat merah ini memperoleh fasilitas pembiayaan talangan (bridging financing) senilai US$ 400 juta dari National Bank of Abu Dhabi (NBAD) dan Dubai Islamic Bank PJSC (DIB). Jangka waktu fasilitas pembiayaan ini hanya 12 bulan yang bertujuan untuk menjembatani rencana penerbitan surat utang syariah (sukuk) global perseroan tahun ini.

Asal tahu saja, pada periode Januari 2015, Garuda berhasil mengangkut 1,87 juta penumpang, tumbuh 15,1% dibandingkan periode yang sama pada 2014 sebanyak 1,63 juta penumpang. Sementara itu, jumlah penumpang pada Februari 2015 mencapai 1,72 juta, meningkat 10,8% dibandingkan periode yang sama 2014 sebanyak 1,55 juta penumpang. (bani)

BERITA TERKAIT

BPS Nilai Mulai Terjadi Pemerataan di Indonesia

    NERACA   Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini…

Lagi, Garuda Dinobatkan Maskapai Terbaik - Trip Advisor Travellers Choice Awards

NERACA Jakarta - Maskapai nasional Garuda Indonesia beserta anak usahanya, Citilink Indonesia berhasil meraih penghargaan “Trip Advisor 2018 Travellers Choice…

Garuda Lunasi Utang Obligasi Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Menjaga kepercayaan para pemegang saham dan termasuk share holder, ditengah isu negatif soal ancaman mogok kerja para…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Penjualan HEXA Capai 22,95% Dari Target

Di kuartal kedua 2018, PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) membukukan penjualan alat berat sebanyak 495 unit atau 22,95% dari target…

Penjualan Kabelindo Murni Turun 29,45%

NERACA Jakarta - PT Kabelindo Murni Tbk (KBLM) membukukan penjualan bersih konsolidasi sebesar Rp221,7 miliar sepanjang kuartal I/2018. Capaian tersebut…

BTPN Bukukan Laba Bersih Rp 1,09 Triliun

NERACA Jakarta – Semester pertama 2018, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) membukukan laba bersih Rp 1,09 triliun atau…