Aksi Para Spekulan Bikin Laju IHSG Rapuh

NERACA

Manado – Besarnya nilai transaksi uang yang berputar di pasar modal, membuat industri ini menjadi serbuan para investor asing. Namun demikian, industri pasar modal tidak luput pula dari para aksi spekulan yang meramaikan kondisi pasar modal.

Pengamat ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Dr Joubert Maramis mengatakan, spekulan di pasar modal Indonesia masih cukup banyak sehingga mempengaruhi kondisi bursa jangka pendek,”Memang pasar modal khususnya di Indonesia, spekulan masih relatif signifikan dan mempengaruhi kondisi bursa jangka pendek," kata Joubert,di Manado, Rabu (18/3).

Joubert mengatakan, namun jika kondisi emiten pada umumnya kuat atau kinerja keuangannya tinggi maka spekulan ataupun capital fly hanya akan sedikit karena investasi pasar modal berdasarkan aspek rasional atas trade off risk and return," katanya.

Dia menuturkan, investor berbeda dengan spekulan. Dimana investor cenderung menginvestasikan uangnya dalam saham, obligasi dan derivatif dalam jangka panjang dan jumlah yang relatif besar sehingga benefitnya jangka panjang.

Sedangkan spekulan, katanya, kebalikannya yaitu jangka pendek, profit taking dan relatif tidak besar per institusi atau perorang dibanding investor. Dia menjelaskan return di pasar saham khususnya saham kan ada dua yaitu capital gain dan deviden, kalau obligasi ada coupon rate, capital gain dan maturity price.

Spekulan akan menjual menjual portofolio investasinya jika dianggap margin keuntungannya sudah melebihi dari return yang diharapkan sedangkan investor akan jual portofolionya jika emiten berkinerja jelek.

Kalau suku bunga di Amerika Serikat (AS) naik, namun return yang ditawarkan lebih baik di pasar modal Indonesia lebih tinggi untuk tingkat resiko yang sama, maka tidak logis dana kembali atau ditanamkan di Amerika Serikat,”Memang saat ini psikologi pasar lagi menurun, kurs yang melemah, kecendrungan teejadinya inflasi dan tidak stabilnya kondisi politik membuat tingkat resiko di pasar modal Indonesia secara psikologis meningkat.”ungkapnya.

Jika peningkatkan resiko ini tidak diimbangi oleh peningkatan return, katanya, maka logis kalau dana keluar dari Indonesia, karena investor takut rugi. Portofolio investasi di pasar modal itu tergantung tingkat risk and return serta preferensi atau perilaku atas risk dan return investor. Perdagangan sesi pertama Rabu kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 18,745 poin (0,34%) ke level 5.420,408. Sementara Indeks LQ45 turun 3,649 poin (0,39%) ke level 941,340.

Sembilan sektor jadi sasaran aksi jual. Sektor konsumer yang terkena koreksi paling dalam. Saham-saham bank masih jadi incaran beli investor domestik. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 119.732 kali dengan volume 3,223 miliar lembar saham senilai Rp 2,498 triliun. Sebanyak 90 saham naik, 151 turun, dan 91 saham stagnan.

Bursa-bursa regional bisa menepis sentimen negatif melemahnya Wall Street dengan bergerak di teritori positif. Bursa Singapura menemani BEI di zona merah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 800 ke Rp 66.300, Multi Prima (LPIN) naik Rp 450 ke Rp 6.300, Mayora (MYOR) naik Rp 425 ke Rp 28.175, dan United Tractor (UNTR) naik Rp 350 ke Rp 20.850. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Unilever (UNVR) turun Rp 900 ke Rp 38.100, Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 450 ke Rp 10.050, Astra Agro (AALI) turun Rp 450 ke Rp 25.800, dan Solusi Tunas (SUPR) turun Rp 425 ke Rp 9.425. (ant/bani)

Related posts