Ekspansi Bisnis Multi Agro Terhambat Modal - Tunda Pembangunan Pabrik

NERACA

Jakarta – Ekspansi bisnsi syarat dengan modal yang kuat dan tanpa itu, tentunya akan sulit meningkatkan penjualan dan termasuk laba. Kondisi inilah yang dialami, PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (MAGP) yang harus menahan diri untuk melakukan ekspansi tahun ini. Pasalnya, pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) yang direncanakan dimulai tahun ini harus kembali tertunda karena kebutuhan dana yang belum mencukupi.

Sekretaris Perusahaan Multi Agro Gemilang Plantation, Laurena Margaretha Olivia mengatakan, sampai saat ini, pembangunan PKS di Singkawang, Kalimantan Barat masih ditunda. Alasannya, perusahaan belum memiliki pendanaan yang investasinya mencapai Rp150 miliar,”Rencananya, mayoritas pendanaan memakai kas internal, sisanya sebesar 30% akan melalui pinjaman perbankan," kata Olivia di Jakarta, Senin (16/3).

Sebelumnya, perseroan menargetkan dua PKS baru yang dapat beroperasi pada tahun ini, yakni di Riau dan Singkawang. Kapasitas dua PKS tersebut masing-masing sebesar 45 ton per jam dengan total investasi Rp300 miliar. Namun, sampai saat ini dua PKS tersebut terbengkalai. Praktis, hanya satu PKS yang dimiliki perseroan di Calang, Aceh yang beroperasi dengan kapasitas sebesar 45 ton per jam.

Lebih lanjut dia mengatakan, tahun ini pihaknya akan melakukan konsolidasi internal dengan menanam kebun sawit. Dari luas areal tanam masih banyak yang belum tertanam. "Apalagi tahun lalu sama sekali tidak ada produksi, sebab belum ada tanaman yang menghasilkan dari kebun kami," katanya.

Sebagai informasi, saham emiten perkebunan kelapa sawit mulai layu. Sejak awal tahun, saham sektor perkebunan cuma mampu menghijau 0,07%. Analis menilai bahwa belum ada katalis positif yang dapat menyuburkan kinerja para emiten perkebunan.

Menurut Ciptadana Securitis, Andre Varian, hal ini disebabkan harga Crude Palm Oil (CPO) yang masih rendah di kisaran RM 2.200 per ton. Lalu harga minyak dunia pun masih rendah.Permintaan CPO dari luar negeri pun mulai berkurang. Andre bilang, ekspor CPO ke Cina menurun di Januari dan Februari. Analis First Asia Capital David Sutyanto menambahkan, India pun memilih untuk mengurangi CPO dan mengimpor sunflower seed oil dari Ukraina,”Tahun ini CPO tak lagi menjadi unggulan karena kondisinya tak terlalu bagus,”kata David.

Meski begitu, dia masih berharap kondisi harga kelapa sawit dapat membaik di semester kedua ini seiring perbaikan panen. Ia memperkirakan, harga CPO akan berada di rentang RM 2.200 sampai RM 2.300. Kemudian Andre memprediksi harga CPO akan berada di kisaran RM 2.300.

Rencana pemerintah yang akan menggenjot penggunaan biodiesel pun tak bisa banyak diharapkan. Andre mengaku skeptis dengan wacana biodiesel ini. Tahun lalu pun, pemerintah tak bisa mencapai target. Jika pun berjalan di tahun ini, dia memperkirakan CPO yang terserap untuk biodiesel hanya sekitar 5% sampai 7% dari total produksi. (bani)

Related posts