IFEX 2015 Tegaskan Kekuatan Industri Mebel RI - Cetak Rekor Baru

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Soenoto mengatakan pameran industri mebel dan kerajinan terbesar di Indonesia, yaitu Indonesia International Furniture Expo (IFEX) yang berakhir pada hari kemarin mencetak rekor baru dari segi jumlah pengunjung. Keberhasilan acara tersebut menegaskan kekuatan Indonesia dan popularitas sektor industri mebel dan kerajinan Indonesia.

"Jika dibandingkan dengan tahun lalu, IFEX 2015 lebih ramai. Ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah peserta, luas lahan pameran dan buyer yang datang ke IFEX 2015," ujar saat acara penutupan IFEX di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, pada tahun lalu jumlah peserta pameran sebanyak 400 perusahaan, sementara untuk tahun ini 470 perusahaan. Untuk lahan yang digunakan, pada tahun lalu 40 ribu meter persegi, sedang pada 2015 ini luasnya mencapai 50 ribu meter persegi.

"Untuk transaksi, tahun lalu US$ 200 juta, tahun ini mencapai US$ 270 juta. Buyer yang datang berjumlah 7.000 pembeli, pada tahun lalu 6.000 pembeli. Dengan demikian, target mendatangkan buyer tercapai," lanjutnya.

Sementara untuk 2016, pameran IFEX rencananya akan tetap diselenggarakan di JIEXpo Kemayoran, Jakarta. Untuk tahun depan akan ada tambahan lahan pameran sekitar 10 ribu meter persegi yang letaknya di belakang Hall B dan C.

"Artinya, untuk tahun depan pameran ini akan lebih besar lagi dari sisi lahan karena adanya pembangunan baru yang akan selesai pada Agustus tahun ini," kata dia.

Pelaksanaan IFEX 2015 didukung penuh oleh instasi Pemerintah seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Kehutanan, Pemerintah Daerah, serta stakeholder nasional. Pameran ini juga diikuti oleh peserta dari mancanegara seperti Tiongkok, Taiwan, Belgia, Perancis, Amerika Serikat, Italia, Singapura, Afrika Selatan, Malaysia, Belanda dan Austria.

Di pameran ini digelar pula 70 karya desain baru yang dihasilkan dari desainer muda indonesia dan telah mendapat appresiasi yang luar biasa dari pengunjung lokal maupun buyer mancanegara serta para produsen terkemuka di Indonesia yang telah berhasil melakukan kolaborasi.

Sebelumnya, Pemerintah berencana akan membuka kembali aturan ekspor log kayu dan penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) bagi industri furnitur Indonesia. Namun jika aturan ekspor log dibuka, maka industri furnitur nasional akan gulung tikar.

Sementara, kebijakan pemberlakuan SVLK menjadi masalah krusial yang memberatkan para pelaku usaha. Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Soenoto mengatakan, meski SVLK sudah direvisi dalam bentuk Deklarasi Ekspor (DE), aturan tersebut masih sulit diterapkan industri furnitur dan handycraft.

“AMKRI secara tegas menolak pemberlakuan SVLK dan sejenisnya terhadap industri furnitur dan handicraft. Ini akan menjadi hambatan ekspor industri mebel dan kerajinan Indonesia di pasar global,” ujarnya.

Lebih lanjut Soenoto mengatakan kayu log merupakan suatu bahan baku yang vital bagi funiture dan handycraft. Pemerintah harus memberikan policy yang bijak. Selain itu, AMKRI juga meminta agar penerapan SVLK hanya diperuntukkan bagi perusahaan di sektor hulu, seperti industri pengolahan kayu dan industri yang menggunakan kayu dalam skala besar seperti industri pulp dan paper.

"AMKRI menolak SVLK untuk industri furniture dan handycraft. Industri mebel dan kerajinan berbasis kayu adalah industri hilir yang menggunakan bahan baku kayu yang telah disiapkan oleh industri hulu," kata dia.

Jika Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tetap memberlakukan kedua hal ini, maka AMKRI mengancam akan melakukan aksi demonstrasi di kementerian tersebut. "Kalau sampai akhir Maret ini tetap dibiarkan, kami akan lakukan action dengan turun ke jalan dan mendatangi Kementerian LH dan Kehutanan," jelas Soenoto.

Selain itu, pihaknya juga akan melayangkan surat permintaan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mereshuffle sebagian menteri di dalam kabinetnya. Soenoto, memperkirakan seiring membaiknya permintaan pasar mebel dan kerajinan dunia, Indonesia menargetkan peningkatan ekspor furnitur karena partisipasi dalam berbagai pameran berskala internasional diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekspor furnitur ini. “Kami yakin prospek pasar mebel dan kerajinan masih bertumbuh,” kata Soenoto.

Soenoto memperkirakan tahun ini ekspor mebel dan kerajinan akan mencapai angka US$ 5 miliar. Terkait rencana pemerintah meningkatkan target pertumbuhan ekspor produk mebel dan kerajinan nasional mencapai US$ 5 miliar pada lima tahun ke depan, kalangan pengusaha optimistis dengan syarat pemerintah memberikan dukungan, baik melalui regulasi yang tepat maupun komponen lain seperti infrastruktur dan memfasilitasi pameran.

Soenoto optimistis dalam lima tahun ke depan nilai ekspor industri ini bisa menjadi barometer, khususnya di kawasan ASEAN. Menurut Soenoto, industri furnitur harus mendapat perhatian karena mampu menyerap banyak tenaga kerja dan penghasil devisa yang bisa diandalkan.

Related posts