Asumsi Makro 2012

Oleh: A Eko Cahyono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Mencermati pembahasan asumsi makro APBN 2012 yang bertele-tele dan berkepanjangan antara Komisi XI DPR, Kementerian Keuangan, Kementerian PPN/Kepala Bappenas, dan Bank Indonesia ternyata hanya menghabiskan waktu saja. Buktinya perubahan asumsi makro tidak signifikan.

Bahkan cuma satu komponen saja yang angka berubah. Yakni suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN), dari tiga bulan dari yang diajukan pemerintah sebesar 6,5% kemudia disetujui menjadi 6,4%. Selebihnya terkait inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS angkanya sama.

Pembahasan bertele tele dan terkesan membuang waktu bersama DPR menjadi kerugian bersama, baik DPR maupun pemerintah. Karenanya waktu menjadi tidak produktif. Padahal saat ini ada masalah besar di depan mata yang harus segera diambil keputusanya, terkait ketidakpastian ekonomi global.

Yang lebih mengherankan lagi, rapat beberapa berturut-turut belum juga bisa memutuskan asumsi makro RAPBN 2011. DPR sendiri ngotot target pengangguran dan kemiskinan bersama angka-angka pastinya dimasukkan kedalam batang tubuh RUU APBN 2012.

Pemerintah sendiri sebenarnya setuju target tersebut dimasukkan kedalam RUU APBN 2012. Namun masalah target angka-angka, memang belum mendapatkan kesepakatan. Inilah yang terkesan ada unsur kesengajaan DPR untuk menghambat kinerja pemerintah. Padahal soal angka-angka itu bisa dibahas dalam Badan Anggaran DPR.

Kadang DPR terlalu banyak bermanuver. Makanya citra DPR terus terpuruk. Kalau Komisi XI DPR membahas semua masalah RUU ABPN dari A-Z. Maka apa gunanya peran Banggar dan Komisi? Hingga saat ini masih ada stigma di masyarakat terhadap DPR, kalau bisa dipersulit-kenapa harus dipermudah?

Yang jelas angka asumsi makro yang tidak banyak itu sebenarnya mengandung kecemasan, apalagi menyangkut suku bunga SPN 3 Bulan. Pasalnya, tingkat bunga di dunia banyak sekali yang sudah disesuaikan untuk merespon inflasi. Ditambah lagi pemerintah sudah berulang kali menaikkan bunga. Malah kalau tidak salah, sudah menaikkan antara enam sampai delapan kali menaikkan tingkat bunga

Semua negara, tingkat inflasinya sudah membahayakan. Maka dari itu, pemerintah perlu memiliki ruang untuk 2012. Setidaknya Angka 6,4% merupakan angka yang pas dan moderat untuk menghadapi berbagai kemungkinan di tahun 2012. Alasanya seandainya negara lain menaikkan bunga, maka capital inflow di Indonesia bisa berbalik, kemudian mengejar ke negara-negara yang sudah menaikkan tingkat bunga, maka 6,4% dinilai sudah “nyaman”.

Namun demikian pertumbuhan ekonomi 6,7% harus betul-betul dijaga. Masalahnya target ini merupakan angka yang termasuk tinggi. Karena, semua lembaga keuangan internasional merevisi pertumbuhan ekonomi 2012 lebih rendah dari 2011.

BERITA TERKAIT

Refocussing Anggaran Covid-19 Butuh Peran Pajak

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak *)   Hingga Maret 2020, penyakit coronavirus 2019 (Covid-19), terindentifikasi dan berkembang…

Mendukung Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

  Oleh : Ahmad Kosasih, Pengamat Sosial Politik Pemerintah mengambil kebijakan Pembatasan sosial berskala besar dalam menekan laju penyebaran Virus…

Pentingnya Atasi Obesitas Regulasi

  Oleh : Dr. Ade Reza Hariyadi, Doktor lulusan UI dan Dosen   Masalah banyaknya peraturan perundang-undangan yang berpotensi saling…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Urgensi Penurunan Harga Gas Industri

  Oleh: Samsul Hilal, Alumnus Pascasarjana FEB-UI Kemarahan Jokowi (06/01/2020) karena harga gas industri yang tinggi ditindaklanjuti dengan langkah yang…

Omnibus Law Ciptaker Meminimalisasi Dampak Ekonomi Covid-19

  Oleh : Edi Jatmiko, Pengamat Kebijakan Publik Pandemi Covid-19 diyakini akan memukul  perekonomian Indonesia. Sejumlah pihak pun mendesak DPR…

Mewaspadai Politisasi Wabah Corona

  Oleh : Angga Gumilar, Pengamat Sosial Politik   Penyebaran Virus Corona atau Covid-19 menjadi ancaman nyata yang terus terjadi.…