Awal Pekan, IHSG Berpeluang Menguat

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan kemarin, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif dengan ditutup melemah. Aksi ambil untung investor menjadi hambatan IHSG bergerak menguat yang sudah terjadi diawal perdagangan.

Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, sentimen global yang masih variatif membuat sebagian investor kembali mengambil posisi lepas saham,”Sentimen yang muncul cenderung masih spekulatif, salah satunya kenaikan suku bunga AS, di tengah kondisi itu pelaku pasar cenderung menghindari pasar dengan melakukan aksi jual di pasar saham," katanya di Jakarta, kemarin.

Kendati demikian, menurut dia, potensi indeks BEI untuk kembali menguat masih terbuka, hal itu terlihat dari faktor teknikal yang masih bertahan di posisi 5.400 poin. Diharapkan sinyal positif dari faktor teknikal masih bertahan. IHSG Senin awal pekan, diperkirakan mampu balik arah ke zona hijau.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Pasar Modal BEI Friderica Widyasari Dewi menilai, kondisi pasar modal Indonesia masih cukup stabil meski dibayangi sentimen negatif baik dari global maupun internal,”Pergerakan IHSG memang sedang anomali, namun kami tetap yakin kinerja pasar modal Indonesia tetap akan positif pada tahun ini," ujarnya.

Dia menambahkan, dana investor asing di pasar saham yang masih tinggi menunjukkan industri pasar modal domestik masih kondusif. Apalagi, orientasi investor bersifat jangka panjang. Asal tahu saja, mengakhiri perdagangan akhir pekan, IHSG ditutup terkoreksi 13,366 poin (0,25%) ke level 5.426,466. Sementara Indeks LQ45 mundur 2,708 poin (0,29%) ke level 942,345.

Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 464,549 miliar, di pasar reguler dan negosiasi. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 232.497 kali dengan volume 5,325 miliar lembar saham senilai Rp 5,427 triliun. Sebanyak 124 saham naik, 158 turun, dan 89 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia sore mayoritas menutup perdagangan dengan positif. Hanya bursa saham Singapura yang ketinggalan di zona merah bersama BEI. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Mandom (TCID) naik Rp 375 ke Rp 18.850, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 350 ke Rp 17.300, Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 325 ke Rp 10.300, dan Inti Agri (IIKP) naik Rp 300 ke Rp 2.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.275 ke Rp 53.800, Astra Agro (AALI) turun Rp 525 ke Rp 25.625, Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 375 ke Rp 11.975, dan Indocement (INTP) turun Rp 300 ke Rp 22.200.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup terkoreksi 13,185 poin (0,24%) ke level 5.426,647. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 3,398 poin (0,36%) ke level 941,655. Dua sektor masih bisa menguat, yaitu infrastruktur dan perdagangan. Delapan sektor lainnya loyo akibat tekanan jual.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 133.244 kali dengan volume 3,04 miliar lembar saham senilai Rp 2,795 triliun. Sebanyak 117 saham naik, 127 turun, dan 80 saham stagnan. Bursa-bursa regional rata-rata bergerak menguat hingga siang.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 275 ke Rp 17.225, Multi Prima (LPIN) naik Rp 275 ke Rp 6.500, XL Axiata (EXCL) naik Rp 95 ke Rp 4.485, dan Matahari Putra Prima (MPPA) naik Rp 90 ke Rp 4.290. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 875 ke Rp 53.200, Astra Agro (AALI) turun Rp 600 ke Rp 25.550, Indocement (INTP) turun Rp 325 ke Rp 22.175, dan Blue Bird (BIRD) turun Rp 175 ke Rp 10.050.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka naik 18,10 poin atau 0,33% menjadi 5.457,93, dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 4,57 poin (0,48%) ke level 949,62. Reza Priyambada mengatakan, penguatan IHSG BEI pada akhir pekan salah satunya ditopang oleh sebagian pelaku pasar saham yang memanfaatkan saham-saham di dalam negeri yang telah terkoreksi, “IHSG BEI sempat masuk dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah pasca menyentuh poin tertinggi pada 6 Maret 2015 lalu di posisi 5.514 poin, indeks BEI yang sempat melemah mendorong pelaku pasar kembali mengakumulasi saham," kata Reza.

Selain itu, lanjut dia, bursa saham di kawasan Asia juga bergerak menguat sehingga menambah sentimen positif bagi pasar saham domestik. Diharapkan sinyal positif yang terjadi saat ini menopang kenaikan IHSG lebih lanjut.

Analis Samuel Sekuritas Akhmad Nurcahyadi menambahkan bahwa meski rupiah masih dalam tren pelemahan namun IHSG masih mampu melanjutkan penguatan,”Meski demikian, masih adanya kekhawatiran di pasar seputar pelemahan nilai tukar rupiah dan berita hasil 'stress test' beberapa bank di Indonesia berpotensi menghambat penguatan tersebut," kata Akhmad Nurcahyadi.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 64,96 poin (0,27%) ke 23.862,92, indeks Bursa Nikkei naik 259,92 poin (1,37%) ke 19.256,37, dan Straits Times menguat 2,52 poin (0,07%) ke posisi 3.375,12. (bani)

Related posts