AMKRI: Revisi SVLK Masih Sulit Diterapkan - Industri Mebel dan Kerajinan

NERACA

Jakarta - Pemerintah berencana akan membuka kembali aturan ekspor log kayu dan penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) bagi industri furnitur Indonesia. Namun jika aturan ekspor log dibuka, maka industri furnitur nasional akan gulung tikar. Sementara, kebijakan pemberlakuan SVLK menjadi masalah krusial yang memberatkan para pelaku usaha. Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Soenoto mengatakan, meski SVLK sudah direvisi dalam bentuk Deklarasi Ekspor (DE), aturan tersebut masih sulit diterapkan industri furnitur dan handycraft.

“AMKRI secara tegas menolak pemberlakuan SVLK dan sejenisnya terhadap industri furnitur dan handicraft. Ini akan menjadi hambatan ekspor industri mebel dan kerajinan Indonesia di pasar global,” ujarnya saat acara pembukaan Indonesia International Furniture Expo 2015 (IFEX) di Jakarta, Kamis (12/3).

Lebih lanjut Soenoto mengatakan kayu log merupakan suatu bahan baku yang vital bagi funiture dan handycraft. Pemerintah harus memberikan policy yang bijak. Selain itu, AMKRI juga meminta agar penerapan SVLK hanya diperuntukkan bagi perusahaan di sektor hulu, seperti industri pengolahan kayu dan industri yang menggunakan kayu dalam skala besar seperti industri pulp dan paper.

"AMKRI menolak SVLK untuk industri furniture dan handycraft. Industri mebel dan kerajinan berbasis kayu adalah industri hilir yang menggunakan bahan baku kayu yang telah disiapkan oleh industri hulu," kata dia.

Jika Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tetap memberlakukan kedua hal ini, maka AMKRI mengancam akan melakukan aksi demonstrasi di kementerian tersebut. "Kalau sampai akhir Maret ini tetap dibiarkan, kami akan lakukan action dengan turun ke jalan dan mendatangi Kementerian LH dan Kehutanan," jelas Soenoto.

Selain itu, pihaknya juga akan melayangkan surat permintaan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mereshuffle sebagian menteri di dalam kabinetnya. Soenoto, memperkirakan seiring membaiknya permintaan pasar mebel dan kerajinan dunia, Indonesia menargetkan peningkatan ekspor furnitur karena partisipasi dalam berbagai pameran berskala internasional diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekspor furnitur ini. “Kami yakin prospek pasar mebel dan kerajinan masih bertumbuh,” kata Soenoto.

Soenoto memperkirakan tahun ini ekspor mebel dan kerajinan akan mencapai angka US$ 5 miliar. Terkait rencana pemerintah meningkatkan target pertumbuhan ekspor produk mebel dan kerajinan nasional mencapai US$ 5 miliar pada lima tahun ke depan, kalangan pengusaha optimistis dengan syarat pemerintah memberikan dukungan, baik melalui regulasi yang tepat maupun komponen lain seperti infrastruktur dan memfasilitasi pameran.

Soenoto optimistis dalam lima tahun ke depan nilai ekspor industri ini bisa menjadi barometer, khususnya di kawasan ASEAN. Menurut Soenoto, industri furnitur harus mendapat perhatian karena mampu menyerap banyak tenaga kerja dan penghasil devisa yang bisa diandalkan.

Untuk mengangkat citra furnitur Indonesia di mata internasional, sinergi antarkementerian/lembaga sangat diperlukan, misalnya dalam hal pengembangan sumber daya manusia dan teknologi tepat guna. Dalam waktu dekat, kalangan asosiasi juga akan merampungkan road map dan rencana aksi industri furnitur.

Ditempat yang sama, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto mengatakan saat ini produk furnitur asal Indonesia telah diekspor ke sejumlah negara dikawasan Eropa, Amerika, Afrika, Timur Tengah, dan Asia.

Beberapa negara yang terbilang pasar baru bagi ekspor furnitur Indonesia, di antaranya Rusia, India, serta seluruh Amerika Latin, kecuali Argentina yang masih sangat kecil porsinya. Di lain pihak, investasi asing di sektor furnitur atau mebel yang masuk ke Indonesia sejauh ini adalah dari Jerman, Jepang, Finlandia, Taiwan, dan yang terbaru adalah Filipina yang tengah melirik Cirebon sebagai basis industri rotan.

Dia mengungkapkan, permintaan furnitur dari China sangat besar dan terus meningkat. Kondisi tersebut menjadi peluang yang cukup menjanjikan bagi pelaku industri furnitur di Tanah Air ketika tengah terjadi kelesuan pasar di Eropa dan Amerika Serikat, yang selama ini menjadi pasar utama. Dikatakan, antusiasme yang tinggi terhadap produk furnitur Indonesia di China terlihat dari hasil pameran yang digelar di sana.

Dia mengatakan, cara untuk mendorong ekspor mebel dan kerajinan, salah satunya ialah dengan melakukan kerja sama dengan para desainer. Untuk mendorong produksi mesti adanya kepastian ketersediaan bahan baku. Katanya, minimnya bahan baku karena sebagian besar juga turut diekspor.

Menurut dia, peningkatan nilai ekspor nonmigas ini sangat penting, karena terkait langsung dengan pembukaan lapangan kerja. Setiap kenaikan ekspor sebesar US$1 miliar akan membuka 400.000 lapangan kerja. Jumlah itu hanya untuk satu jenis usaha saja.

Dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki, Indonesia bisa menjadi leader untuk industri mebel dan kerajinan di Kawasan Regional ASEAN. Dengan ketersediaan bahan baku hasil hutan yang melimpah, sumber daya manusia yang terampil dalam jumlah besar dan semakin kondusifnya iklim investasi di negeri ini, maka adanya rencana AMKRI untuk meningkatkan target pertumbuhan ekspor produk mebel dan kerajinan nasional mencapai US$5 miliar dalam lima tahun kedepan bisa tercapai.

Related posts