Bakrie Telecom Tidak Lagi Senyaring Dahulu - PHK Karyawan Untuk Efisiensi

NERACA

Jakarta – Bisnis telekomunikasi PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) saat ini tidak lagi senyaring dulu. Beban utang dan performance kinerja keuangan yang terus merugi, memaksa perseroan melakukan efisiensi dan termasuk memangkas jumlah pegawainya. Rencananya, Bakrie Telecom bakal memangkas jumlah pegawai maksimal hingga 400 orang pada kuartal II-2015.

Presiden Direktur Bakrie Telecom, Jastiro Abi mengatakan, saat ini industri telekomunikasi sudah matang. Sebagai pemain di industri telekomunikasi, Bakrie Telecom harus bisa menyehatkan diri untuk bersaing dengan perusahaan lain.

Menurutnya, salah satu cara untuk menyehatkan perusahaan adalah dengan menggenjot efisiensi. Nah, efisiensi ini bisa dikejar dengan cara memangkas jumlah karyawan,”Kita harus cari jalan supaya tetap sehat, supaya survive (bertahan hidup). Kita utamakan organisasi ini efisien dan birokrasi bisa dipangkas dengan orang (pegawai) yang berkurang," kata Jastiro di Jakarta, Rabu (11/3).

Dia mengatakan, dengan dikuranginya jumlah karyawan, maka biaya operasional perusahaan bisa lebih efisien. Efisiensi dari PHK ini akan memiliki efek domino yang positif,”Dengan orang berkurang kan efisien, birokrasi dipangkas, tidak hanya cost (biaya) karyawan yang berkurang, tapi juga office (kantor), listrik, turunannya juga banyak. Multiplier effect (efek berantai)," ujarnya.

Setelah efisiensi dilakukan, operator Esia itu menargetkan bisa meraup untung dalam satu dua tahun ke depan. Rencananya, PHK akan dilakukan di kuartal II-2015. Saat ini jumlah karyawan operator Esia itu ada sekitar 1.300-an yang tersebar di seluruh Indonesia. Para karyawan, kata Jastiro, sudah diberi sosialisasi mengenai rencana PHK tersebut,”Kita totalnya nanti yang pasti harus di bawah 1.000, pengurangan antara 300-400," ucapnya.

Asal tahu saja, kinerja terakhir yang sudah dilaporkan pada Juni 2014 masih mencatat rugi sebesar Rp 316,8 miliar. Kerugiannya makin tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 292,6 miliar.

Jastiro menambahkan, Bakrie Telecom harus mencari cara untuk melakukan penghematan supaya tetap bisa bersaing di industri telekomunikasi yang sudah matang seperti sekarang ini,”Bisnis harus tetap tumbuh. Industri ini sudah mature, kita harus cari jalan supaya tetap sehat, supaya bisa survive," jelasnya.

Saat ini jumlah perusahaan telekomunikasi itu ada sekitar 1.300-an yang tersebar di seluruh Indonesia. Para karyawan ini, kata Jastiro, sudah diberi sosialisasi mengenai rencana PHK tersebut."Kita totalnya nanti yang pasti harus di bawah 1.000, pengurangan antara 300-400," ucapnya.

Tahun ini juga, Bakrie Telecom menargetkan mampu melunasi utang dengan skema obligasi wajib konversi (mandatory convertible bond-A/MCB-A) pada kuartal II-2015. Tiga kreditor perseroan, yakni Huawei Tech Investment Co Ltd, PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) dan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) berpeluang mengantongi saham Bakrie Telecom pada saat pelaksanaan konversi. (bani)

Related posts