Rupiah Terus Merosot, IHSG Ikut Terseok

NERACA

Jakarta – Makin terdepresiasinya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level penutupan kemarin (11/3) Rp 13.192 per US$, membuat kepanikan pelaku pasar lantaran laju dolar yang terus tidak terbendung. Meski pemerintah menilai pelemahan rupiah bersifat normal. Namun faktanya dilapangan, kondisi ini menjadi sentimen negatif terhadap laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang turut merosot pada waktu yang sama.

Menutup perdagangan Rabu (11/3), IHSG ditutup melemah 43,36 poin atau 0,79% menjadi 5.419,56. Sementara kelompok 45 saham unggulan (indeks LQ45) turun 7,88 poin (0,83%) ke level 941,51. Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, IHSG BEI bergerak melemah seiring dengan kekhawatiran investor terhadap kinerja emiten domestik pada tahun 2015 ini,”Sentimen pelemahan rupiah terhadap dolar AS menyusul rencana The Fed yang akan menaikkan suku bunganya, memicu kekhawatiran kinerja emiten tahun ini akan terpengaruh,”ujarnya di Jakarta, Rabu (11/3).

Menurut dia, kinerja emiten domestik pada tahun ini dapat terpengaruh oleh kondisi mata uang rupiah yang cenderung tertekan terhadap dolar AS, sehingga menimbulkan spekulasi di pasar saham tinggi."Untuk menghindari spekulasi itu, investor terutama asing cenderung mengambil posisi keluar sehingga menekan IHSG BEI," katanya.

Sementara itu tercatat, pelaku pasar saham asing membukukan jual bersih (foreign net sell) sebesar Rp1,007 triliun. Kata Reza Priyambada, pemerintah diharapkan mampu mengeluarkan kebijakan baru agar gejolak di pasar keuangan di dalam negeri mereda sehingga tidak membuat investor khawatir.

Sementara itu, Analis PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo menilai, pelemahan IHSG BEI masih tergolong normal karena terjadi seiring dengan kondisi mayoritas bursa saham di kawasan Asia. Dia mengatakan, meski sentimen dari bursa saham regional cenderung, namun IHSG BEI masih berpotensi untuk melanjutkan penguatan ke depannya, hal itu terlihat dari faktor teknikal yang masih bertahan di atas level "support" di 5.410 poin,”Namun, investor juga harus tetap waspada karena kondisi rupiah yang sedang dalam tekanan terhadap dolar AS," ungkapnya.

Tercatat transaksi perdagangan saham di BEI sebanyak 262.934 kali dengan volume mencapai 5,40 miliar lembar saham senilai Rp6,33 triliun. Efek yang mengalami kenaikan sebanyak 71 saham, yang melemah 236 saham, dan yang tidak bergerak nilainya atau stagnan 89 saham.

Bagi Anggota Komisi XI DPR RI, Willgo Zainar, jika pelemahan rupiah terus berlanjut, kondisi ini dikhawatirkan membuat Indonesia berada di ambang krisis moneter,”Kalau kita memiliki fundamental ekonomi yang kuat, tidak akan terjadi krisis. Akan tetapi, kalau lemah, krisis moneter 1998 bisa-bisa di ambang pintu," kata Willgo.

Menurut dia, kondisi Indonesia saat ini masih belum kuat. Selama ini, pemerintah selalu menyebutkan argumentasi bahwa nilai rupiah turun akibat nilai dollar AS naik. Walaupun asumsi nilai tukar rupiah yang ditetapkan dalam APBN Perubahan adalah 12.500 per dollar AS, kondisinya di luar perkiraan. Nilai tukar rupiah saat ini adalah yang terburuk sejak krisis moneter tahun 1998. "Kita tidak ingin krisis moneter kembali seperti itu," kata dia.

Willgo menegaskan, utang Indonesia bertambah 5% akibat nilai tukar rupiah anjlok. Sementara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, pelemahan rupiah terhadap mata uang dolar AS masih dalam kondisi yang normal,”Ini bukan masalah, sebabnya adalah Amerika saat ini ekonominya bagus sekali. Yang kena imbas juga tidak hanya rupiah, seluruh mata uang juga kena," kata Sofyan.

Menurut dia, kondisi rupiah tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan mata uang asing lainnya, dan hanya Swiss Franch yang mengalami penguatan dari dolar AS. Akan tetapi, dirinya akan terus mengupayakan sejumlah langkah perbaikan agar nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat seperti iklim investasi, pendorongan ekspor, iklim pariwisata,”Jika pariwisata ramai maka wisatawan asing yang membawa dolar akan semakin banyak. Untuk TKI juga akan diperbaiki supaya emiten meningkat," ujarnya. bani

Related posts