Eksplorasi Indo Tambang Capai Rp 4,2 Miliar

NERACA

Jakarta – Perusahaan tambang, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sudah mengeluarkan biaya sebesar US$ 323.057 atau setara Rp4,2 miliar (kurs USD1 = Rp13.217) sepanjang 2015. Dana tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan eksplorasi yang dilakukan dua anak usahanya yaitu PT Trubaindo Coal Mining dan PT Indominco Mandiri. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (11/3).

Anak usaha perseroan PT Trubaindo Coal Mining masih menggarap eksplorasi di area North Block (NB), South Block 1 (SB1), dan South Block 2 (SB2) yang terletak pada Kecamatan Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Sedangkan PT Indominco Mandiri menggarap eksplorasi Blok Barat dan Blok Timur yang terletak pada Kecamatan Sangatta Kabupaten Kutai Timur, Kecamatan Marang Kayu Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Kecamatan Bontang Utara dan Selatan Kabupaten Bontang, Provinsi Kalimantan Timur.

Disebutkan, eksplorasi yang dijalankan dua anak usaha perseroan merupakan kelanjutan dari aktivitas yang telah dilakukan pada periode bulan sebelumnya. Adapun kegiatan eksplorasi dilaksanakan oleh Departemen Geologi dengan fokus utama pada aktivitas pemboran pre-production dan development dengan metode pemboran lubang terbuka (open hole) dan pemboran inti (coring).

Dalam mengambil sampel batu bara, PT Trubaindo Coal Mining melakukan pemboran dengan biaya mencapai US$ 138.686, sementara pemboran yang dilakukan oleh PT Indominco Mandiri mengeluarkan dana sebesar US$ 184.371.

Pada Februari 2015, pemboran yang dilakukan PT Trubaindo Coal Mining berhasil mengambil sampel batu bara sebanyak 77 sampel dari sampel pemboran uji kualitas tambang dan 127 sampel dari pemboran pre-production.

Sementara itu, pemboran pre-production di Blok Timur dilakukan oleh PT Indominco Mandiri untuk mengambil sampel batu bara sebanyak 499 sampel, yang didapat dari sampel pemboran infill dan pit. Setelah pemboran pre-production, PT Indominco Mandiri berencana melakukan pengembangan pemboran di daerah baru dengan tujuan untuk menambah tingkat keyakinan cadangan batu bara, dibandingkan dengan data eksplorasi sebelumnya dengan tingkat kerapatan yang lebih dekat.

Perseroan membukukan penurunan laba bersih sebesar 2,3% menjadi US$ 200,21 juta di akhir 2014. Angka ini merosot jika dibandingkan posisi laba yang mencapai US$ 204,98 juta di 2013. Laba bersih perseroan yang mengalami penurunan diakibatkan dari turunnya penjualan bersih perseroan sebesar 10,60% menjadi US$ 1,94 miliar, dari posisi penjualan US$ 2,17 miliar di 2013.

Sedangkan laba kotor perseroan anjlok 15,62% menjadi US$ 408,09 juta di akhir 2014, dari posisi sebesar US$ 483,69 di tahun sebelumnya. Laba sebelum pajak perseroan turun 11,30% menjadi US$ 262,03 juta, dari perolehan laba sebelum pajak sebesar US$ 295,44 juta di akhir 2013. (bani)

Related posts