Laju IHSG Dibayangi Aksi Ambil Untung

NERACA

Jakarta – Kembali terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menyentuh level Rp 13.200, memberikan sentiment negatif terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga memacu investor melakukan aksi jual. Penurunan indeks BEI sudah terjadi di awal perdagangan hingga akhir perdagangan Rabu sore.

Tercatat menutup perdagangan, Rabu (11/3), IHSG terkoreksi 43,362 poin (0,79%) ke level 5.419,566. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 7,884 poin (0,83%) ke level 941,512. Berikutnya pada perdagangan Kamis, IHSG diproyeksikan masih bergerak terkoreksi. Dana asing kembali mengalir ke luar lantai bursa. Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 1 triliun di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 263.645 kali dengan volume 6,77 miliar lembar saham senilai Rp 7,3 triliun. Sebanyak 68 saham naik, 222 turun, dan 83 saham stagnan. Sentimen melemahnya Wall Street membuat beberapa bursa Asia jatuh ke teritori negatif. Bursa saham Jepang dan China berhasil menguat.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Unilever (UNVR) naik Rp 950 ke Rp 38.750, Mandom (TCID) naik Rp 800 ke Rp 18.800, Mayora (MYOR) naik Rp 700 ke Rp 26.000, dan Centex (CNTX) naik Rp 325 ke Rp 17.425. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 800 ke Rp 23.000, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 575 ke Rp 53.900, Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 525 ke Rp 9.475, dan Lippo Cikarang (LPCK) turun Rp 525 ke Rp 11.725.

Perdagangan sesi pertama, IHSG melanjutkan koreksi yang terjadi diawal perdagangan. Sesi siang, IHSG ditutup jatuh 47,826 poin (0,88%) ke level 5.415,102. Sementara Indeks LQ45 anjlok 8,272 poin (0,87%) ke level 941,124. Seluruh indeks sektoral jatuh dengan kompak di zona merah. Saham-saham unggulan jadi sasaran aksi jual, seperti di sektor komoditas dan konstruksi.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 149.932 kali dengan volume 3,612 miliar lembar saham senilai Rp 3,566 triliun. Sebanyak 49 saham naik, 216 turun, dan 68 saham stagnan. Bursa-bursa regional bergerak variatif hingga siang hari. Melemahnya Wall Street memberi sentimen negatif.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Centex (CNTX) naik Rp 325 ke Rp 17.425, Mayora (MYOR) naik Rp 200 ke Rp 25.500, Matahari (LPPF) naik Rp 125 ke Rp 17.975, dan Unilever (UNVR) naik Rp 125 ke Rp 37.925. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 650 ke Rp 23.150, Lippo Cikarang (LPCK) turun Rp 475 ke Rp 11.775, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 475 ke Rp 54.000, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 450 ke Rp 20.900.

Pembukaan perdagangan, IHSG dibuka turun 24,60 poin atau 0,45% menjadi 5.438,32, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak melemah 6,21 poin (0,65%) menjadi 943,17,”Laju pergerakan IHSG untuk melanjutkan kenaikan terkendala oleh pelemahan yang terjadi terhadap mayoritas bursa saham global seiring kekhawatiran pelaku pasar atas penurunan harga minyak, gejolak mata uang dan negosiasi seputar program bantuan Yunani," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah.

Alfiansyah mengemukakan, pelaku pasar saat ini sedang menanti hasil pertemuan Yunani dan Troika, yang terdiri atas Komisi Eropa, Bank Sentral Eropa, dan lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) mengenai pencairan dana pinjaman darurat seiring negara itu berisiko kehabisan uang tunai.

Di sisi lain, lanjut dia, masih kuatnya spekulasi bahwa Bank Sentral AS (Federal Reserve) akan menaikkan suku bunga acuannya lebih cepat dari perkiraan menambah ketidakpastian di pasar. Dari dalam negeri, dia mengatakan bahwa Bank Indonesia masih optimistis laju inflasi 2015 akan tetap terkendali kendati nilai tukar rupiah melemah dalam beberapa hari terakhir,”Minimnya sentimen positif terutama dari global membuat IHSG dalam bayang tekanan pada perdagangan saham di BEI," katanya.

Analis Senior LBP Enterprise Lucky Bayu Purnomo menambahkan, untuk menjaga pasar keuangan domestik pemerintah harus dapat meyakinkan pasar bahwa kondisi ekonomi Indonesia ke depan masih positif,”Pemerintah harus dapat menjaga harga bahan pokok, karena hal itu nantinya akan memberikan sinyal positif bagi fundamental ekonomi domestik ke depannya," kata Lucky.

Di sisi lain, menurut Lucky Bayu Purnomo, diharapkan Bank Indonesia kembali menurunkan tingkat suku bunga (BI rate) untuk mendorong perekonomian domestik melalui jalur kredit. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 34,40 poin (0,14%) ke 23.862,58, indeks Bursa Nikkei naik 76,02 poin (0,43%) ke 18.745,13, dan Straits Times melemah 8,07 poin (0,24%) ke posisi 3.390,19. (bani)

Related posts