Industri Otomotif Revisi Target Penjualan Mobil - Kuartal I 2015

NERACA

Jakarta - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) akan merevisi target penjualan mobil pada akhir kuartal I tahun ini. “Awal tahun, kami masih menargetkan penjualan mobil sebanyak 1,2 juta unit pada 2015. Namun target ini ada kemungkinan akan direvisi pada akhir kuartal pertama 2015 dengan melihat pertumbuhan ekonomi dan kurs rupiah,” kata Ketua Gaikindo, Sudirman M.R., di Jakarta, Rabu (11/3).

Sudirman menilai, pertumbuhan ekonomi akan berpengaruh pada daya beli masyarakat, sedangkan melemahnya nilai tukar rupiah berpengaruh pada biaya produksi. Kalangan industri saat ini masih menunggu sampai sejauh mana rupiah akan stabil.

“Dengan nilai rupiah yang fluktuatif, pengusaha masih kesulitan memprediksi langkah bisnis selanjutnya. Untuk sementara, ditetapkan penjualan hingga 1,2 juta unit dan akhir Maret akan ditinjau lagi,” paparnya.

Sudirman menambahkan, sebenarnya pelemahan kurs rupiah membuat biaya produksi khususnya truk meningkat. Namun produsen truk tidak serta merta meningkatkan harga jual. “Beberapa merek masih menjual dengan harga jual lama dan stoknya juga stok lama. Setengah dari truk yang dijual masih stok lama, penjualan truk saat ini masih menggunakan asumsi kurs Rp11.700 per dolar AS,” tuturnya.

Gaikindo mencatat kapasitas total produksi mobil di Indonesia telah mencapai 1,8 juta unit per tahun. Adapun pasar mobil domestik pada tahun ini diperkirakan hanya 1,1 juta unit hingga 1,2 juta unit, sedangkan ekspornya sekitar 200.000 unit.

Data penjualan mobil hingga Maret 2015 menunjukkan bahwa pasar otomotif saat ini sedang lesu darah. Dalam beberapa bulan terakhir konsumen tampak menahan pembelian kebutuhan tersier, di tengah kenaikan harga bahan pokok dan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Karena pada saat sama produsen terus berproduksi, ditambah dalam satu tahun terakhir banyak investasi otomotif sudah teralisasi dan berproduksi, stok mobil di dealer pun menumpuk. “Jualan (mobil) saat ini berasa susahnya,” kata seorang wiraniaga di sebuah dealer di Jakarta.

Data yang dimiliki Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa total kapasitas produksi mobil di Indonesia telah mencapai 1,8 juta unit per tahun. Sementara daya serap pasar mobil domestik tahun ini diperkirakan hanya sekitar 1,1 juta – 1,2 juta unit. Sedangkan ekspor diperkirakan juga tidak bergeming dari angka sekitar 200 ribu unit.

Dalam kondisi kapasitas produksi yang besar dan pasar yang stabil dengan kecenderungan stagnan ini, stok mobil menjadi berlimpah karena sejumlah produsen tidak ingin menurunkan produksi dan mendorong pasokan ke dealer.

Hal itu setidaknya terlihat dari data Gaikindo yang menunjukkan data penjualan whole sale (ke tingkat dealer) mencapai 94.617 unit pada Januari 2015, jauh lebih tinggi dari penjualan ritel yang mencapai 81.139 unit.

Akibatnya, pada Januari stok mobil di dealer naik 54 persen menjadi 36.576 unit dibandingkan Desember 2014 sebesar 23.630 unit.

Genjot diskon

Kondisi itu membuat banyak agen pemegang merek (APM) melalui dealer mereka menerapkan strategi diskon besar-besar guna mengurangi stok mobil yang menumpuk. “Harusnya sekarang saatnya beli mobil, karena diskon banyak,” kata wiraniaga tersebut. Namun itu pun, diakuinya, belum efektif mendorong pembelian karena konsumen tampaknya masih “malas” belanja mobil.

Strategi diskon besar-besar itu, sebenarnya juga berisiko rugi bagi APM di tengah gejolak nilai tukar rupiah yang kini (10 Maret 2015) menembus angka Rp13 ribu per dolar AS. Selain itu, diskon besar biasanya diberikan untuk mobil yang diproduksi tahun 2014. Konsumen yang kritis biasanya enggan beli mobil tahun lalu karena bakal terkena depresiasi harga yang lebih rendah ketika ingin dijual kembali. Apalagi karakteristik konsumen Indonesia masih menjadikan mobil sebagai salah satu sarana investasi.

Selain itu, waspadai juga dampak negatif lain berupa penurunan kualitas layanan purna jual karena dealer dan APM tidak memiliki anggaran yang cukup akibat tekanan arus kasnya. Namun, tidak semua APM mengambil langkah menggenjot diskon besar-besaran dan mendorong pasokan ke dealer untuk mendadani kinerja penjualan mereka.

Toyota, misalnya, sebagai pemimpin pasar otomotif di Indonesia, APM-nya PT Toyota Astra Motor (TAM) lebih memilih menyeimbangkan permintaan dan pasokan di tengah tren mendorong penjualan ke dealer.

“Masing-masing APM tentu mempunyai strategi dalam menghadapi situasi pasar saat ini. kami lebih memilih mengikuti dinamika pasar dengan mempertahankan keseimbangan pasokan dan permintaan agar tingkat efisiensi tetap tercapai,” kata Wakil Presdir TAM Suparno Djasmin ketika ditanya soal kondisi pasar otomotif saat ini.

Di sela-sela bincang santai dengan sejumlah wartawan di Jakarta, belum lama ini, ia mengatakan strategi itu diambil pihaknya untuk menjaga pelayanan kepada konsumen tetap optimal. Pihaknya berupaya menjaga stok agar tidak lebih dari angka 50 persen dari penjualan bulanan.

Related posts