Peran Media Menciptakan Rasa Aman Terkait Pemberitaan Kelompok Begal - Oleh: Bahrul, Tokoh Masyarakat Kab. Rejang Lebong, Bengkulu

Berita pencurian dengan tindak kekerasan atau begal yang meresahkan masyarakat, terjadi di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Jabodetabek, umumnya di Indonesia, marak diberitakan oleh seluruh media massa nasional, baik cetak, elektronik maupun online. Kelompok begal di kota besar,diberitakan dalam aksinya mengendarai sepeda motor dengan target didaerah-daerah sepi dilewati oleh orang dan pada waktu tengah malam.

Sasarannya biasanya mengambil paksa kendaraan bermotor korban, tidak mengenal jenis kelamin dan aksinya memakai senjata tajam, senjata api, cenderung sadis yang dapat menyebabkan korban tewas. Sementara di Provinsi Bengkulu sendiri,yang merupakan kota kecil, daerah yang rawan dengan pencurian tindak kekerasan atau begal, terjadi di daerah Kabupaten Rejang Lebong, Curup, tepatnya di kecamatan Padang Ulang Tanding (PUT) atau jalur Curup- Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Dalam satu tahun terakhir pelaku begal melakukan aksinya mengambil sepeda motor dan barang-barang berharga korban lainnya. Apabila korbannya melawan pelaku tidak ragu untuk melukai korban sampai melakukan pembacokan. Kapolda Bengkulu telah menginstruksikan kawasan begal/perampok itu untuk tembak ditempat karena satu tahun terakhir sudah puluhan orang menjadi korban dari aksi kejahatan mereka.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Metro Jaya Inspektur Jenderal, Unggung Cahyono menyatakan polisi melakukan patroli dan razia berskala besar untuk memutus mata rantai begal. Operasi itu dilaksanakan di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. Operasi dilakukan dengan personel gabungan, dari Polda Metro Jaya, Polisi Resort dan Brimob. Dalam operasi tersebut memerintahkan kepala polisi resor di wilayahnya untuk menyelidiki ke mana barang hasil begal/curian dijual. Karena kalau tidak mencari di mana barang itu dijual, mata rantai begal tidak akan putus. Polri akan menutup titik lokasi kendaraan motor dijual.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya sudah melakukan razia dari Januari hingga Februari 2015. Dalam operasi itu, polisi menangkap 244 tersangka. Dengan rincian, 93 tersangka pencurian dengan kekerasan, 87 tersangka pencurian dengan pemberatan, dan 64 tersangka pencurian kendaraan bermotor. Operasi itu difokuskan dalam tiga hal, yaitu pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, dan pencurian kendaraan motor. Dalam operasi pencurian dengan kekerasan, ada tujuh orang yang dilumpuhkan.

Mereka dilumpuhkan karena saat penangkapan menggunakan senjata tajam dan senjata api. Dalam operasi itu polisi mengamankan sejumlah barang bukti, yaitu 14 senjata api, tiga air soft gun, 27 senjata tajam, 120 sepeda motor, 21 mobil, 15 kunci letter-T, dan 46 butir peluru, dan menyita 29 emas dengan berat 153 gram serta 1 unit televisi dan uang tunai Rp 1,6 juta.

Sementara, Kepala Satuan (Kasat) Reserse Kriminal, Polresta Bekasi Kota, Komisaris Ujang Rohanda mengatakan pihaknya gencar menggelar patroli rutin agar ruang gerak pelaku kejahatan, khususnya begal sepeda motor, semakin sempit.Pelaku yang membahayakan kami tindak tegas. Menghimbau masyarakat agar menyerahkan pelaku kejahatan yang tertangkap kepada aparat untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. jangan main hakim sendiri,seperti pada kasus begal yang dibakar hidup-hidup di Pondok Aren, Tangerang Selatan, karena dapat memutus mata rantai kelompok begal.

Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar (Kombes) Rikwanto menanggapi pesan berantai yang menyebut sejumlah titik rawan pencurian dengan kekerasan atau pembegalan di wilayah Jakarta, sudah dipastikan, itu sumbernya bukan dari polisi dan dapat meresahkan masyarakat karena masyarakat jadi takut untuk bepergian, namun demikian meminta masyarakat tetap mewaspadai pembegalan pada malam hari.

Ramainya kasus begal, mengapresiasi publik bahwa apapun yang dilakukan orang, baik sendiri maupun berkelompok dengan memakai kendaraan bermotor adalah kelompok begal, walaupun dilakukannya siang hari, ramai dan hanya ingin mengambil tas korban (biasanya wanita), masyarakat perkotaan sebelumnya menyebut jambret/karena kelompok begal cenderung melaksanakan aksinya pada malam hari, ditempat sepi dan targetnya biasanya mengambil motor korbannya, apabila melawan dapat dilukai.

Tetapi di Bengkulu sendiri khususnya di jalur lintas Curup-Lubuk Linggau Sumsel, waktu tidak menjadi batasan karena daerahnya sepi dan apapun akan dilakukan kelompok kriminal tersebut, walaupun hanya mendapatkan sebuah tas yang penting tas tersebut ada barang berharganya.

Adanya operasipembersihan kelompok begal oleh aparat dalam hal ini pihak kepolisian disekitar Jabodetabek maupun daerah-daerah lainnya harus diapresiasi oleh media nasional baik cetak maupun elektronik. Media harus dapat memberitakan keberhasilan polisi tersebut agar dapat menciptakan rasa aman di masyarakat. Media jangan hanya meliput kejadian atau berita-berita telah terjadi perampasan oleh begal saja sementara tidak banyak memberitakan keberhasilan aparat polisi dalam menangani begal.

Dalam kasus pembegalan ini, peran media cetak, elektronik dan online sangat penting, baik media lokal/daerah maupun nasional didalam menciptakan rasa aman dan tenteram dimasyarakat. Jangan membesar-besarkan kasus kriminal misalnya pencopet, penjambret dan lainnya disama ratakan dengan begal, sehingga apabila ada kejadian tersangkanya di hakimi massa maka menyebutnya dengan kelompok begal, karena masyarakat akan berfikir keadaan sudah tidak aman karena dimana-mana sudah terjadi aksi begal.

Dengan berperannya media, dalam memberitakan kasus begal yang membuat masyarakat tidak khawatir, diharapkan masyarakat tidak lagi menjadi takut dan beraktifitas seperti sedia kala walaupun tetap waspada.***

Related posts