Indofarma Raup Laba Bersih Rp 1,16 Miliar

NERACA

Jakarta – Perusahaan farmasi milik pemerintah, PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) berhasil membuktikan performance kinerja keuangan lebih baik di tahun 2014. Pasalnya, tahun 2014 perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,16 miliar dibandingkan rugi bersih Rp 54,22 miliar hingga periode Desember 2013. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Laba usaha perseroan juga meningkat menjadi Rp 46,34 miliar dari rugi usaha tahun sebelumnya Rp 32,31 miliar. Laba sebelum pajak naik jadi Rp 7,40 miliar dari rugi sebelum pajak tahun sebelumnya yang sebesar Rp 63,03 miliar. Tercatat, penjualan bersih perseroan pada tahun 2014 juga naik 3,7% menjadi Rp 1,38 triliun dari penjualan bersih tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,33 triliun.

Hal yang sama juga terjadi pada beban pokok perseroan yang naik 7% menjadi Rp 1,06 triliun dari beban pokok tahun sebelumnya Rp 999,93 miliar. Laba bruto turun jadi Rp 312,42 miliar dari laba bruto tahun sebelumnya yang sebesar Rp 337,56 miliar. Beban penjualan turun jadi Rp 178,97 miliar dari beban penjualan tahun sebelumnya Rp 201,39 miliar dan beban umum tercatat Rp 91,64 miliar dari beban umum tahun sebelumnya Rp 150,88 miliar.

Sementara, total aset per Desember 2014 menjadi Rp 1,24 triliun turun dibandingkan total aset per Desember 2013 yang sebesar Rp 1,29 triliun. Tahun 2015 ini, perseroan bakal mengembangkan bisnis baru dengan menjual produk makanan dan minuman kesehatan buatan perusahaan asal Kanada, Clarovita Nutrition Inc.

Clarovita Nutrition adalah produsen makanan dan minuman yang banyak menggunakan bahan baku protein nabati. Beberapa produknya seperti cemilan rasa barbeque, cokelat dan spageti. Kalau produk minuman semisal susu dan es krim.

Mengusung label makanan dan minuman kesehatan, Indofarma optimistis pilihan bisnisnya tepat. "Variasi produk dan pergerakan tren masyarakat mulai banyak mencari makanan sehat menjadi salah satu alasan kami," ujar Direktur Utama Indofarma, Arief Budiman.

Pada tahun pertama atau tahun 2015, Indofarma hanya memposisikan diri sebagai penjual. Plus, membantu pengemasan produk Clarovita, di Indonesia.Tanpa menyebutkan nilai investasi untuk proses pengemasan produk makanan dan minuman ini. Manajemen Indofarma hanya mengklaim pengembangan bisnis baru ini tak perlu merogoh kocek yang besar. Kebutuhan dana yang harus dikeluarkan perusahaan itu hanya meliputi biaya administrasi, dan biaya mendapatkan sertifikat halal saja.

Namun, Indofarma sudah menghitung potensi pendapatan yang bisa didapat dengan menjual aneka produk Clarovita Nutrition. Perusahaan itu memasang target pendapatan sekitar Rp 20 miliar dan laba bersih Rp 5 miliar.

Jika disandingkan dengan target pendapatan konsolidasi Indofarma 2015 yakni Rp 1,7 triliun, berarti target kontribusi pendapatan penjualan makanan dan minuman baru sebesar 1,18%. Sementara target kontribusi laba bersih makanan dan minuman setara dengan 12,5% terhadap target laba bersih konsolidasi yang sebesar Rp 40 miliar. (bani)

Related posts