Smelter Tembaga Akan Tampung 3 Juta Ton di 2017 - Sektor Tambang

NERACA

Jakarta – Pemerintah memastikan kapasitas pabrik pemurnian atau "smelter" konsentrat tembaga di dalam negeri pada 2017 akan mampu menampung seluruh produksi tambang tersebut, sehingga tidak ada alasan untuk diekspor. Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM R Sukhyar di Jakarta, Selasa, dikutip dari Antara, mengatakan pada 2017 kapasitas smelter nasional mencapai tiga juta ton konsentrat tembaga pertahun. "Kapasitas tersebut didapat setelah pengembangan PT Smelting di Gresik, Jatim, rampung," katanya.

Saat ini, Smelting yang dimiliki PT Freeport Indonesia dan Mitsubishi Corp mempunyai kapasitas terpasang sebesar satu juta ton konsentrat pertahun. Ke depan, lanjutnya, Freeport berencana menambah kapasitas smelting sebesar dua juta ton konsentrat pertahun, dengan target operasi 2017. Dengan demikian, pada 2017 kapasitas smelter konsentrat tembaga nasional mencapai tiga juta ton pertahun.

Sementara, menurut Sukhyar, produksi konsentrat tembaga pada 2017 diperkirakan sekitar 2,7 juta ton pertahun yang berasal dari Freeport 2,2 juta ton dan PT Newmont Nusa Tenggara 500 ribu ton. Demikian pula, lanjut Sukhyar, pada 2021 setelah kapasitas smelter bertambah 900.000 menjadi 3,9 juta ton per tahun dari proyek di Papua, maka bakal mampu menampung seluruh produksi saat itu.

Produksi pada 2021 diproyeksikan antara 3,4-3,5 juta ton konsentrat per tahun yang berasal dari Freeport 2,8 juta, Newmont 300 ribu, PT Gorontalo Mining (GM) 100 ribu, dan PT Kalimantan Surya Kencana (KSK) 200 ribu.

Selanjutnya, menurut dia, pemerintah merencanakan penambahan satu smelter lagi berkapasitas 500-700 ribu ton konsentrat pertahun dengan target operasi 2025, sehingga kapasitas smelter nasional menjadi 4,4-4,6 juta ton. "Tambahan smelter ini sudah harus dibangun 2022, sehingga 2025 sudah beroperasi," katanya.

Pemerintah, lanjutnya, mengundang investor untuk membangun smelter tersebut dan pemerintah akan memfasilitasi pasokan konsentratnya. Setelah 2025, produksi konsentrat tembaga diperkirakan 4,3-4,6 juta ton yang berasal dari empat pemegang kontrak karya yakni Freeport 3,1 juta ton, Newmont 800 ribu ton, GM 200 ribu ton, dan KSK 200 ribu ton. Produksi keempat KK itu akan naik bertahap dan mencapai puncaknya setelah 2032 dengan produksi 4,5-4,6 juta ton. Saat ini, terdapat 73 perusahaan pemegang izin tambang tembaga yang terdiri atas lima kontrak karya dan 68 pemegang IUP.

Sehari sebelumnya, Sukhyar mengatakan pemerintah menunggu perjanjian kerja sama pembangunan "smelter" antara Newmont dan PT Freeport Indonesia. "Kami menunggu 'agreement' antara Newmont dan Freepot. Apakah Newmont serius memasok konsentrat dan juga ikut mendanai proyek 'smelter'," katanya.

Menurut dia, setelah mendapatkan komitmen Newmont tersebut, barulah pemerintah akan memberikan rekomendasi ekspornya. Sukhyar mengatakan, batas waktu Newmont memenuhi komitmennya adalah sampai 19 Maret 2015. "Pemerintah menunggu 'agreement'-nya sebelum 19 Maret 2015. Kalau lewat tanggal itu, pemerintah tidak akan berikan perpanjangan ekspor," ujarnya.

Sukhyar juga mengatakan, pemerintah sudah memfasilitasi Newmont dan Freeport untuk bekerja sama membangun "smelter" tersebut. Dengan melihat kondisi seperti ini, tambahnya, memang harus ada kerja sama pembangunan "smelter". "Newmont tentu malu juga kalau 'nebeng' terus. Mesti ada 'share' dana dan Newmont siap untuk berkontribusi dalam pendanaan," ujarnya.

Freeport sudah berencana menambah kapasitas "smelter" PT Smelting yang dimilikinya bersama Mitsubishi Corp di Gresik, Jawa Timur, sebesar dua juta ton konsentrat tembaga per tahun. Nilai investasi "smelter" itu sekitar 2,3 miliar dolar AS dengan target produksi 2017.

Saat ini, "smelter" yang dioperasikan Smelting memiliki kapasitas satu juta ton konsentrat per tahun. Dengan demikian, kapasitas "smelter" Smelting akan menjadi tiga juta ton konsentrat pertahun mulai 2017.

Sukhyar mengatakan setelah 2025, produksi konsentrat tembaga diperkirakan mencapai 4,3-4,6 juta ton. Sementara kapasitas "smelter" yang sudah pasti sampai saat ini hanya 3,9 juta ton konsentrat tembaga per tahun. "Dengan demikian, dibutuhkan tambahan satu 'smelter' lagi dengan kapasitas 500-700 ribu ton konsentrat per tahun, sehingga kapasitas 'smelter' nasional menjadi 4,4-4,6 juta ton pada 2025 dan cukup menampung total produksi," ujarnya.

Menurut dia, tambahan "smelter" baru tersebut bisa saja berlokasi di Pulau Sulawesi dengan pertimbangan memenuhi kebutuhan produksi konsentrat tembaga dari wilayah tersebut. Di samping juga, "smelter" di Gresik dan Papua diproyeksikan menampung produksi dari wilayah tambang di bagian barat dan timur Indonesia.

Sukhyar mengatakan, kapasitas "smelter" yang sudah pasti tersebut, berlokasi di Gresik, Jatim sebesar tiga juta ton yang terdiri atas satu juta yang sudah produksi dan dua juta lainnya merupakan tahap pengembangan dengan target produksi pada 2017. Ditambah, satu "smelter" yang direncanakan dibangun di Papua dengan kapasitas 900 ribu ton konsentrat per tahun yang ditargetkan produksi 2021-2022.

Related posts