Kemenperin Bakal Perluas Program Desa Industri Mandiri - Tumbuhkan Wirausaha Baru

NERACA

Sidrap - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) telah menggulirkan program Desa Industri Mandiri mulai dari tahun 2013 di Gorontalo, yang merupakan pionir dari program ini. Pada tahun 2014 merambah ke Jawa Timur hingga Sidrap Sulawesi Selatan. Menilik dari keberhasilan dari program ini. Direktorat Jenderal IKM bakal terus memperluas program ini hingga merambah ke wilayah timur Indonesia.

Direktur Jenderal IKM Kemenperin, Euis Saidah, mengatakan muatan dari program Desa Industri Mandiri adalah untuk dapat menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru. “Dari situ nanti tumbuh industri-industri baik skala kecil, menengah, sampai dengan skala besar,” kata Euis kepada wartawan sesaat setelah melakukan panen raya padi, Lokasi Demplot Pupuk Organik Cair Marolis Berbasis Bio Tekhnologi, di Sidrap, Sulawesi Selatan, Selasa (3/3).

Program ini, lanjut Euis merupakan buah dari kerjasama antara Kementrian Pertanian, Kemenperin dalam hal ini Direktorat IKM, Peneliti, dan Pemerintah Daerah (Pemda) sekitar. “Dari program ini kami dari Direktorat IKM telah mengembangkan pupuk cair organik, nutsisi vitamin untuk hewan, yang berbahan dari organik. Hasilnya setelah dicoba di beberapa daerah seperti Gorontalo, Jawa, dan yang kita lihat sekarang adalah Sidrap sangat luar biasa, bisa meningkatkan produksi hingga 100 persen. Gorontalo, Jawa terutama Jawa Timur hasilnya sangat signifikan, ditambah lagi ini di Sidrap peningkatannya bisa 100 persen, sangat luar biasa," imbuhnya.

Rumusan dari Industri Desa Mandiri membuat desa itu tumbuh dan berkembang secara mandiri. “Meskipun apa yang kami buat seperti pupuk ini, tapi dampaknya untuk yang lain besar. Mulai dari peningakatan produksi pertanian sampai dengan hewan ternak dan ikan yang akhirnya dapat mengembangkan desa dan daerahnya tersebut. Apalagi jika ada supporting lebih dari pemerintah daerah untuk keberlanjutannya pas daerah itu akan lebih cepat berkembang dan maju. Kami hanya memberikan satu kali bantuan kepada daerah, nantinya daerah yang lebih mengembangkannya," ujarnya.

Harusnya seperti ada program bantuan desa yang digelontorkan pemerintah pusat sebesar Rp 1 milliar ke desa-desa bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan program ini, daripada digunakan untuk hal-hal yang kurang produktif. "Anggaran kami terbatas, jika memang daerah ingin mengadopsi program seperti ini akan kami beri pendampinga. Kan bisa pake anggaran desa dari pusat yang Rp 1 milliar itu," paparnya.

Mengingat, ujar Euis lagi, sampai dengan saat ini permintaan untuk bantuan ini terus meningkat. Tapi memang pasalnya dengan anggaran yang ada kami hanya bisa memberikan 3 paket bantuan yang tiap paketnya sebesar Rp 400 juta sudah untuk semuanya mulai dari alat, bangunan, hingga yang lainnya. Tapi jika memang mendesak kamui berikan bantuan alat sekitar Rp 100 juta. "Lagi-lagi anggaran kami terbatas, hasilnya sudah terbukti. Sekarang tinggal daerah saja bagaimana mengembangkannya kita bantu berupa pendampingan," tegas dia.

Ketahanan Pangan

Selain dari sisi pertambahan wirausha baru atu industri baru, program ini sejalan dengan visi - misi pak Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. "Pengembangan pupuk cair organik untuk pertanian, dan nutrisi vitamin untuk peternakan upaya ini mampu menggenjot produksi pertanian, peternakan, dan perkebunan nasional, program ini sejalan dengan program Pak Jokowi mewujudkan ketahanan pangan," terangnya.

Harapannya jika memang seluruh daerah dapat mengaplikasikan ini semua, pihaknya tidak lagi mengimpor pangan karena produksi dari dalam negeri yang berlimpah dan harga-harga kebutuhan pokok bisa ditekan. "Jika produksi berlimpah, kita tidak akan lagi impor pangan, karena semua sudah tersedia didalam negeri," jelasnya.

Sementara itu, penemu pupuk cair dan nutrisi vitamin Cahya Widianto menambahkan awalnya target dalam mengembangkan pupuk ini diharapkan mampu meningkatkan produksi 30 hingga 50 persen. Tapi realisasi dilapangan lebih dari ekspektasi kami sebesar 100 persen. Dimana di Sidrap sendiri produksi padi yang sebelumnya hanya mampu produksi 5,5 ton perhektarnya, setelah mengaplikasikan program ini mampu memproduksi hingga 10 - 12 ton perhektarnya. "Awalnya kami menargetkan paling tinggi 50 persen terhadap peningkatan produksi ternyata lebih bisa mencapai 100 persen," katanya.

Dirinya menyebutkan, adanya penelitian ini tidak lain guna meningkatkan produktifitas petani, peternak, maupun perkebenan nasional yang nantinya mampu membangun industri berkonsentrasi. "Jika petani maju, tentu industri juga berkembang, dan industri mengikuti ritme dan potensi daerah tersebut sehingga pembangunan industri berkonsentrasi sesuai dengan potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang ada," ucapnya.

Ada pun, muatan dari penelitian ini tentu berorientasi pada industri. Dari hasil penelitian ini diharapkan nantinya mampu di bangun industri penyedia pupuk maupun nutrisi vitamin nya. dan untuk membangun pabrik ini, bisa menghabiskan anggaran sekitar Rp 1 milliar, untuk alat Rp 200 juta, sisanya untuk gedung dan lainnya. Dan harapan saya pribadi industri ini memang dikerjakan oleh rakyat dengan bantuan pemerintah daerah maupun pusat. "Kalau saya pribadi penginnya ini menjadi industri rakyat, bukan untuk industri besar," ujar dia.

Targetnya bisa membangun industri pupuk rakyat ini untuk tahap pertama 14 kabupaten. Dan 1 pabrik atau yang biasa disebut dengan 1 rumah produksi bisa untuk memenuhi kebutuhan 4 kabupaten. Jadi setidaknya bisa dibangun 4 rumah produksi. "Jika memang pemerintah serius mewujudkan ketahanan pangan, harusnya tahun ini bisa segera membangun rumah produksi, minimal 4 tempat untuk 14 kabupaten," tandasnya.

Produksi Meningkat

Sementara itu, Bupati Sidrap, Rusdi Masse menuturkan kabupaten Sidrap bisa dikatakan sebagai daerah lumbung padi atau kota beras untuk Sulawesi. Dulu petani di sana hanya mampu memproduksi beras 5,5 ton perhektarnya, dari beberapa area yang menjadi percontohan produksinya meningkat hingga sekitar 10 ton perhektarnya. "Produksinya sangat meningkat tajam setelah menggunakan pupuk cair organik," kata dia.

Namun begitu, petani memang petani belum semuanya yang menggunakan pupuk cair ini. Harapannya setelah dibukanya rumah produksi pupuk cair ini, menjadikan ketersediaan pupuk memenuhi sehingga petani bergairah untuk menggunakan pupuk cair organik ini. "Adanya rumah produksi pasokan pupuknya ada, tidak mengandalkan bantuan dari Kemenperin lagi, sehingga masyarakat bisa beralih menggunakan pupuk cair organik, maupun nutrisi vitamin untuk heman ternak maupun ikan peliharaan para petani disini," tutur dia.

Untuk itu, dirinya berterimakasih kepada Kemenperin yang sudah memberikan kepercayaan pada daerah sebagai daerah percontohan dengan memberikan bantuan berupa pupuk cair organik, dan sekarang sudah membangun rumah produksi. Kedepan kami (Pemda) akan terus dorong agar petani, peternak dapat menggunakan pupuk dan nutrisi vitamin sebagai langkah meningkatkan produktifitas hasil pertanian dan peternakan daerah Sidrap. "Kami di daerah akan terus mendorong adanya teknologi pertanian maupun peternakan ini, guna mewujudkan ekonomi daerah lebih maju dan berkembang, serta ekonomi nasional pada umumnya," tukasnya.

Related posts