Menyemai Kembali Keadaban Bangsa - Oleh: Edi Sugianto, Pengamat Pendidikan di Universitas Muhammadiyah, Jakarta

"Pikiranmu akan menjadi ucapanmu. Ucapanmu akan menjadi perilakumu. Perilakumu akan menjadi kebiasaanmu. Kebiasaanmu akan menjadi karaktermu. Karaktermu akan menjadi takdirmu." - Mahatma Gandhi

Perilaku 'kekanak-kanakan' para wakil rakyat, pejabat korup yang cengengesan, hingga pelecehan seksual oknum guru, kerap kali menjadi headline di media cetak dan elektronik. Tentu, semua itu miris dan 'menggelikan'.

Mengapa 'publik figur' turut larut dalam tindakan amoral, asusila, dan biadab? Jawabannya. Karena rasa malu telah mati ditelan bumi. Pesan Buya Syafi'e Ma'arif (2011), "jika budaya malu sudah hilang maka berbuatlah sesuka hatimu".

Tak dipungkiri, krisis moralitas terjadi akibat rapuhnya mental dan karakter generasi bangsa. Prioritas pembangunan yang menekankan aspek politik, dan ekonomi semata, lambat laun akan menggerus budaya dan keadaban bangsa hingga titik nadir.

Lalu. Masih adakah harapan bangsa ini bangkit dari krisis moralitas, dan keteladanan? Bagaimana menyemai tunas-tunas bangsa, agar tumbuh menjadi pemimpin berintegritas masa depan?

Sekolah Berkarakter

Sekolah dipandang sebagai tempat strategis untuk membangun kembali pondasi karakter bangsa (character buiding). Mengingat karakter bukanlah wilayah baku yang tak bisa berubah. Transformasi diri bisa melalui pembudayaan, pembiasaan, dan keteladanan.

Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan nasional, yang tertuang dalam UU Sisdiknas 2003 Pasal 1, bahwa "pendidikan merupakan wadah pengembangan diri anak didik dalam kecerdasan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara".

Berdasarkan UU Sisdiknas tersebut. Menurut hemat penulis, pendidikan karakter akan berhasil, bila dipahami sebagai upaya 'pembudayaan' konstan. Hal ini mencakup beberapa nilai:

Pertama, nilai-nilai spiritual (spiritual quotient). Saat ini generasi bangsa dilanda 'kegalauan' personal (split personality), keresahan massal, dan dehindrasi spiritual. Gejalanya anarkisme (tawuran), hedonisme, dan materialisme. Sehingga hidup hampa nilai dan makna (meaningless).

Salah satu penyebabnya, karena sistem pendidikan kita masih 'memberhalakan' angka/kecerdasan intelektual (lQ) semata. Buktinya, sudah terlalu banyak kasus korupsi yang pelakunya orang-orang pintar, dengan sederet gelar di depan dan belakang.

Dengan kehampaan spiritualitas itu, maka kepemimpinan, jabatan, dan profesi apapun, tak lagi dipandang sebagai amanah 'suci', dan kemaslahatan bangsa. Melainkan kesempatan untuk meraup kekayaan sebanyak-banyaknya.

Karena itu, pendekatan pendidikan perlu direkonstruksi dari paradigma materi (material oriented) menjadi nilai-nilai luhur (moral/values oriented). Hakikat 'mencari ilmu' perlu 'disemai' di bangku sekolah. Berilmu bukan sekadar mencari gelar, jabatan, atau pun isi perut. Tapi, berilmu berarti mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, melalui kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua, nilai-nilai toleransi. Pendidikan karakter (toleransi), dibangun melalui pembudayaan sikap saling menghargai (mutual respect), sikap saling percaya (mutual trust), dan sikap saling pengertian (mutual understanding), antara guru dengan siswa, pun antar sesama siswa.

Pendidikan yang terlalu menekankan aspek kognitif 'belajar untuk tahu' (learning to know), akan menjauhkan kaum terpelajar dari rakyatnya. Maka, 'belajar mengembangkan keharmonisan hidup bersama' (learning to live together) sangat penting dilakukan di sekolah.

Ketika nilai-nilai toleransi sudah menjadi budaya sekolah, secara otomatis akan membentuk transformasi diri. Anak didik akan tumbuh menjadi pribadi inklusif, pluralis-multikultural. Bukan generasi yang mementingkan diri sendiri (egosentrisisme), kemaslahatan keluarga sendiri (nepotisme), atau pun mengultuskan identitas sosial (primordialisme).

Ketiga, nilai-nilai kejujuran (trustworthiness). Kejujuran menjadi sesuatu yang mendesak, mengingat bencana birokrasi (korupsi), bencana kemanusiaan (amoral, kriminalitas), atau pun bencana pendidikan (manipulasi nilai UN), bermula dari kebohongan, dan keserakahan sistemik.

Jujur berarti berani tidak berdusta, berani dibenci 'banyak orang', bahkan berani mati demi mempertahankan kebenaran dan kehormatan. Kejujuran akan membuka pintu kesuksesan, sebab kepercayaan (trust) menjadi kunci utama hidup.

Keempat, nilai-nilai kedisiplinan. Siapapun mesti menyadari, bahwa "kebebasannya dibatasi kebebasan orang lain". Untuk menghindari konflik laten, pertentangan (nascent), bahkan radikalisasi (intensified), maka dibuatlah aturan-aturan yang disepakati dan dipatuhi bersama. Inilah yang disebut "disiplin hidup". ( Idris Jauhari, Al-Amien, 2007).

Hidup berdisiplin perlu diwariskan sejak dini di sekolah. Guru 'mengajak' murid-muridnya bersama-sama membudayakan disiplin diri (self dicsipline), seperti beribadah, tepat waktu, mengendalikan diri, mengatur keuangan, dan lain-lain. Disiplin sosial (social dicsipline); etika berinteraksi dengan teman, dan berorganisasi. Begitu pun disiplin lingkungan (environment dicsipline); memelihara kebersihan kelas, menjaga keindahan sekolah, kesehatan (stop merokok), dan lain sebagainya.

Akhirnya, budaya disiplin siswa di sekolah, kelak menjadi karakter hidup di masyarakat luas. Tak sebatas untuk dirinya sendiri, melainkan 'inspirasi', dan panutan bagi orang lain.

Hal yang lebih urgen, bahwa nilai-nilai karakter; spiritual, toleransi, kejujuran, dan kedisiplinan harus dipahami sebagai 'budaya' yang terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran, dan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Bukan justru ditafsirkan 'sempit', sebagai mata pelajaran khusus (formal) yang kaku. Sebab, transfer nilai mutlak membutuhkan otentisitas, pembudayaan, dan keteladanan pendidik.

Semoga 'pendidikan karakter' bukan sekadar wacana belaka. Sebab, bangsa ini benar-benar merindukan generasi, dan pemimpin yang berkeadaban. (analisadaily.com)

Related posts