Mitra Adiperkasa Percepat Divestasi Burger King - Kembangkan Starbucks dan ZARA

NERACA

Jakarta –Lambat tapi pasti, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) terus mengurangi saham PT Sari Burger Indonesia secara bertahap hingga kepemilikannya menjadi 49%. Rencananya, divestasi (pelepasan) saham pengelola restoran cepat saji Burger King tersebut akan dilakukan selama dua tahun. Tahun lalu, Mitra Adiperkasa telah melepas sebagian saham Sari Burger kepada QSR Indoburger Pte Ltd. Namun, belum jelas jumlah saham yang dilepas.

Sekretaris Perusahaan Mitra Adiperkasa Fetty Kwartati mengatakan, saat ini, perseroan masih menjadi pemegang saham mayoritas di Sari Burger. “Persentase saham dan nilai transaksinya tidak bisa kami disclosed,” kata dia di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, Mitra Adiperkasa merampungkan penjualan 51% saham Domino's Pizza Indonesia pada September 2014. Pembelinya adalah Everstone Capital Asia Pte Ltd, perusahaan pengelola dana (private equity) asal Singapura. Namun, berdasarkan perjanjian perseroan dengan Everstone, pihaknya belum dapat membeberkan dana yang diraih dari pelepasan saham tersebut. Manajemen Mitra Adiperkasa hanya menegaskan, dana hasil divestasi itu akan digunakan untuk pengembangan usaha Domino’s Pizza.

Setelah menguasai Domino’s Pizza, Everstone menjanjikan untuk membangun 10-20 gerai per tahun. Mitra Adiperkasa sudah mengelola Domino’s Pizza dan Burger King sejak 2006-2007. Pelepasan saham dipicu karena Domino’s Pizza dan Burger King belum menghasilkan keuntungan yang signifikan. Hal tersebut disebabkan jumlah gerai kedua brand itu belum terlalu ekspansif.

Sementara itu, pada September 2014, Mitra Adiperkasa melangsungkan penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi senilai total Rp 350 miliar. Perseroan menggelar PUB I tahap III tahun 2014 seri A senilai Rp 150 miliar. Obligasi tersebut akan jatuh tempo pada 19 September 2017. Bunganya sebesar 10,3 persen. Selanjutnya, perseroan menggelar PUB I tahap III seri B senilai Rp 200 miliar. Jatuh tempo obligasi tersebut pada 19 September 2019. Bunganya sebesar 10,9%.

Analis First Asia Capital dalam risetnya mengungkapkan, tekanan jual yang terjadi terhadap saham MAPI mulai rendah setelah menyentuh support kuat di Rp5.200. Pergerakan harga saham MAPI selama ini sangat dipengaruhi dengan pergerakan nilai tukar rupiah atas dolar AS. Padahal saat ini rupiah cenderung melemah hingga kembali menembus level Rp12.800 akhir pekan lalu.

Menurut riset itu, bisnis perseroan lebih banyak saat ini menggantungkan pada produk impor sehingga pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya pengadaan barang. Pada perdagangan Senin (23/2) siang, saham MAPI ditransaksikan pada level 5.400 menguat dari penutupan akhir pekan lalu yang mencapai Rp5.300.

Secara teknikal saat ini peluang rebound saham MAPI kian terbuka karena posisi harga sahamnya berada di area oversold dengan target resisten di kisaran Rp5.600 hingga Rp5.700. Sedangkan level support saat ini di Rp5200.

Kemudian penurunan tingkat bunga BI Rate pekan lalu sebesar 25 basis point menjadi 7,5% juga memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga saham emiten perdagangan ritel tersebut karena biaya bunga bisa diturunkan. Oleh karena itu, secara technical pergerakan harga sahamnya akhir pekan lalu membentuk pola spinning tops di area downtrend mengindikasikan sinyal bullish reversal.

Selanjutnya, peluang penguatan akan kembali menguji resisten di Rp5.600. Sedangkan level support di Rp5.200. Trading Buy, SL 5.150. (bani)

BERITA TERKAIT

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…

Ekspor Tenun dan Batik Ditargetkan US$58,6 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka USD58,6 juta atau…

Pemerintah Perkuat Promosi Batik dan Kain Tenun

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengungkapkan, pada Pameran Adiwastra Nusantara tahun…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Pembangunan Jaya Ancol Tumbuh 1,4%

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba tahun 2018 sebesar Rp223 miliar atau tumbuh 1,4% dibandingkan dengan periode yang…

Laba Bersih Indocement Menyusut 38,3%

NERACA Jakarta – Pasar semen dalam negeri sepanjang tahun 2018 mengalami kelebihan pasokan, kondisi ini berdampak pada performance kinerja keuangan…

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…