Balitbang KP Dukung Pakan Mandiri Lewat Dua Program - Tingkatkan Produksi Perikanan Budidaya

NERACA

Jakarta – Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) dukung peningkatan produksi perikanan budidaya melalui program IPTEKMAS (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Masyarakat) dan KIMBis (Klinik IPTEK Mina Bisnis) bidang pakan mandiri.

Kepala Balitbang KP, Achmad Poernomo, Jumat pekan lalu, menyatakan ketersediaan pakan ikan dengan harga terjangkau dan memenuhi kriteria SNI (Standar Nasional Indonesia) menjadi hal yang wajib bagi dukungan peningkatan produksi perikanan budidaya. Program IPTEKMAS dan KIMBis yang telah dilaksanakan Balitbang KP sejak 2011 telah menuai hasil, yaitu model kewirausahaan pakan ikan mandiri yang dikelola oleh Koperasi “Desa Mina” Kabupaten Gunungkidul dengan harga terjangkau dan memenuhi kriteria SNI.

“Pakan ikan mandiri menjadi pengungkit keberhasilan pengembangan perikanan budidaya dan mampu menekan biaya operasional sebesar 25-35 %. Pabrik pakan ikan mandiri mempunyai keunggulan, pertama, dikelola oleh masyarakat yang tergabung dalam kelompok. Kedua, didukung formulator sehingga kualitas produksi pakan ikan memenuhi standar SNI. Ketiga, Pabrik pakan dibangun di sentra pengembangan perikanan budidaya. Keempat, para pembudidaya ikan sebagian telah menggunakan pakan ikan lokal. Kelima, telah dikenal oleh masyarakat setempat. Keenam, harga jual pakan lebih murah dari pakan komersial (harga berkisar Rp. 6.500 - 7.000/kg),” jelas Achmad.

Achmad Poernomo juga mengatakan bahwa kebutuhan pakan komersial yang tumbuh sekitar 12-15 % per tahun, memungkinkan pabrik pakan ikan mandiri berkontribusi terhadap industri pakan ikan nasional. Jika peran pakan ikan mandiri bisa mengambil share 5 -10 % dari total kebutuhan pakan ikan, maka sangat banyak biaya produksi yang dapat dihemat. Kelembagaan pakan ikan mandiri dikembangkan dalam suatu sistem dimana didalamnya ada spesialisasi subsistem yaitu subsistem pabrik pakan, subsistem bahan baku, subsistem pasar dan sub sistem pengembangan jaringan, sehingga usaha tersebut mampu tumbuh dan berkembang serta mempunyai skala keekonomian yang memadai. Spesialisasi memungkinkan dan merangsang tumbuhnya inovasi teknologi, sehingga usaha semakin efisien dan mampu bersaing serta menghasilkan keuntungan.

“Usaha pengembangan pabrik pakan mandiri di Gunungkidul dikelola oleh Koperasi Desa Mina, dilakukan dengan cara: Pertama, pendaftaran produksi pakan agar bisa dipasarkan lebih luas; kedua, meningkatkan manajemen usaha dengan membentuk kelembagaan usaha dalam bentuk koperasi perikanan “Desa Mina”. Ketiga, membentuk jaringan pengadaan bahan baku melalui jaringan KIMBis di Kabupaten Pacitan, Wonogiri, Tegal dan beberapa daerah lainnya; keempat, Memperluas jaringan pasar produk pakan ikan mandiri melalui jaringan KIMBis,” ungkap Achmad.

Menurut dia, sampai saat ini sudah ada generasi ke empat dari mesin pencetak pakan ikan yang telah dikembangkan dan diimplementasikan dilokasi. Dengan kegiatan IPTEKMAS dan KIMBis, telah berhasil dipecahkan permasalahan melalui teknokrat lokal yang mampu menguasai aspek teknis permesinan, dan spesialisasi kelompok. Model kewirausahaan pakan ikan mandiri yang dihasilkan, dapat menjadi contoh pengembangan perikanan pada lokasi-lokasi yang memilki karakteristik serupa.

“Selain itu, model yang dihasilkan dapat menjadi sentra pembelajaran/pusat pelatihan bagi masyarakat lain yang ingin mengembangkan perikanan. Keunggulan model ini adalah kemampuannya memberikan multiplier effect pembangunan perikanan, kemandirian pakan serta mengurangi ketergantungan pada pakan ikan komersial. Multiplier effect yang muncul ditandai dengan perkembangan usaha-usaha turunan atau usaha yang mendukung pengembangan perikanan dari industri hulu dan industri hilir,” tambah Achmad Poernomo.

Secara terpisah, sebelumnya, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP, menyebut, kemandirian usaha budidaya perikanan terus didorong untuk mewujudkan perikanan budidaya yang mandiri, ramah lingkungan dan berkelanjutan melalui Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI). “Mengapa kita utamakan ke pakan? Karena dalam suatu usaha budidaya perikanan, biaya pakan merupakan biaya yang terbesar. Dengan menekan biaya pakan maka keuntungan yang diperoleh pembudidaya akan lebih tinggi dan pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya,” kata Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, belum lama ini.

GERPARI ini lebih ditekankan kepada pakan ikan untuk komoditas air tawar, seperti Nila, Lele, Patin, Mas dan juga Gurame. “Komoditas air tawar merupakan komoditas yang mendukung ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Peningkatan produksi perikanan budidaya khususnya untuk komoditas air tawar akan diikuti dengan peningkatan kebutuhan pakan. Sebagai contoh adalah dengan target produksi perikanan budidaya pada tahun 2015 yang mencapai 16,9 juta ton, maka akan dibutuhkan pakan ikan/udang secara nasional sebanyak 9,27 juta ton dan 49% diantaranya adalah kebutuhan pakan ikan komoditas air tawar," kata Slamet.

BERITA TERKAIT

MLBI Yakin Kinerja Lebih Baik Semester Dua

Di sisa akhir tahun ini, PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) optimistis kinerja akan lebih baik sejalan dengan potensi geliat…

Begini Inovasi Kemenperin Dukung Industri Minyak Kayu Putih

NERACA Jakarta – Inovasi milik Kementerian Perindustrian (Kemenperin), lolos terpilih masuk dalam kategori Top 45 Inovasi Pelayanan Publik 2019, setelah…

Menggeliatkan Roda Perekonomian Lewat Pemerataan Sinyal

Di era digital saat ini, semua pelayanan sudah bisa dilakukan melalui smartphone, mulai dari urusan pekerjaan kantor, bayar cicilan dengan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Kecil dan Menengah - Kuatkan Rantai Pasok, IKM Logam Penuhi Standar Produsen Pompa Air

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian bertekad untuk terus mendorong penguatan dan pendalaman struktur industri manufaktur di Indonesia, mulai dari sektor…

Hambatan Industri Mebel dan Kerajinan Dibahas

NERACA Jakarta – Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) di Badung, Bali, pekan lalu membahas…

Lulusan STP Didorong Aktif Dalam Pembangunan Akuakultur

NERACA Jakarta – Sarjana Kelautan dan Perikanan diharapkan mampu melihat potensi dan peluang serta siap menghadapi tantangan pembangunan sektor kelautan…