Pemerintah Harus Awali Penerapan Bioteknologi - Sektor Pertanian

NERACA

Jakarta – Kontak Tani Nelayan Andalan mengharapkan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla mengawali penggunaan teknologi bioteknologi atau biotek dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ketua KTNA Winarno Tohir mengatakan Indonesia memerlukan terobosan teknologi untuk mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri agar ketergantungan impor tidak semakin banyak. Bahkan, lanjutnya dalam seminar on Global Status of Commercialized Biotech Crops 2014: Peranan Teknologi Pertanian dalam mendukung Swasembada Pangan, Indonesia harus mampu mengekspor produksi pangan.

"Oleh karena itu petani berharap pemerintahanan Jokowi-JK mengawali penggunaan teknologi biotek dalam waktu yang tidak terlalu lama," katanya, dikutip dari Antara, Kamis.

Sementara itu Direktur Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC) Bambang Purwantara mengatakan, dukungan teknologi termasuk adopsi teknologi akan meringankan upaya pemerintah mewujudkan kedaulatan pangan, sebagaimana diamanatkan Nawa Cita Kabinet Kerja.

Menurut dia, meskipun bukan satu satunya teknologi mujarab, banyak negara menyadari bioteknologi merupakan salah satu jawaban bagi upaya peningkatan produksi pangan dunia. "Bagi Indonesia, adopsi tanaman biotek, utamanya tebu dan jagung tinggal menunggu persetujuan pakan. Kita pun berharap, petani Indonesia akan melakukan hal yang sama," tukasnya.

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Hasil Sembiring menyatakan, selama ini pemerintah terus mendorong penerapan bioteknologi dalam sektor pertanian salah satunya melalui Peraturan Menteri Pertanian no 61 tahun 2011.

Selain melalui regulasi, lanjutnya, dukungan terhadap pengembangan bioteknologi yakni melalui kelembagaan-kelembagaan seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, perguruan tinggi bahkan perusahaan swasta.

Namun demikian dia mengakui pengembangan bioteknologi di sektor pangan antar kelembagaan tersebut kurang bersinergi satu dengan lainnya dan belum fokus pada teknologi GMO (genetically modified organism). "Diharapkan awal tahun depan bisa terealisasi (penggunaan teknologi biotek) di Indonesia," katanya.

Pendiri International Service for the Acqusition of Agri Biotech Applications (ISAAA) Clive James mengungkapkan Bangladesh, salah satu negara terkecil dan sangat miskin di dunia telah memberikan persetujuan terung biotek.

Komersialisasi buah biotek bernama Bt Brinjal itu berhasil menekan penggunaan pestisida bagi tanaman pangan hingga 90 persen. "Komersialisasi dimulai pada Januari 2014, setidaknya 120 petani menanam 12 hektare tanaman terung biotek sepanjang tahun," ujarnya.

Menurut dia, pemerintah Bangladesh telah memberikan persetujuan terong biotek mulai bulan Oktober 2013 dan kurang dari 100 hari telah disetujui untuk dibudidayakan. Temuan itu konsiten dengan meta analisis yang menyimpulkan teknologi rekayasa genetika oleh Klumper dan Qain (2014), berhasil mengurangi penggunaan pestisida sebesar 37 persen,hasil tanaman meningkat 22 persen dan keuntungan petani meningkat 68 persen selama 20 tahun terakhir.

Pada kesempatan sebelumnya, Ketua Masyarakat Bioteknologi Pertanian Indonesia Sidi Asmono menyatakan bahwa pemanfaatan bioteknologi dalam pertanian dapat meningkatkan produktivitas tanaman pangan sehingga Indonesia dapat mengurangi impor. Sidi mengatakan Indonesia sudah meneliti beberapa tanaman rekayasa genetik yang dapat meningkatkan produktivitas petani karena memiliki sifat tahan hama dan penyakit, salah satunya tebu PRG event NXI-4T yang merupakan tebu hasil bioteknologi pertama di dunia.

“Tebu PRG itu dapat meningkatkan produksi hingga 30 persen, coba hitung produksinya bila sudah ditanam selama lima tahun, kita bisa mengurangi impor gula karena produksi tebu nasional sudah mencukupi,” ujarnya seperti dikutip dari Antara, belum lama ini.

Selain tebu PRG, berbagai institusi Indonesia seperti Puslit Biogen LIPI, BB- Biogen dan IPB telah membuat penelitian rekayasa genetika, tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Mereka merekayasa genetika tanaman dengan tujuan menghasilkan karakteristik tertentu, misalnya jagung yang tahan penggerek batang, tebu yang tahan kekeringan dan padi yang kaya kandungan beta karoten.

Meskipun demikian, pemerintah Indonesia hingga saat ini belum mengeluarkan regulasi yang mengizinkan penyebarluasan benih-benih hasil bioteknologi tersebut untuk ditanam oleh para petani. Butuh berbagai proses pengujian yang membuktikan bahwa benih rekayasa genetik tersebut aman untuk dikonsumsi dan juga bagi lingkungan yang melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan POM, Balai Kliring Keamanan Hayati.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Daya Saing, KKP Dorong Digitalisasi UMKM Kelautan dan Perikanan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kelautan dan perikanan untuk memanfaatkan…

API Sarankan Pemerintah Tambah Sekolah Industri Tekstil

NERACA Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyarankan agar pemerintah menambah jumlah sekolah dan lembaga pendidikan untuk mencetak sumber daya…

Energi - Jaga Efisiensi Sektor Migas, Maksimalkan Industri Dalam Negeri

NERACA Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama PT Pertamina Hulu…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Bangun SDM Industri Kompeten, Kemenperin Dorong Kualitas Institut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang akan berperan di sektor…

Sang Gurita Octopus: Teknologi Berbisnis Era Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin pesat dan memperlihatkan tren yang positif. Riset dari Google dan Temasek…

Kinerja Industri Petrokimia Diyakini Bangkit Lagi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian optimistis pada pengembangan TubanPetro yang akan berkontribusi besar dalam membangkitkan kembali pertumbuhan industri petrokimia di…