Meningkatkan Taraf Ekonomi Umat - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Di tengah-tengah persaingan ekonomi yang sedemikian keras seperti sekarang ini, tidak mudah memperbaiki ekonomi umat. Padahal amanah itu harus dilakukan. Sudah diakui, betapa besar dampak ekonomi terhadap perilaku masyarakat. Orang miskin pasti sulit diajak maju untuk mengejar ketertingalan. Selain itu, orang miskin harta ternyata juga mengalami kemiskinan lainnya, seperti miskin cita-cita, miskin ide, dan juga miskin segala-galanya. Itulah sebabnya, disebutkan di dalam hadit nabi, bahwa hampir-hampir kemiskinan itu mendekatkan diri pada kekufuran.

Juga disebutkan bahwa, umpama kemiskinan itu berupa kehidupan maka seharusnya segera dibunuh. Ungkapan itu sebenarnya memberikan peringatan keras, terhadap betapa besar bahaya yang ditimbulkan oleh kemiskinan itu. Orang miskin akan berpengaruh pula pada tingkat kepercayaan dirinya. Orang miskin di hadapan orang kaya, maka tidak akan merasa setara. Mereka merasa tidak berdaya, harkat dan martabatnya dirasakan rendah. Oleh sebab itu, memperbaiki tingkat ekonomi, maka sama halnya dengan memperbaiki harkat dan martabat.

Orang menjadi miskin bisa disebabkan oleh faktor pribadi yang bersangkutan atau sebab lain yang bersifat eksternal, yakni sebab itu berasal dari luar diri orang yang bersangkutan. Orang menjadi miskin bisa disebabkan oleh karena tidak pintar, jiwa atau mentalnya lemah, tidak pandai bergaul, atau miskin ketrampilan yang bisa dijual kepada orang lain. Adapun faktor eksternal, juga bermacam-macam jenisnya, misalnya oleh karena faktor politik, kalah bersaing, suasana yang membelenggu, sistem ekonomi yang bersifat kapitalistik, dan seterusnya.

Kedua faktor penyebab kemiskinan itu sebenarnya bisa diubah. Akan tetapi mengubah atau menghilangkannya juga tidak selalu mudah dilakukan. Mengubah jiwa atau mental miskin seseorang pada kenyataannya juga tidak mudah. Ada saja orang miskin yang tidak menyadari bahwa dirinya miskin. Orang seperti itu, tentu tidak gampang ditingkatkan ekonominya. Sebab mereka tidak merasakan bahwa dirinya sedang memiliki masalah, ialah kemiskinan. Kekurangan yang sedang ada pada dirinya tidak dirasakan sebagai kekurangan. Orang lain saja yang meributkan, sementara dirinya sendiri tidak merasakan apa-apa.

Kemiskinan yang disebabkan oleh rendahnya tingkat kepintaran seseorang, maka untuk mengatasinya secara mudah adalah melalui pendidikan. Namun memecahkan persoalan pendidikan juga akan berhadapan dengan masalah lain, yaitu tatkala orang yang bersangkutan sudah berusia lanjut. Menyelesaikan persoalan kualitas SDM, ternyata juga masih kait mengait dengan persoalan lainnya lagi, yaitu misalnya menyangkut mental, kultur, dan atau budaya masyarakat yang bersangkutan. Memberi pengertian bahwa seseorang harus tahu ekonomi modern misalnya, maka ide bagus tersebut belum tentu segera dipahami dan juga diterima.

Begitu beratnya menyelesaikan persoalan kemiskinan yang disebabkan oleh pribadi yang bersangkutan, ternyata kesulitan itu masih akan ditambah lagi dengan sebab-sebab yang datang dari ekternal pribadi orang miskin itu sendiri. Faktor eksternal itu misalnya, kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada orang miskin, datangnya pesaing yang semakin banyak dan kuat, sistem eonomi yang menindas dan atau berifat kapitalistik, dan tentu masih banyak lagi lainnya. Menyangkut kebijakan misalnya, di tengah-tengah lautan masyarakat miskin itu, pemerintah membuat keputusan yang justru hanya menguntungkan pemilik modal dan atau orang yang sudah kaya. Sehingga yang terjadi adalah, orang miskin akan semakin miskin dan kesenjangan antara mereka akan semakin melebar.

Sebagai sebab kemiskinan lainnya di negeri ini, bukan saja penyimpangan birokrasi dengan apa yang disebut korupsi tetapi juga oleh karena kesalahan manajemen. SDM dan SDA tidak dimanfaatkan maksimal. Apa saja harus import, sehingga rakyat termanjakan. Ketidak mampuan pemerintah dalam bernegosiasi dan atau membatasi kekuatan asing dalam memanfaatkan sumber-sumber alam, maka menjadikan rakyat hanya sekedar menjadi penonton atas kekayaan tanah airnya sendiri. Atau, jika tidak menjadi penonton, mereka pergi ke luar negeri, untuk menjual tenaga dengan harga murah, demi memperoleh sesuap nasi.

Oleh karena itu, sebenarnya mengentaskan kemiskinan bukan perkara mudah. Apalagi misalnya, pemerintah hanya mampu mengambil jalan pintas untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek, namun sebenarnya mencelakakan masa depan. Maka, dalam kondisi seperti ini, yang diperlukan adalah gerakan pemahaman dan penyadaran atas kenyataan yang tidak menguntungkan itu. Kepada orang miskin harus ditanamkan pengertian, bahwa mereka adalah miskin dan selanjutnya ditumbuhkan kepercayaan dirinya, bahwa persoalan yang dihadapi itu masih bisa dihilangkan. Sedangkan kepada pemerintah, harus dipaksa agar mengambil kebijakan yang berpihak pada orang miskin.

Melalui usaha yang bersifat menyeluruh, terpadu, dan mendasar itu, maka persoalan kemiskinan akan bisa ditanggulangi. Upaya itu harus dilakukan secara bersama-sama, dengan melibatkan berbagai komponen tanpa terkecuali. Gerakan pengentasan kemiskinan juga harus dimaknai sebagai bagian penting dari upaya membangun harkat dan martabat bangsa. Oleh karena itu, semua komponen hares bersedia ikut serta untuk mengubah pola pikirnya, cara pandang terhadap bangsanya, dan juga cara bekerjanya. Dengan cara itu maka akan terjadi perubahan. Kemiskinan pun akan semakin berkurang dan bangsa ini. (uin-malang.ac.id)

BERITA TERKAIT

Mendorong Ekonomi Syariah jadi Pilar Ekonomi Nasional

    NERACA   Jakarta - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan Bambang Kusmiarso mengatakan, Indonesia yang mayoritas penduduknya…

Harian Ekonomi NERACA Genap 34 Tahun

Di bulan Agustus ini, tepatnya pada 18 Agustus 2019, Harian Ekonomi NERACA genap berusia 34 tahun. Meski di tengah maraknya…

BTN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) siap mendorong pertumbuhan ekonomi di Bengkulu agar bisa lebih maju lagi, salah satunya melalui…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Politik Pangan dan Kedaulatan Pangan di Hari Kemerdekaan

Oleh: Pril Huseno   Memaknai Hari Kemerdekaan RI ke 74 pada Sabtu (17/8), barangkali akan lebih berarti jika semua stakeholder bangsa ini…

Menghalau Langit Kelabu Jakarta

Oleh: Ahmad Safrudin, Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbel  Pencemaran udara telah menjadi bahaya laten karena tidak pernah surut setidaknya hampir…

74 Tahun Indonesia Merdeka: Kaum Milenial Harus Bijak di Era Digital

  Oleh : Irfan Nur Hidayat, Pengamat Komunikasi Massa   Saat ini Indonesia telah merdeka selama 74 tahun lamanya, semangat…