Produk EBA SP Harus Beri Imbal Kompetitif - Tingkatkan Minat Investor

NERACA

Jakarta –Pengembangan produk investasi pasar modal tersebut berkembang pesat, kali ini mulai marak produk instrument efek beragun asset surat partisipasi (EBA SP). Maka guna menarik investor, imbal hasil EBA SP dinilai haruslah kompetitif.

Kata Direktur Investasi PT Taspen, Irman Firmansyah, masih rendahnya imbal hasil produk EBA dibandingkan obligasi korprasi dinilai membuat dana pensiun dan BPJS belum banyak masuk ke produk tersebut, “Dari sisi komersial, selain keamanan dana, investor juga menginginkan tingkat hasil investasi yang kompetitif,”ujarnya di Jakarta, Selasa (10/2).

Untuk itu, menurut dia, sebagai produk baru, EBA SP harus diberikan insentif dan pemanis untuk menarik investor menempatkan dananya pada instrumen tersebut,”Kalau dilihat historisnya, imbal hasil produk EBA masih lebih rendah dari obligasi korporasi. Ini sebabnya, dana-dana pensiun dan BPJS belum banyak masuk ke produk tersebut,”paparnya.

Selain itu, lanjut Irman, penerbitan EBA SP diharapkan dapat disertai dengan jaminan pemerintah kendati nantinya imbal hasil akan semakin menurun karena adanya jaminan pemerintah. Taspen sendiri dalam mengambil kebijakan investasi menurut dia, berpegang pada empat poin yakni aman, likuid, hasil, dan fleksibilitas.

Adapun sesuai aturan, menurut dia, maksimum presentasi dana kelolaan THT (tunjangan hari tua/THT) yang ditempatkan perseroan pada instrumen efek beragun aset (EBA) sebesar 20% dan 10% maksimal per pihak/emiten/manajer investasi yang menerbitkan instrumen tersebut,”Tahun lalu presentase kami untuk EBA sekitar 1%. Tahun ini kami akan tingkatkan menjadi 3%,”ungkapnya.

Sementara Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo menambahkan, penerbitan Efek Beragun Aset Berbentuk Surat Partisipasi dalam rangka pembiyaan sekunder perumahan akan meningkatkan volume transaksi pasar modal,”Penerbitan EBA-SP merupakan wujud pendalaman pasar yang bisa mendukung volume transaksi pasar modal, sehingga likuiditas semakin kuat. Ini penting seiring semakin dangkalnya pasar modal yang sering begejolak," katanya.

Untuk menfasilitasi terwujudnya pasar modal yang dalam, maka partisipasi aktif pemangku kepentingan merupakan faktor utama. Setidaknya terdapat tiga faktor yang saling memengaruhi, yaitu sisi supply, demand, dan market,”Ada tiga sisi, supply side, demand side, dan market side. Penerbitan ini merupakan wujud dukungan supply dalam upaya penyediaan dana pembiayaan," imbuh Mardiasmo.

Begitu juga dengan EBA-SP yang bersifat jangka panjang bisa menarik permintaan pemodal domestik. Sebab itu, dana pensiun dan perusahaan asuransi dapat berperan aktif memanfaatkan EBA-SP,”Terakhir, EBA-SP bisa mewujudkan pasar modal sebagai market investasi yang attractive dan kondusif,”tandasnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Mandiri Investasi Bakal Terbitkan KIK- EBA

NERACA Jakarta – Sukses mengantarkan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) menerbitkan produk inovatif di sektor pasar modal Indonesia, yaitu…

Sumsel Ajak Investor Percepat Bangun KEK Tanjung Api-api

Sumsel Ajak Investor Percepat Bangun KEK Tanjung Api-api NERACA Palembang - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengajak investor untuk melakukan…

Terbitkan Produk KIK Dinfra - Jasa Marga Targetkan Dana Rp 1 Triliun

NERACA Jakarta –Besarnya kebutuhan modal PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dalam mendanai proyek jalan tol, mendorong perseroan untuk terus memanfaatkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Astrindo Raih Pendapatan US$ 27,16 Juta

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan pendapatan sebesar US$27,16 juta atau melesat…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Laba Betonjaya Melesat Tajam 144,59%

Di tahun 2018, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp27,81 miliar atau naik 144,59% dibandingkan periode…