Pasar Obligasi Mulai Bergerak Konsolidasi

NERACA

Jakarta - Laju pasar obligasi pada pekan ini diproyeksi masih akan mengalami konsolidasi karena sentimen di pasar yang kurang mendukung,”Laju pasar obligasi di pekan ini masih akan cenderung mengalami konsolidasi dengan memfaktorkan sentiment-sentimen yang ada," kata Kepala Riset PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, Senin (9/2).

Dia menuturkan, imbas dari kurang baiknya rilis Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun lalu dan aksi tunggu (wait and see) pelaku pasar pasca melihat belum adanya hasil positif dari kunjungan Perdana Menteri Yunani ke sejumlah negara-negara kreditur dapat mempengaruhi laju euro, sehingga akan berimbas pada laju rupiah,”Dengan demikian, jikapun ada pembalikan arah melemah maka kami harapkan tidak akan terlalu dalam pelemahannya," ujarnya.

Dia memperkirakan, laju harga obligasi akan bergerak dengan rentang sekitar 10 hingga 25 basis points (bps). Untuk itu, dia menyarankan, pelaku pasar tetap mencermati perubahan dan antisipasi sentimen yang ada.

Sementara pemerintah Indonesia akan kembali melakukan lelang penjualan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara pada Selasa (10/2). Seri-seri SBSN yang akan dilelang adalah SBSN berbasis proyek (project based sukuk), yaitu seri PBS006 (reopening), PBS007 (reopening) dan PBS008 (reopening). Selain itu, juga akan dilelang Sukuk Negara dengan seri SPN-S 11082015 (new issuance) untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2015.

Sebelumnya, Direktur Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), Wahyu Trenggono bilang, adanya sentiment global soal kebijakan stimulus keuangan bank sentral Eropa dan Jepang akan memacu penerbitan surat utang lebih marak lagi,”Adanya stimulus itu akan banyak uang beredar di pasar dan dapat meningkatkan 'demand' terhadap surat utang negara (SUN) ataupun obligasi korporasi. Dengan kondisi itu, baik pemerintah maupun korporasi jadi lebih mudah menerbitkan 'global bond,”ujarnya.

Dia menambahkan, stimulus itu juga akan mendorong permintaan surat utang meningkat, dengan demikian pemerintah maupun korporasi yang memiliki rencana untuk menerbitkan surat utang global tidak dituntut untuk memberikan imbal hasil (yield) yang tinggi.

Namun dirinya menuturkan, faktor yang perlu diperhatikan adalah fluktuasi nilai tukar rupiah. Jika fluktuasinya tidak stabil maka dapat mengurangi minat investor untuk menyerap surat utang yang diterbitkan,”Kalau nilai tukar kita terlalu volatile akan membuat investor asing rugi, yang penting pergerakannya masih bisa diprediksi pasar," katanya.

Wahyu Trenggono menegaskan, adanya stimulus dari bank sentral Eropa juga berdampak pada semakin meningkatnya investor asing yang menginvestasikan dananya di "emerging market", salah satunya di pasar SUN Indonesia. Tercatat dalam sepekan, kepemilikan asing naik sebesar Rp16,90 triliun menjadi Rp499,98 triliun per 29 Januari 2015.

Sementara institusi lain yang juga mencatatkan peningkatan kepemilikan obligasi Bank Indonesia yakni sebesar Rp11,76 triliun menjadi Rp35,98 triliun. Sebaliknya, kepemilikan obligasi oleh perbankan mencatakan penurunan sebesar Rp25,13 triliun dalam sepekan (26-30 Januari 2015). (bani)

BERITA TERKAIT

Gandeng Perusahaan Tiongkok - Kresna Berambisi Terdepan Garap Bisnis Starup

NERACA Jakarta-Sibuk membawa beberapa anak usahanya go public dan juga sukses mengembangkan bisnis digitalnya, PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN)…

Bangun Kompleks Petrokimia - Chandra Asri Petrochemical Dapat Tax Holiday

NERACA Jakarta – Sebagai komitmen patuh terhadap pajak, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) mendapatkan keringanan pajak atau tax holiday…

Ekspansi Bisnis di Kongo - 10 Perusahaan Indonesia Garap Proyek Strategis

NERACA Jakarta – Membidik potensi pasar luar negeri dalam pengembangan bisnisnya, The Sandi Group (TSG) Global Holdings bersama entitas bisnisnya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tambah Fasilitas Produksi Gas - Sale Raya Targetkan Dana IPO US$ 100 Juta

NERACA Jakarta — Menggeliatnya industri minyak dan tambang (migas) dimanfaatkan langsung PT Sele Raya untuk mencari permodalan di pasar modal…

Danai Belanja Modal - Smartfren Kantungi Pinjaman Rp 3,10 Triliun

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnisnya, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), melalui PT Smart Telecom meraih kredit dari China Development…

Selesaikan Lilitan Utang - MYRX Tawarkan Aset dan Konversi Saham

NERACA Jakarta – Menyampaikan itikad baik untuk melunasi utang akibat gagal bayar atas pinjaman individu, PT Hanson International Tbk (MYRX)…