Membekali Wawasan Berekonomi Bagi Para Santri - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Pada akhir-akhir ini, beberapa kyai bertemu membahas tentang usaha pengembangan ekonomi umat, termasuk ekonomi santri masa depan. Dalam hidup ini, persoalan ekonomi tidak boleh dianggap sepele. Posisi ekonomi dalam kehidupan ini sama halnya dengan bensin, solar, premium dan sejenisnya adalah sangat penting untuk menggerakkan mobil.

Sebagai sebuah mobil saja, tanpa bahan bakar, maka tidak bisa dijalankan. Uang atau harta seharusnya diumpamakan sebagai bahan bakar itu. Seseorang tanpa memiliki uang, sama halnya dengan kendaraan tanpa bahan bakar, tidak bisa bergerak. Maka para santri harus diajari cara memperoleh uang atau harta kekayaan, agar perjuangannya menegakkan ajaran Islam bisa dijalankan.

Akan tetapi, menurut kyai, bahan bakar itu harus diposisikan sebagai alat atau instrument, yaitu sekedar sebagai bahan bakar. Keberadaannya penting, tetapi bukan meriupakan tujuan. Tujuan hidup di dunia, atau di perjalanan menuju akherat bukan mencari bahan bakar, tetapi adalah agar perjalanan itu nyampai di tempat tujuan dan selamat. Tidak selayaknya, dalam perjalanan hidup itu, orang hanya sibuk mencari bekal, dan sebaliknya melupakan tujuan. Mereka tidak nyampai tujuan oleh karena bingung mengumpulkan bahan bakar secara berlebihan.

Demikian itulah kyai memposisikan harta kekayaan dalam perjalanan kehidupan ini. Keberadaan harta menjadi sangat penting, tetapi bukan menjadi tujuan. Boleh saja seseorang sibuk mencari harta, tetapi jangan sampai celaka hanya karena harta. Selain itu, juga boleh-boleh saja seseorang mencari harta sebanyak-banyaknya, agar bisa digunakan berjuang untuk agamanya, sepertimendirikan lembaga pendidikan Islam, membangun masjid atau dibagikan harta itu kepada orang lain yang tidak mampu. Dengan demikian, orang lain juga bisa mengambil manfaat dari harta yang dikumpulkan itu. Selain itu, mengumpulkan harta adalah untuk membangun kebersamaan, dan bukan sebaliknya, agar orang lain tidak kebagian.

Pada zaman dahulu, sebelum 50 tahun yang lalu, mencari uang atau harta sebagai bekal hidup adalah tidak sesulit sekarang. Seseorang asalkan punya tanah luas, perahu untuk menangkap ikan di laut, atau modal untuk berbisnis, maka sudah bisa mendapatkan uang untuk mencukupi hidupnya. Termasuk juga santri yang lulus dari pesantrennya, aslkan punya tanah dan modal akan bisa hidup dengan cara bertani, nelayan, berdagang, dan lain-lain, sekalipun yang bersangkutan tidak memiliki ilmu tentang itu. Hal yang sederhana itu, mereka bisa belajar secara alami kepada masyarakat di lingkungannya.

Keadaan tersebut sekarang ini sudah berubah. Sekedar untuk berdagang, bertani, dan menangkap ikan di laut, siapapun harus berbekal ilmu. Membuat benih saja, makanan ternak, merawat ikan di kolam, dan apalagi melaut untuk menangkap ikan, maka harus menggunakan mesin dan dikerjakan bersama-sama. Semua itu memerlukan ilmu dan ketrampilan. Oleh karena itu, mengembangkan ekonomi harus dengan ilmu pengetahuan. Tanpa ilmu bertani, beternak, berdagang, dan seterusnya, maka siapapun akan kalah bersaing dan bahkan akan tertinggal dari siapapun yang menyandang ilmu pengetahuan dan memiliki banyak pengalaman.

Atas dasar kenyataan tersebut, maka para santri sejak belajar di pesantren seharusnya dibekali dengan ilmu dan wawasan berekonomi. Dengan berbekalkan pengetahuan dan pengalaman itu, maka mereka akan memiliki kelebihan, sehingga akan ditokohkan, dan pada akhirnya akan mampu berdakwah dan atau menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat. Para lulusan pesantren tidak saja berlebvih dalam ilmu dan akhlak, tetapi juga kelebihan di bidang ekonomi. Para santri, setelah lulus dan pulang dari pesantren tidak menganggur, tetapi segera tampil menggerakkan masyarakatnya.

Para kyai zaman dahulu, sampai berhasil mendirikan pesantren dan ditokohkan oleh masyarakat adalah di antaranya memiliki kelebihan di bidang ekonomi. Para kyai adalah juga pemilik tanah atau kebun yang luas, toko, tambak, empang atau alat penangkap ikan di laut. Dengan kelebihannya itu, kyai tidak saja mengajar para santrinya, tetapi sekaligus juga menanggung kehidupannya. Pada zaman dahulu tidak ada kyai mendirikan pesantren dengan maksud untuk mencari popularitas dan apalagi harta kekayaan. Mereka mendirikan pesantren atau lembaga pendidikan lainnya hanya semata-mata untuk berjuang, memenuhi panggilan Allah.

Upaya untuk mengembangkan ekonomi di zaman sekarang ini adalah sangat sulit, tetapi sebenarnya tidak demikian itu bagi para santri. Disebut amat sulit oleh karena, ternyata tidak semua orang bisa menjalaninya dan apalagi sukses. Sebaliknya bagi santri, asalkan sungguh-sungguh, usaha itu tidak terlalu sulit dilakukan. Sebab para santri telah memiliki mental yang cocok untuk berwirausaha. Jiwa atau mental yang dimaksudkan itu di antaranya adalah kemandirian, kebersamaan, kesederhanaan, kemauan bekerja keras pada bidang apa saja, dan trampil dalam kepemimpinan.

Berbekalkan dengan kelebihan tersebut, sekedar untuk mengembangkan ekonomi, maka para santri tinggal menyempurnakan dengan kemampuan lainnya, misalnya cara memilih jenis usaha yang akan dikembangkan, memperoleh modal, mengenal tata cara mengembangkan usaha, menjalin komunikasi dengan pasar, kemampuan untuk memenangkan persaingan, dan beberapa kekuatan lain yang diperlukan. Manakala semua itu sudah dikuasai, dan ditambah dengan bekal berupa mental santri sebagaimana disebutkan di muka, maka berbagai kesulitan dalam mengembangkan ekonomi, insya Allah, akan bisa diatasi.

Kelebihan lain yang biasa dimiliki oleh para santri, adalah kesadaran bahwa keberhasilan dalam usaha apapun, tidak terkecuali usaha di bidang ekonomi , selalu lewat proses. Tidak akan mungkin seseorang langsung menjadi pemimpin, tokoh, pengusaha besar, dan sejenisnya tanpa melalui proses panjang. Untuk menjadi kyai, maka siapapun harus menjadi santri terlebih dahulu. Demikian pula, agar dipercaya menjadi imam shalat, khatip, dan penceramah, maka harus sanggup menjadi makmum, muadzin, dan bahkan harus mau merapikan tikar atau karpet di masjid. Kesadaran terhadap proses seperti itu biasanya telah dimiliki oleh para santri. Itulah sebabnya, memberi bekal berwirausaha kepada para santri tidak terlalu sulit, dan insya Allah bisa dijalankan hingga sukses. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

BERITA TERKAIT

Presiden Berwenang untuk Tidak Sahkan RUU Pertanahan - Guru Besar Hukum Unpad, Prof Ida Nurlinda

Presiden Berwenang untuk Tidak Sahkan RUU Pertanahan Guru Besar Hukum Unpad, Prof Ida Nurlinda NERACA Jakarta - Guru besar Hukum…

Kemendagri Dorong Penegakkan Hukum Bagi Kepala Daerah dan ASN Pelaku Korupsi

  NERACA   Jakarta - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) hingga kini terus mendorong Penegakkan Hukum Bagi Kepala Daerah dan ASN…

Takut Masuk Pasar Modal - Reksa Dana Pilihan Tepat Bagi Pemula

NERACA Jakarta – Beragamnya produk investasi di pasar modal hingga kemudahan serta modal awal investasi yang tidak terlalu besar, tentunya…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Wujudkan Cita-cita Bangsa dengan Kontribusi Pajak

  Oleh: Sarah Faizatun Nisa, Staf Ditjen Pajak Menginjak usia 74 tahun, Indonesia diharapkan menjadi negara yang semakin maju dan…

Hoax Bukan Budaya Indonesia

  Oleh : Rizal Adi Pradana, Pemerhati Komunikasi Masyarakat             Sebelum mengurai tentang konsep hoax, perlu dipahami terlebih dahulu tentang…

Stop Generalisasi Isu Papua, Masyarakat Diharapkan Bijak dalam Bersikap

  Oleh : Rahmat Siregar, Pengamat Sosial Politik    Demonstrasi berujung kericuhan terjadi di Manokwari dan Sorong, Papua Barat pada…