Harga Saham Produsen Bir Ikut Anjlok - Buntut Larangan Jualan

NERACA

Jakarta –Kebijakan Menteri Perdagangan soal larangan penjualan minuman beralkohol di mini market, direspon pro dan kontra dari pelaku usaha. Namun yang pasti, imbas kebijakan tersebut memberikan sentiment negatif terpada harga saham produsen minuman alcohol Anker Bir, seperti PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) yang terkoreksi sampai Rp 20.000 menjadi Rp 340.000. Sedangkan saham PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI), produsen Bir Bintang, turun Rp 375 menjadi Rp 11.525.

Kata analis pasar modal dari Woori Korindo Securities, Reza Priyambada, larangan penjualan bir di mini market menjadi sentimen negatif bagi para emitennya. Pasalnya, investor menilai akan ada penurunan penjualan,”Ada imbas negatif dari kebijakan tersebut,"ujarnya di Jakarta, Senin (2/2).

Namun, lanjut Reza, tekanan terhadap saham dua emiten tersebut kemungkinan hanya sementara. Dampak kebijakan pelarangan penjualan bir di minimarket terhadap penjualan baru benar-benar terlihat dalam laporan keuangan. Sementara Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta Kementerian Perdagangan mengkaji ulang larangan penjualan minuman keras dengan kadar alkohol di bawah 5% di toko-toko swalayan,”Larangan penjualan minuman beralkohol tersebut bisa merusak tata niaga perdagangan produk itu sendiri. Dan, kita melihat aturan itu harus dikaji ulang karena tata niaga perdagangan produk ini sudah transparan dan terukur," kata Wakil Sekjen Aprindo, Satria Hamid.

Pemerintah juga harus memberikan penjelasan yang lebih baik terhadap masyarakat terkait Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol.

Contoh lain di daerah pariwisata, seharusnya diberikan kelonggaran khusus karena marketnya di sana memang ada. Tidak mungkin ritel menjual, tapi demand-nya tidak ada. Kalau ada larangan malah akan menghambat iklim investasi. Sebab, banyak pemda yang meminta untuk menjual dan masyarakatnya memang ingin ada produk tersebut.

Selain itu, peritel telah berkomitmen akan memenuhi ketentuan Permendag No 20/M-DAG/PER/4/2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol, Pasal 15 dan Pasal 16 dalam Permendag tersebut.

Pertama, penempatan minuman beralkohol golongan A ditempatkan pada tempat khusus dan terpisah dengan produk lainnya dan diberi sticker/tanda batas usia pembeli 21 tahun atau lebih. Kedua, dalam meletakkan minuman beralkohol golongan A, konsumen tidak boleh lagi mengambil produknya sendiri melainkan melalui petugas. Ketiga, konsumen wajib menunjukkan KTP ketika melakukan transaksi pembelian minuman beralkohol. (bani)

BERITA TERKAIT

Laba Bersih Panin Sekuritas Anjlok 52,31%

NERACA Jakarta – Masih positifnya pertumbuhan industri pasar modal di tahun 2018, belum memberikan memberikan dampak terhadap performance kinerja keuangan…

Penjualan CPO Domestik Turun - Laba Bersih Wilmar Cahaya Anjlok 13,75%

NERACA Jakarta –Di tahun 2018, kinerja PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) pada 2018 kurang memuaskan karena laba bersih perseroan…

Dunia Usaha - Lindungi Produsen dan Konsumen, Diterbitkan SNI Wajib Pelumas

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 25 Tahun 2018 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Penetrasi Pasar Ritel Modern - CSAP Resmikan Mitra10 Ke-30 di Cirebon

NERACA Jakarta – Di kuartal pertama tahun ini, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) sukses membuka gerai bari Mitra10 ke-30…

PSAB Bukukan Laba Bersih US$ 15,29 Juta

Emiten pertambangan emas, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) mencatatkan laba bersih sepanjang tahun 2018 sebesar US$15,29 juta atau naik…

Saham IPO Wahana Interfood Oversubscribed

NERACA Jakarta - Debut perdana di pasar modal, saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) dibuka naik 69,7% ke level…