Ada Tren Kenaikan Transaksi Sekitar 5% - Dampak Penurunan Harga BBM

NERACA

Yogyakarta – Kebijakan pemerintah yang telah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kedua kalinya, disambut positif masyarakat dan termasuk pelaku pasar modal. Pasalnya, keputusan tersebut memberikan dampak sentiment positif terhadap laju pergerakan indeks Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kata Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, Irfan Noor Riza, kebijakan menurunkan harga bahan bakar minyak bersubsidi memberikan sentimen positif bagi pelaku pasar modal asing maupun domestik di daerah ini,”Kami perkirakan ada tren kenaikan transaksi sekitar 4-5% jika dibanding bulan sebelumnya Desember,”ujarnya di Yogyakarta, Selasa (20/1).

Seiring dengan prediksi kembali menguatnya daya beli masyarakat sebagai timbal balik menurunnya harga BBM, para investor kembali membeli saham, khususnya di sektor saham industri yang terkait langsung dengan penggunaan bahan bakar minyak.

Tren sentimen postif pasar modal yang terjadi di tingkat nasional, menurut Irfan juga diikuti oleh kondisi pasar modal lokal di DIY yang ditandai dengan semakin bertambahnya jumlah investor baru, serta meningkatnya jumlah transaksi pasar modal,”Padahal biasanya Januari masih sepi, karena banyak yang sudah menjual sahamnya (profit taking) untuk keperluan liburan akhir tahun pada Desember," kata dia.

Menurut Irfan, sentimen positif tersebut diperkirakan akan semakin menguat jika harga komoditas lainnya serta transportasi dapat mengikuti tren penurunan harga BBM. Data terakhir menunjukkan bahwa hingga akhir Desember 2014 jumlah investor di DIY sebanyak 10.167 orang, dengan transaksi mencapai Rp207 miliar, atau naik dari November yang masih sebanyak 9.783 orang.

Disebutkan, dengan jumlah investor baru yang cenderung terus meningkat, pihaknya optimistis mampu mengembangkan investasi pasar modal di DIY. Irfan menambahkan, guna mendorong terus bertambahnya peminat pasar modal di Yogyakarta, BEI DIY terus mengembangkan sosialisasi melalui pojok bursa yang kini terdapat di 15 perguruan tinggi negeri maupun swasta di DIY.

Sebelumnya, Kepala Riset dari Woori Korindo Securities, Reza Priyambada pernah bilang, sentimen dari rilis kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM hingga semen tidak terlalu memberikan sentiment positif. Bahkan laju Rupiah yang mengalami penguatan juga tidak direspon positif.

Sementara analis PT Monex Investindo, Zulfirman Basir mengatakan, penurunan harga BBM bisa meredakan kecemasan investor atas potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, kebijakan tersebut tidak cukup untuk mendorong rupiah terapresiasi.

Dia menjelaskan penurunan harga BBM, semen, dan elpiji juga berpotensi mempersulit upaya pemerintah memperbaiki defisit transaksi berjalan Indonesia yang selama ini jadi batu sandungan rupiah. Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kecemasan atas kinerja ekonomi mitra dagang terbesar RI, yaitu China.

China baru-baru ini mengumumkan penurunan harga rata-rata rumah baru di negara tersebut,”Ini membuat investor khawatir dengan outlook ekspor Indonesia ke Cina, mitra dagang utama Indonesia. Ini dapat membebani kinerja rupiah,” kata Zulfirman. (ant/bani)

Related posts