Pemerintah Dituntut Batasi Impor Furnitur dan Mebel - Produk Lokal Hanya Kuasai 60% Pasar Dalam Negeri

NERACA

Jakarta – Sekertaris Jenderal Asosiasi mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI), Abdul Sobur, mengatakan saat ini potensi pasar domestik produk furnitur dan mebel sekitar Rp 10 trilliun dalam setahun, dan naik setiap tahunnya sekitar 10%. Tapi saat ini potensi pasar ini hanya mampu digarap oleh produk dalam negeri sebesar 60% saja, sisanya potensi itu diambil oleh produk impor.

“Untuk itu, kami menuntut kepada pemerintah agar bisa membatasi produk impor furnitur dan mebel agar potensi lokal dapat semuanya diserap oleh produk dalam negeri. Jika memang mau mengambil semua potensi pasar dalam negeri, harus ada aturan pembatasan impor produk dari luar. Meski tidak bisa diambil semua minimal 75% bisa digarap oleh produk dalam negeri,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Senin (19/1).

Adapun batasan itu, sambung dia bisa memakai berbagai mekanisme kebijakan, bisa kebijakan langsung dengan melarang produk luar masuk, atau diberikan bea masuk yang tinggi, sehingga produk impor tidak masuk dengan mudah dan merajalela di pasar domestik. “Selama ini harga produk dari luar bisa lebih murah karena masuknya gampang, coba sedikit dipersulit sehingga tidak masuk, dan tentu akhirnya nanti harganya bisa kompetitif,” imbuhnya.

Karena apa, dengan potensi produk-produk dalam negeri saja, secara kualitas sudah tidak kalah dengan produk luar. Hanya saja peran harga biasnya membuat produk dalam negeri kalah bersaing dengan produk impor. “Cost produksi dalam negeri masih tinggi, makanya kadang kita kalah di harga, secara kualitas sama,” tegasnya.

Mengingat saat ini, lanjut dia lagi, produ furnitur dan mebel Indonesia juga sudah bersaing di pasar global baik di Amerika, Europa, maupun Asia, itu membuktikan produk lokal tidak kalah dengan produk negara lain. “Pasar kita sudah ke luar, makanya tinggal bagaimana kita memanfaatkan pasar dalam negeri agar mampu bisa kita take over semua,” sambungnya.

Potensi Pasar

Sedangkan untuk pasar global sendiri, menurut Sobur, saat ini potensi pasar global untuk produk furnitur dan mebel sekitar US$ 122 milliar, untuk pasar dan Indonesia baru mampu menggarap potensi pasar itu dikisaran US$ 1,9 milliar pertahunnya, pasar Amerika sebesar US$ 900 juta, Eropa US$ 600 juta, dan sisanya pasar Asia.

Sedangkan pada lima tahun mendatang bertahap diharapkan mampu menggarap pasar global menjadi US$ 5 milliar pertahun. “Memang melihat potensi pasar global sangat tinggi, tapi kita baru mampu menggarap pasar itu sebesar US$ 1,9 milliar pada tahun 2015 ini,” ungkapnya.

Ketidak mampuan menggarap pasar itu diantaranya adalah karena Sumber Daya Manusia (SDM) , pemahan akan pasar di luar negeri yang menjadi hambatan kita belum mampu menggarap pasar yang masih terbuka lebar itu. “Pasar memang sangat tinggi, tapi masih terdapat hambatan dalam negeri yang harus diselesaikan,” terangnya.

Untuk itu, pentingnya mendorong kemampuan dari SDM, dan pengembangan pasar bisa dipahami oleh para pengusaha furnitur dan mebel dalam negeri. “Saat ini anggota dari AMKRI ada 2 ribu, 70%nya IKM, yang secara kemampuan SDM dan pasarnya masih minim, butuh pelatihan dan memberikan arahan kepada mereka,” ucapnya.

Gelar Pelatihan

Oleh karena saat ini, AMKRI bekerjasama dengan CBI (Centre for Promotion of Impor from Development Countries) menggelar pelatihan untuk para IKM yang bergerak di bidang furnitur dan mebel. “Saat ini kami (AMKRI) bekerjasama dengan CBI untuk memberikan pelatihan kepada para pelaku usaha furnitur dan mebel untuk bisa memahami pasar dunia,” katanya.

Dalam pelatihan-pelatihan inilah diharapkan mampu melahirkan pertama, saling kerjasama dalam upaya mengembangkan dan memperkuat furnitur dan kerajinan Indonesia pada umumnya dan meningkatkan ekspor ke pasar Uni Eropa pada khususnya.

Kedua, melaksanakan rangkaian kegiatan yang berada dalam cakupan layanan CBI yang meliputi pembinaan ekspor, pengembangan kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia. Ketiga, secara bersama-sama dan kesetaraan saling mengeksplorasi dan mengatur segala bentuk kerjasama yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi para pelaku usaha mebel dan kerajinan nasional.

“Memang saat ini hanya mengikutkan 50 peserta, nantinya hasil dalam pelatihan ini akan dibawa ke daerah-daerah agar bisa dipahami dan diserap oleh seluruh pengusaha di daerah,” tuturnya.

Related posts