Saham Sektor Semen Terkerek Anjlok - Reaksi Harga Semen Turun

NERACA

Jakarta – Pengumuman penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan harga semen sebesar Rp 3000 per sak yang disampaikan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka akhir pekan kemarin, tidak selamanya direspon positif pelaku pasar. Namun ada juga merespon negatif, lantaran dampaknya terhadap penurunan harga saham, seperti yang dialami PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang terkoreksi tajam.

Pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin, harga saham PT Semen Indonesia Tbk langsung merosot 6,48% atau turun Rp1.050 per lembar saham menjadi Rp15.150 per saham. Padahal, saat dibuka pada perdagangan, saham Semen Indonesia menguat di level Rp16.275 per saham. Adapun saham perseroan sempat menyentuh level Rp16.200 per saham. Frekuensi saham yang tercatat pun sebanyak 5.629.

Selain itu, usai pengumuman penurunan harga semen, volume transaksi perdagangan SMGR tercatat sebanyak 32.406.300 saham senilai Rp515,07 miliar. Sekadar informasi, harga semen yang diproduksi oleh BUMN semen saat ini berada di kisaran Rp60.000-an sampai Rp80.000-an per sak.

Tahun ini, perseroan mengalokasikan dana belanja modal senilai Rp 6 triliun. Dimana belanja modal tersebut akan digunakan untuk pembangunan pabrik di Rembang dan Indarung. Corporate Secretary PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Agung Wiharto mengatakan, sebagian besar belanja modal digunakan untuk mengamankan pasokan semen nasional yang diperkirakan mengalami kenaikan,”Sebagian besar dari dana capex tersebut dipergunakan membiayai ekspansi mesin baru di Padang dan Rembang untuk mengamankan pasokan semen nasional tahun 2015,”ujarnya.

Menurut Agung, pertumbuhan konsumsi semen nasional pada tahun ini diproyeksi akan lebih baik, setelah mengalami perlambatan pada tahun lalu. Pertumbuhan konsumsi semen nasional tahun 2015 diperkirakan mencapai 5-6% lebih tinggi dibanding tahun 2014 sebesar 3,5%.

Asal tahu saja, koreksi saham akibat dampak penurunan harga ssemen tidak hanya dialami Semen Indonesia, tetapi juga terjadi pada harga saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) terpuruk 10,26% atau setara Rp2.550 ke level Rp22.300 per lembar saham. Diawal perdagangan, saham INTP sempat menguat di level Rp24.850 per saham. Volume transaksi saham tercatat sebanyak 17.850.100 senilai Rp418,34 miliar dengan frekuensi sebanyak 6.011.

Sedangkan saham PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) juga melemah tipis sebesar Rp30 per lembar saham atau setara 1,44 persen ke posisi Rp2.050. Pagi tadi, saham SMCB sempat kokoh berada di level Rp2.080 per saham. Volume transaksi saham SMCB tercatat sebanyak 14.621.800 dengan nilai sebesar Rp30,72 miliar dengan frekuensi sebanyak 1.706.

Sekadar informasi, harga semen yang diproduksi oleh BUMN semen saat ini berada di kisaran Rp60.000-an sampai Rp80.000-an per sak. Jokowi memberlakukan harga baru premium, solar, dan semen pada tiga hari mendatang, yakni Senin dini hari pukul 00.00 WIB pada 19 Januari 2015. (bani)

BERITA TERKAIT

KPK Beri Perhatian Khusus Korupsi Sektor Pangan

KPK Beri Perhatian Khusus Korupsi Sektor Pangan NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberikan perhatian serius pada potensi korupsi…

Akademisi: 'Permainan' Pedagang Atas Lonjakan Harga Telur

NERACA Jakarta - Penyebab melonjaknya harga bahan pangan, seperti telur ayam yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dapat terjadi…

Tak Ikut Danai Akuisisi Saham Freeport, Kemana Peran Bank BUMN?

Oleh: Rezkiana Nisaputra Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) sudah memastikan, bahwa empat bank pelat merah tidak akan ikut membiayai proses…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BRPT Siapkan Belanja Modal US$ 1,19 Miliar

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pabrik petrokimia sebesar 900 ribu ton menjadi 4,2 juta ton per tahun, PT Barito Pacific…

Gandeng Binar Academy - Telkomsel Edukasi Digital Anak Muda di Timur

NERACA Jakarta - Dalam rangka pemerataan dan menggejot partisipasi anak muda di kawasan Timur Indonesia dalam kompetisi The NextDev, Telkomsel…

Juli, Fast Food Baru Buka 6 Gerai Baru

Ekspansi bisnis PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dalam membuka gerai baru terus agresif. Tercatat hingga Juli 2018, emiten restoran…