Kemenperin Ingin Industri Jamu Lebih Bersaing - Jadi Salah Satu Sektor Strategis

NERACA

Jakarta – Industri jamu merupakan salah satu sektor strategis yang mampu menggerakkan roda perekonomian nasional. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif agar dunia usaha tetap melakukan investasinya di Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing yang tinggi sehingga industri jamu dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam sambutannya pada acara Minum Jamu Bersama Dalam Rangka Mencintai Industri Jamu Nasional di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat, akhir pekan lalu.

Pada acara tersebut, dihadiri para Menteri Kabinet Kerja, diantaranya Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Ketenagakerjaan Muh. Hanif Dhakiri para isteri Menteri Kabinet Kerja, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Tradisional Berbasis Budaya Putri K. Wardani, dan Ketua Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Charles Saerang.

Menperin menegaskan, acara minum jamu bersama merupakan agenda setiap instansi pemerintah dalam rangka memperkenalkan, mendorong dan menumbuhkan kecintaan masyarakat termasuk generasi muda terhadap produk jamu sebagai warisan budaya nasional. “Untuk lebih memasyarakatkan minum jamu, tidak hanya di acara ceremonial tertentu, mulai saat ini setiap tamu Menperin akan disuguhi minuman jamu. Saat ini, jamu telah diproduksi dalam bentuk yang lebih bervariasi baik dari segi kemasan maupun rasa sehingga kesan pahit pada jamu sudah mulai tergantikan dengan beraneka rasa yang lebih disukai masyarakat pada umumnya”.

Kemenperin mencatat, industri jamu terus menunjukkan prestasi yang menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut terlihat dari omzet yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014, penjualan mencapai Rp. 15 Trilyun dan pada tahun 2015 diperkirakan mencapai Rp. 20 Trilyun. Saat ini, terdapat 1.160 industri jamu yang terdiri dari 16 industri skala besar dan 1.144 industri skala kecil dan menengah yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia terutama di Pulau Jawa.

Hingga saat ini, industri jamu mampu menyerap 15 Juta tenaga kerja, dimana 3 Juta terserap di industri jamu yang berfungsi sebagai obat dan 12 Juta lainnya terserap di industri jamu yang telah berkembang ke arah makanan, minuman, kosmetik, spa, dan aromaterapi.

Namun demikian, Menperin mengatakan, industri jamu nasional mendapat tantangan dengan beredarnya produk jamu ilegal. Jamu ilegal tersebut mengandung bahan baku obat atau bahan kimia yang dilarang, tidak memiliki izin edar, dan bahkan banyak yang tidak memiliki Izin Usaha Industri. Keberadaan produk jamu tersebut selain meresahkan masyarakat karena kualitas yang tidak memenuhi standar kesehatan juga perbedaan harga dan kualitas akan menimbulkan kompetisi yang tidak sehat dengan jamu yang legal dan terjamin kualitasnya.

”Hal ini perlu menjadi perhatian dari industri jamu Indonesia mengingat pada tahun 2015 kita akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Industri jamu harus mampu meningkatkan daya saing dengan meningkatkan kreativitas dalam pengembangan dan inovasi produk yang mengikuti perkembangan zaman,” tegas Menperin.

Pemerintah menyadari bahwa pembinaan industri jamu merupakan kerjasama lintas sektoral yang saling terintegrasi. Dalam pembinaannya, selain pemenuhan terhadap regulasi dari sisi kesehatan juga diperlukan fasilitasi atau pembinaan untuk menjamin standar dan kualitas produk.

Menperin mengharapkan, acara Minum Jamu Bersama di Kementerian Perindustrian dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan industri jamu sehingga menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mampu bersaing di pasar global.

Related posts