Buruknya Infrastruktur Jadi Perhatian Investor - Di Indonesia

NERACA

Investor asing beranggapan makro ekonomi Indonesia masih cukup baik dalam menahan gejolak krisis karena tiga faktor, mayoritas masyarakat berusia muda, ekonomi kelas menengah yang terus tumbuh, dan faktor sumber daya alam.

Meski demikian faktor pembangunan infrastruktur Indonesia menjadi fokus perhatian yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk menjamin arus modal asing kembali masuk dan bertahan di Indonesia dalam jangka waktu lama.

"Kami biasa melakukan non deal roadshow sebanyak dua kali dengan menggunakan buku laporan keuangan tengah tahunan dan akhir tahunan untuk menyampaikan perkembangan BNI kepada pemegang saham kami. Hampir 70% kita berbicara tentang makro ekonomi indonesia dan pembicaraan mengenai BNI hanya 30%," jelas Gatot.

Artinya, lanjut Gatot, perhatian investor lebih fokus ke faktor ekonomi Indonesia di mana lebih ditujukan ke transaksi berjalan Indonesia dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Menurut mereka, selama ini pasar Indonesia memang lebih banyak diuntungkan dengan kondisi domestik.

Meski demikian, investor juga mengamati bahwa pemerintah perlu memaksimalkan pembangunan infrastruktur. Program Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sampai dengan 2025 mendatang harus dijalankan secara konsisten di semua koridor agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih baik lagi.

Untuk mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Indonesia sangat memerlukan jalan, jembatan, pembangkit listrik dan pelabuhan baru. Sengketa tanah seperti yang terjadi di Jakarta Barat tersebut, dan masalah-masalah lain seperti korupsi, membuat pembangunan infrastruktur merupakan proses yang panjang dan memakan biaya tinggi.

Investasi melonjak pada dua tahun terakhir di tengah banyaknya permintaan dari Tiongkok untuk batu bara, minyak kelapa sawit dan karet, serta tingginya belanja konsumen di seluruh Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi 6 persen atau 7 persen itu baik, tapi dapatkah ia tumbuh ke tahap berikutnya menjadi 8 atau 9 persen seperti yang diinginkan pemerintah?” ujar Gareth Leather, ahli ekonomi kapital dengan spesialisasi Asia.

“Masalah utamanya adalah lingkungan bisnis masih tidak kondusif terhadap kondisi-kondisi yang diperlukan supaya ekonomi tumbuh ke level tersebut.”

Tantangan-tantangan infrastruktur yang dihadapi Indonesia menjadi jelas jika bepergian ke seluruh negeri: Jalan layang antara kota-kota besar memotong pasar-pasar dengan pedagang yang tumpah ruah ke jalan, menyebabkan kemacetan. Buah lokal seringkali lebih mahal daripada buah impor dari Tiongkok karena biaya tinggi untuk mengirimnya dari Jakarta ke daerah. Harga semen di luar Jawa 10 kali lipat dari Jakarta setelah melewati sistem pelabuhan yang kuno.

Related posts